Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Aceh  

Perempuan Sabang Olah Daun Jadi Cendera Mata Bernilai Tinggi: Kisah Sukses Ecoprint

WhatsApp Image 2025 11 06 at 10.30.26
Ketua IPEMI Sabang, Erna Vivilinda, menunjukkan hasil karya Ecoprint berbahan daun alami. Produk kreatif ini menjadi simbol pemberdayaan ekonomi perempuan di Pulau Weh. (Foto: hariandaerah.com/H).

SABANG — Kreativitas perempuan Sabang kembali menunjukkan kiprahnya dalam menggerakkan ekonomi lokal. Sekelompok pengrajin perempuan yang tergabung dalam Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang sukses mengembangkan Ecoprint, kerajinan berbasis lingkungan yang memanfaatkan daun dan bahan alami untuk menciptakan motif unik di atas kain.

Empat tahun sejak berdiri, Ecoprint Sabang kini tumbuh menjadi salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Kota Sabang. Sedikitnya 15 pengrajin aktif kini telah mandiri memproduksi berbagai karya bernilai estetika tinggi, mulai dari tas, baju, syal, hingga gorden, semuanya bermotif daun asli yang diproses tanpa bahan kimia.

Ketua IPEMI Sabang, Erna Vivilinda, mengatakan bahwa ide awal Ecoprint lahir dari semangat berkarya di tengah keterbatasan saat pandemi Covid-19 tahun 2021.

“Kami ingin membuat sesuatu yang bisa dikerjakan dari rumah saat masa pandemi. Ecoprint ini ramah lingkungan, semua pewarnaan kami gunakan dari bahan alami, tanpa campuran bahan kimia,” ujar Erna kepada hariandaerah.com, Rabu (5/11/2025).

WhatsApp Image 2025 11 06 at 10.29.23
Para pengrajin perempuan anggota IPEMI Sabang tengah membuat kain Ecoprint menggunakan daun alami di dapur produksi mereka. Karya ramah lingkungan ini kini menjadi oleh-oleh khas Sabang yang diminati wisatawan. (Foto: hariandaerah.com/H).

Ecoprint merupakan teknik pewarnaan alami yang berasal dari Australia dan kini berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam prosesnya, setiap lembar kain melewati tahapan panjang, mulai dari pencucian, perendaman dengan tawas (mordanting), penataan daun di atas kain, pewarnaan, pengukusan selama dua jam, hingga pengeringan dan fiksasi warna selama tiga hari agar motif lebih tajam dan tahan lama.

BACA JUGA:  Dosen UTU Berdayakan KWT Sejahtera Melalui Pelatihan Pemasaran Produk Minaponik

“Pembuatan satu kain bisa memakan waktu hingga empat hari. Tapi hasilnya selalu unik — tak ada dua motif yang sama,” jelas Erna dengan bangga.

Selain menghasilkan karya seni bernilai tinggi, Ecoprint Sabang juga berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Limbah daun sisa pewarnaan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk alami, menegaskan bahwa setiap langkah produksi mengedepankan prinsip ramah lingkungan.

Dalam perjalanannya, Ecoprint Sabang mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, yang menyalurkan bantuan peralatan produksi modern seperti kukusan besar berkapasitas 25 kain, tempat penyimpanan daun segar, kompor, serta dandang pewarnaan.

“Bantuan dari BI sangat membantu kami. Produksi jadi lebih cepat dan efisien,” tutur Erna.

Dengan peralatan baru tersebut, kapasitas produksi meningkat signifikan dan pendapatan pengrajin pun bertambah. Kini, Ecoprint Sabang mampu meraup omzet lebih dari Rp100 juta per tahun, menjadikannya contoh nyata pemberdayaan ekonomi perempuan di sektor industri kreatif.

Menariknya, keindahan motif alami Ecoprint Sabang justru banyak menarik perhatian wisatawan asal Malaysia yang berkunjung ke Pulau Weh. Mereka menilai keaslian dan filosofi motif daun pada kain Ecoprint sebagai bentuk seni yang otentik dan elegan.

BACA JUGA:  Beruang Bermoncong Putih Resahkan Warga Ie Lhob

Produk Ecoprint Sabang dijual dengan harga mulai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per item, tergolong terjangkau untuk karya handmade berbahan alami. Produk-produk tersebut kini bisa ditemukan di beberapa lokasi wisata seperti Mata Ie Resort, Taman Wisata Putro Ijo, serta dipasarkan melalui platform daring dan media sosial.

Meski telah berkembang pesat, para pengrajin Ecoprint Sabang masih menghadapi tantangan dalam hal permodalan dan perluasan pasar. Namun, semangat para perempuan pengrajin ini tidak surut.

“Harapan kami, Ecoprint bisa menjadi ikon baru oleh-oleh Sabang — produk lokal yang ramah lingkungan dan berkelas internasional,” pungkas Erna.

Dengan kreativitas, ketekunan, dan dukungan lintas lembaga, Ecoprint Sabang kini bukan sekadar karya seni, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi kreatif perempuan Aceh yang memadukan kearifan lokal dan kepedulian terhadap alam.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *