Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Daerah  

Akademisi UIN SUNA Lhokseumawe Jadi Pembicara dalam Diplomasi Halal Global di ICSGS

Foto Jepang 1a
Akademisi dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe tampil sebagai pembicara pada Konferensi Internasional

LHOKSEUMAWE – Partisipasi Dr. Harjoni dalam International Conference on Sustainable Global Synergy (ICSGS) menegaskan peran aktif akademisi Indonesia dalam mendorong diplomasi halal global. Kehadiran beliau merepresentasikan kontribusi intelektual nasional di tengah upaya internasional membangun ekosistem halal yang inklusif dan berkelanjutan.(26/07/25)

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat produksi, sertifikasi, dan distribusi halal internasional. Namun, Dr. Harjoni menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi, seperti keterbatasan infrastruktur, ketimpangan standar antar wilayah, dan minimnya sinergi antara pemangku kepentingan.

“Dengan penguatan riset, kebijakan berbasis data, serta peningkatan kapasitas kelembagaan, saya yakin Indonesia bisa memainkan peran yang lebih besar dalam rantai pasok halal dunia,” ujar Dr. Harjoni. “Kami ingin menunjukkan bahwa akademisi Indonesia siap menjadi bagian dari solusi global.”

Keikutsertaan Dr. Harjoni tidak hanya merupakan pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi akademisi muda, khususnya di lingkungan Pascasarjana. Menurutnya, forum-forum ilmiah internasional seperti ICSGS adalah ruang ideal untuk memperluas jejaring, meningkatkan kualitas riset, serta memperkaya perspektif lintas budaya dan disiplin ilmu.

“Ini adalah momentum penting untuk melakukan benchmarking akademik sekaligus membuktikan bahwa riset dari Aceh mampu berkontribusi di panggung global,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan civitas akademika UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan para mitra kolaboratif yang telah mendukung perjalanan akademiknya hingga ke tingkat internasional.

Menutup sesi pemaparannya, Dr. Harjoni menyampaikan pandangan reflektif mengenai makna strategis sertifikasi halal.

“Halal bukan hanya instrumen kepatuhan, tapi juga alat strategis untuk membuka akses pasar, membangun ekosistem perdagangan yang etis, dan menumbuhkan kepercayaan konsumen secara universal,” tegasnya. “Melalui kolaborasi global, pemanfaatan teknologi digital, dan semangat inovatif, kita bisa menjadikan halal sebagai nilai global yang inklusif dan memberdayakan.”tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *