Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Daerah  

Ketika Kehormatan Diuji, Para Purnawirawan Bicara

11
Ilustrasi

OlehAlifa Husna Aulia

Pernyataan kontroversial Rosario de Marshal, atau yang lebih dikenal sebagai Hercules, yang  menyebut Letjen TNI (Purn) Sutiyoso sebagai “mulut bau tanah” langsung memicu gelombang  kemarahan dari para purnawirawan TNI. Kalimat yang terdengar sepele itu ternyata menyentuh  titik paling sensitif dalam kultur militer: kehormatan.

Bagi masyarakat sipil, reaksi para mantan prajurit ini mungkin terasa berlebihan. Namun dalam  dunia militer, kehormatan bukan sekadar simbol atau gelar ia adalah prinsip yang diwariskan,  dijunjung tinggi, dan dijaga bahkan setelah masa dinas berakhir. Maka tak mengherankan  ketika seorang purnawirawan berkata, “Langkahi dulu mayat kami sebelum kau hina jenderal  kami.” Itu bukan sekadar retorika, melainkan pernyataan prinsipil.

Sebuah video yang menampilkan purnawirawan dari Sumatera Utara viral di media sosial.  Dalam video tersebut, tampak emosi yang meluap, suara tinggi, ekspresi tegas, dan kata-kata  keras. Semua itu menunjukkan bahwa menurut mereka, garis merah telah dilanggar.

Kemarahan ini bukan sekadar soal personal antara Hercules dan Sutiyoso. Ini adalah persoalan  harga diri kolektif dari sebuah institusi yang telah lama menjadi pilar pertahanan negara. TNI  bukan sekadar tempat bekerja, tapi menjadi identitas, rumah, dan kebanggaan. Para  purnawirawan mungkin telah melepas seragam, tetapi nilai-nilai militer tetap tertanam kuat  dalam diri mereka.

Hercules sendiri dulunya dikenal sebagai TBO (Tamtama Bawahan Operasional), yang berada  dalam lingkaran pelindung militer. Maka saat ia melontarkan penghinaan terhadap seorang  jenderal yang pernah menjadi simbol pengabdian, itu dianggap bukan hanya menyerang satu  orang, melainkan merusak fondasi kehormatan yang dibangun dengan darah dan pengorbanan.

BACA JUGA:  Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Raih Penghargaan Best Paper di Konferensi Internasional

Dalam Islam, penghormatan terhadap jasa, guru, dan asal-usul memiliki dasar yang kuat.  Dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia  dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar  (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak  diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ilmu, kesadaran akan asal-usul, dan sikap hormat terhadap  pihak yang telah membimbing kita. Dalam konteks ini, menurut para purnawirawan, Hercules  telah mengabaikan nilai-nilai dasar tersebut.

Selain itu, dalam Surah Al-Hujurat ayat 9–10, Allah SWT memerintahkan:

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Artinya: “Jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara  keduanya. Jika yang satu melanggar terhadap yang lain, maka perangilah yang melanggar itu  sampai ia kembali kepada perintah Allah. Jika ia telah kembali, damaikanlah antara keduanya  dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya  orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan  bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 9–10)

BACA JUGA:  Tegal Selatan Menguning Puluhan Ribu Manusia Tumpah Ruah di HUT Ke 60 Partai Golkar

Ayat ini menekankan pentingnya perdamaian, keadilan, dan persaudaraan. Namun juga  menegaskan bahwa menghadapi kezaliman adalah bagian dari menjaga nilai tersebut. Maka  dalam pandangan banyak purnawirawan, hinaan Hercules merupakan bentuk kezaliman verbal  yang menodai kehormatan korps.

Meski sebagian menyerukan maaf, banyak pula yang menilai bahwa maaf tanpa  pertanggungjawaban tidak cukup. Pengampunan memerlukan kesadaran, niat memperbaiki,  dan penghormatan terhadap pihak yang telah dilukai.

Kasus ini harus menjadi momentum refleksi nasional. Bagi masyarakat umum, ini pelajaran  bahwa menghormati para pejuang bukanlah pilihan, tetapi kewajiban moral. Bagi militer, ini  pengingat untuk tetap menjaga marwah secara konstitusional dan elegan.

Dan bagi Hercules, ini mungkin saatnya menundukkan kepala dan kembali belajar satu  pelajaran lama: bahwa kehormatan tak diukur dari suara keras atau nama besar, melainkan dari  seberapa besar kita bisa menghargai jasa dan menjaga lisan.

Para purnawirawan mungkin telah menanggalkan seragam, namun jiwa kesatria mereka tak  pernah usang. Dan bila kehormatan kembali diuji, mereka siap berdiri. Bahkan sampai titik  darah terakhir.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *