BREBES – Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Brebes tidak lagi bisa dijalankan dengan pendekatan biasa atau hanya mengandalkan narasi semata. Dibutuhkan terobosan strategis dan langkah konkret agar angka IPM bisa melompat signifikan, bukan hanya naik sedikit demi sedikit, bahkan jalan di tempat.
Hal tersebut ditegaskan oleh pengamat politik Azra Fadilah Prabowo, S.I.P., dalam pernyataannya kepada awak media hariandaerah.com pada, Selasa (28/04/2026). Menurutnya, visi besar seperti “Brebes Beres” harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, sehingga peningkatan kualitas hidup bukan lagi harapan, melainkan realitas yang dirasakan bersama.
Azra menegaskan bahwa IPM bukan sekadar deretan angka statistik yang menjadi syarat pelaporan administrasi pemerintah. Indikator ini adalah cermin paling akurat yang menggambarkan seberapa jauh kemajuan pembangunan telah dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Selama ini upaya perbaikan memang sudah ada, tapi masih terkesan berjalan setengah hati atau parsial. Banyak program yang terlihat megah di permukaan, namun belum menggali dan menyelesaikan akar permasalahan yang sebenarnya. Akibatnya, peningkatan IPM berjalan lambat dan tidak sesuai dengan potensi besar yang dimiliki Brebes,” ujarnya.
Ia menggunakan analogi sederhana untuk mempermudah pemahaman: IPM ibarat sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di atas tiga pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Jika salah satu pilar goyah atau kualitasnya kurang baik, maka bangunan tersebut tidak akan pernah bisa mencapai ketinggian yang maksimal.
Evaluasi Mendalam Tiga Sektor Utama
1. Sektor Pendidikan: Dari Akses Menuju Kualitas dan Relevansi
Menurut Azra, tantangan di bidang pendidikan saat ini sudah bergeser. Jika dulu fokus utamanya adalah memastikan anak-anak bisa masuk sekolah, maka sekarang tantangannya adalah bagaimana memastikan mereka bertahan hingga jenjang lebih tinggi dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
“Masih banyak lulusan yang memiliki ijazah, namun tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan di Brebes harus lebih dikaitkan dengan potensi lokal kita, seperti pertanian, UMKM, dan sektor jasa. Jadikan sekolah sebagai tempat yang melahirkan pengusaha dan tenaga kerja handal, bukan sekadar pencari kerja,” jelasnya.
2. Sektor Kesehatan: Dari Fisik Bangunan Menuju Kualitas Layanan
Pembangunan gedung puskesmas, rumah sakit, dan penyediaan peralatan medis memang terus dilakukan, namun Azra menilai hal itu belum cukup. Infrastruktur yang lengkap akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi dengan pelayanan yang cepat, ramah, merata, dan bersifat preventif.
“Masyarakat butuh solusi kesehatan, bukan sekadar melihat bangunan megah. Indikator seperti harapan hidup dan angka kematian sangat bergantung pada seberapa jauh layanan ini menjangkau dan memberikan manfaat nyata, bukan hanya ada di atas kertas,” tambahnya.
3. Sektor Ekonomi: Dari Produktivitas Menuju Kesejahteraan
Brebes dikenal sebagai daerah yang produktif, terutama di sektor pertanian dan produk unggulan lokal. Namun, produktivitas yang tinggi ini belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Masalah utamanya terletak pada lemahnya pengelolaan rantai distribusi dan akses pasar.
“Petani dan pelaku usaha bekerja keras, namun nilai tambah dari hasil kerja mereka seringkali dinikmati oleh pihak lain. Jika ini terus dibiarkan, daya beli masyarakat akan sulit naik, dan otomatis IPM juga akan terhenti di titik tertentu. Perlu ada intervensi agar ekonomi lokal berputar lebih adil dan menguntungkan warga asli Brebes,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan lompatan IPM yang diharapkan, Azra menekankan bahwa semangat “Brebes Beres” harus keluar dari zona simbolik dan masuk ke ranah praktis. Pemerintah daerah perlu berani mengalokasikan anggaran untuk program-program yang berdampak langsung, bukan hanya untuk proyek yang memiliki nilai visual tinggi saja.
Selain itu, konsistensi kebijakan menjadi syarat mutlak. Pembangunan manusia adalah proses jangka panjang, layaknya menanam pohon besar. Ia tidak bisa dihasilkan dalam waktu singkat atau berganti arah setiap kali ada pergantian pemimpin.
“Kalau hari ini buat program, besok diganti lagi, maka kita akan selalu berputar di titik awal. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan komitmen yang kuat. Jika semua ini dijalankan dengan benar, maka hasilnya bukan hanya angka IPM yang melonjak, tetapi kesejahteraan yang benar-benar terasa oleh setiap warga Kabupaten Brebes,” pungkas Azra Fadilah Prabowo.








