Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

FGD Penelitian Fundamental Reguler, Tim: Upaya Merajut Adat dan Ilmu di Aceh Tamiang

IMG 20240831 225850
Tim Peneliti Unsam dan tim mitra dari UN Semarang bersama Ketua MAA, Penghulu Adat MABMETA dan Pimpinan Dinas di Aceh Tamiang serta perwakilan mahasiswa dan tamu undangan lainnya saat foto dalam FGD pengumpulan data penelitian fundamental reguler. (Foto:hariandaerah.com/Sukma)

ACEH TAMIANG – Dalam upaya merajut Adat dan Ilmu, Universitas Samudra bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengumpulan data penelitian fundamental reguler di Aceh Tamiang, Sabtu (31/08/2024).

Acara yang digelar di Aula Pucok Suloh, sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Tamiang pada 29 Agustus 2024 ini dilaksanakan oleh Tim Peneliti dengan Ketua Dr. Mufti Riyani S.Pd M.Pd bersama anggotanya, Rapita Aprila S.Pd M.Pd dan Dr. Indriaty S.Pd M.Pd yang bermitra dengan Prof. Dr. Wasino M.Hum, dan Ferani Mulianingsih S.Pd M.Pd dari Universitas Negeri Semarang.

Ketua tim, Dr. Mufti Riyani S.Pd M.Pd dalam kesempatan itu menyampaikan, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana memori kolektif masyarakat dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat kesadaran iklim.

“Kami percaya bahwa sejarah lingkungan dan ekologi budaya yang tertanam dalam memori kolektif masyarakat Aceh Tamiang dapat menjadi landasan kuat untuk mengembangkan program-program kesadaran iklim yang lebih efektif dan sesuai dengan nilai-nilai lokal,” ucapnya

IMG 20240831 230802
Ketua tim peneliti, Dr. Mufti Riyani SPd MPd didampingin rekannya memberikan materi dalam FGD penelitian yang berjudul “Memori Kolektif: Green History dan Ekologi Budaya untuk Penguatan Kesadaran Iklim”, di aula MAA Aceh Tamiang, Kamis (29/08/2024).

Ia mengatakan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya penguatan kesadaran iklim di kalangan masyarakat, dengan mengedepankan nilai-nilai adat dan sejarah lokal sebagai landasan untuk membangun program-program yang relevan dan berkelanjutan.

“Kegiatan FGD ini juga dapat menghasilkan berbagai pandangan dan masukan yang akan menjadi bagian integral dari penelitian,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Pj Bupati Aceh Tamiang Pimpin Upacara Peringatan HAB Kemenag RI ke-79

“Partisipasi aktif hadirin, terutama dari instansi dan komunitas adat, menunjukkan bahwa isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan merupakan perhatian bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor,” ungkap Dr. Mufti didepan peserta FGD.

Profesor Dr. Wasino M.Hum dari Universitas Negeri Semarang menambahkan bahwa memori kolektif memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan.

“Memori kolektif tidak hanya mengingatkan kita pada masa lalu, tetapi juga membimbing kita dalam membuat keputusan untuk masa depan,” sebutnya.

“Dalam konteks ini, ekologi budaya dapat menjadi kunci untuk membangun kesadaran iklim yang berkelanjutan,” jelas Prof. Wasino.

Sementara itu, Ketua MAA Tamiang Drs. Djuned Thahir menyampaikan pentingnya filosofi “sebedik adat” yang dipegang teguh oleh masyarakat Tamiang, yaitu “Sebedik adat dengan Syara’, Adat dipangku, Syara’ dijunjung, resam dijalin, Qanun di Ator”.

“Duduk Setikar mengajarkan kepada kita bahwa adat dan ajaran Islam tidak dapat dipisahkan, “Keduanya adalah satu kesatuan yang saling menguatkan, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga alam hal ini dapat digali dari berbagai ayat Al-Qur’an,” ujarnya.

Ada salah satu petuah nenek moyang yang disampaikan oleh Ketua MAA, yaitu “engko tanamlah manye saje yang bermanfaat untuk anal cucumu kale”.

“petuah ini mengandung makna mendalam yang relevan dalam konteks perubahan iklim saat ini, di mana generasi muda harus menyadari bahwa alam merupakan warisan yang harus dijaga demi kelangsungan hidup di masa depan,” terang Drs. Djuned Thahir.

BACA JUGA:  Langgar Kode Etik, Ketua KIP Aceh Tamiang Dipecat DKPP

Dilain pihak, Penghulu Adat dari Majelis Adat Budaya Melayu Tamiang (MABMETA), Muntasir Wandiman menyoroti peran sentral struktur adat dalam pengelolaan ekosistem alam.

“Datuk Mukim bersama para Datuk penghulu dapat menghidupkan perilaku dan prosesi adat yang berbasis masyarakat,” tandasnya.

Sedangkan, Kabid Kebudayaan dari Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan bahwa upaya mengintegrasikan kearifan lokal telah dilakukan melalui kurikulum Adat Budaya Tamiang.

“Namun, memori kolektif terkait green histori dan ekologi budaya di Aceh Tamiang dapat disesuaikan dengan capaian pembelajaran yang baru dan dikembangkan sebagai bahan ajar penguatan kesadaran Iklim. Oleh sebab itu, kami menanti hasil dan siap berkolaborasi dalam diseminasinya,” kata Kabid Disdikbud.

FGD Penelitian dengan judul “Memori Kolektif: Green History dan Ekologi Budaya untuk Penguatan Kesadaran Iklim” dihadiri berbagai tokoh dan perwakilan penting, termasuk perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan, Forum Konservasi Leuser serta para datuk mukim dari wilayah hulu dan hilir.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *