BREBES— Kondisi sosial-ekonomi Kabupaten Brebes tidak dapat dinilai hanya dari satu angka statistik. Meskipun angka kemiskinan masih tinggi, data menunjukkan adanya pergerakan ke arah yang lebih baik, meskipun tantangan ke depan tetap berat. Demikian disampaikan Azra Prabowo, Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik, dalam keterangannya kepada awak media Sabtu 03/10/2026.
Menurut Azra, membicarakan Brebes memerlukan perspektif yang utuh. “Kita tidak boleh hanya terpaku pada satu titik data. Kemiskinan memang masih menjadi persoalan serius, tetapi kita juga perlu melihat perkembangan dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, per Maret 2025 jumlah penduduk miskin Brebes tercatat 257.290 jiwa atau 14,15 persen dari total penduduk. Angka ini memang masih tinggi dan menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tetap menjadi prioritas utama.
Namun jika dibandingkan setahun sebelumnya — Maret 2024 — di mana jumlah penduduk miskin mencapai 283.280 jiwa atau 15,60 persen, terjadi penurunan sebanyak 25.990 jiwa dan penurunan tingkat kemiskinan sebesar 1,45 poin persentase.
Tren menurun ini terlihat konsisten dalam jangka waktu lebih panjang:
• 2021: 17,43%
• 2022: 16,05%
• 2023: 15,78%
• 2024: 15,60%
• 2025: 14,15%
“Angka-angka ini belum berarti persoalan selesai. Namun ini menunjukkan adanya perubahan yang nyata,” jelas Azra.
Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,50 (2024) menjadi 2,20 (2025), sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,55 menjadi 0,50. Artinya, jarak penduduk miskin terhadap garis kemiskinan perlahan menyusut.
Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka per Agustus 2025 tercatat 8,07 persen, turun 0,28 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara perekonomian tumbuh 5,42 persen sepanjang 2025, dengan sektor sekunder tumbuh 7,42 persen dan tersier 6,33 persen. Indeks Pembangunan Manusia juga naik dari 70,18 menjadi 71,18.
Meski demikian, Azra mengingatkan bahwa pencapaian ini bukan alasan untuk berpuas diri.
“Kualitas pendidikan, produktivitas, kesempatan kerja, dan daya beli masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan lapangan kerja yang layak, memperkuat UMKM dan pertanian, serta memastikan kebijakan sosial benar-benar menyentuh yang membutuhkan,” tegasnya.
Ia menegaskan narasi tentang Brebes harus proporsional. “Jangan biarkan persoalan yang belum tuntas membuat kemajuan tidak dilihat. Tetapi jangan pula penurunan angka membuat kita merasa sudah selesai.”
“Brebes memang belum selesai dengan persoalannya. Namun data menunjukkan Brebes sedang bergerak. Tugas kita sekarang adalah memastikan langkah itu semakin cepat dan manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh masyarakat,” pungkas Azra Prabowo.














