JAKARTA – Secara Global Resesi Ekonomi didepan mata, hal itu disebabkan meningkatnya kenaikan suku bunga secara agresif oleh Bank Sentral di berbagai Negara.
Kebijakan moneter bank sentral tersebut sebagai langkah untuk proyeksi yang mengacu pada Bank Dunia.
“Apa bila bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia akan mengalami resesi pada tahun 2023,” ujar Sri Mulyani, Rabu (28/9/2022).
Dengan demikian, peningkatan untuk pemakaian uang tunai dinilai semakin perlu. Sebab, resesi global berpotensi berimplikasi terhadap keberlangsungan hidup secara individu.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno menjelaskan, resesi tersebut berpotensi pada lonjakan inflasi.
Dengan demikian, setiap individu perlu mempersiapkan lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di sisi lain, resesi berpotensi mengganggu pendapatan individu. Secara umum resiko pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Hal ini, tak mungkin tak terjadi dan juga menjadi sangat mungkin terjadi di tengah perlambatan roda perekonomian secara Nasional.
“Karena hal itu masuk akal dalam kondisi seperti ini kita itu meningkatkan kita punya dana emergency,” ujarnya.
Mike menjelaskan, peningkatan porsi uang tunai sebagai dana darurat sangat diperlukan untuk menjaga likuiditas individu ditengah ketidakpastian Ekonomi.
Maka, dengan tingkat likuiditas keuangan yang sangat baik, dipastikan individu akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.
“Dalam rangka peningkatan likuiditas ini adalah peningkatan dari dana darurat, menjaga dana darurat kita sesuai dengan kebutuhan kita,” imbuhnya.













