BREBES — Menghadapi ancaman cuaca ekstrem — mulai dari sisa kekeringan dampak El Nino hingga potensi banjir saat musim hujan tiba. Pemerintah Kabupaten Brebes melalui DPSDAPR Kabupaten Brebes menggelar Sidang Komisi Irigasi ke-2 di Grand Dian Hotel Brebes, Rabu (7/10/2026). Langkah ini menjadi tonggak penyusunan pedoman resmi tata tanam sekaligus percepatan kesiapan jaringan irigasi di seluruh wilayah.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari sidang pertama yang telah berlangsung pada Juni lalu. Sebelum pertemuan inti, rapat pra-Komisi Irigasi telah dilaksanakan untuk merumuskan rencana tata tanam serta ketersediaan air baku bersama seluruh pemangku kepentingan.
Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (DPSDAPR) Kabupaten Brebes, Moh. Zuhdan Fanani, S.H., usai kegiatan menyampaikan bahwa dalam sidang kali ini para anggota komisi memaparkan kondisi nyata sistem irigasi di wilayah masing-masing. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar kolaborasi untuk peningkatan kapasitas jaringan maupun pengelolaan persediaan air.
“Informasi dari lapangan kami rangkum menjadi langkah nyata — baik pembenahan saluran maupun pengaturan jadwal tanam yang disesuaikan dengan ketersediaan air,” ujar Zuhdan.
Sidang juga menghadirkan narasumber dari Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Tegal yang memaparkan prediksi cuaca dan curah hujan wilayah Brebes, periode Oktober 2026 hingga awal tahun 2027. Data ini krusial agar petani dapat mengantisipasi dua potensi ekstrem sekaligus: kekeringan sisa El Nino dan banjir saat musim hujan tiba.
Berdasarkan pemaparan BMKG, pola masuknya musim hujan di Brebes tidak serentak:
• Wilayah Utara & Tengah: Awal musim hujan diperkirakan Desember 2026
• Wilayah Selatan & Tenggara: Musim hujan mulai masuk lebih awal, yakni November 2026
“Peta waktu ini akan kami turunkan langsung ke lapangan agar petani dapat menyesuaikan jadwal tanam. Rencana tata tanam yang telah disusun akan diajukan kepada Pimpinan Daerah untuk ditetapkan sebagai pedoman resmi,” tegasnya.
Sejalan dengan penyusunan jadwal tanam, DPSDAPR mempercepat normalisasi jaringan irigasi. Dengan anggaran yang tersedia, pembenahan dilakukan menyeluruh berkat kerja sama dengan BBWS Pemali Juana serta PSDA Pemali–Comal. Titik kritis yang diprioritaskan meliputi Wanasari, Bulakamba, Sawojajar, Bulusari, Rancawuluh, hingga Cimohong.
Saat ini, enam unit alat berat ditempatkan di enam ruas utama. Khusus di saluran Kalor dan Krasak, dikerahkan empat alat berat sekaligus agar pengerukan berjalan cepat dan tuntas.
“Kami pastikan saluran irigasi berfungsi optimal saat air turun, sekaligus mencegah luapan yang dapat memicu banjir. Harapan kami, air mengalir lancar dan memberi manfaat sepenuhnya bagi seluruh petani di Brebes,” pungkas Zuhdan.














