Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Opini  

Menanti Giliran Demi Sebuah Kesembuhan

ilustrasi antrian
Ilustrasi saat antrian berobat. (Foto: istock)

Oleh : JAWASIR, S.Pd

Senin 8 September, suasana di ruang Poliklinik Endokrin Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh dipenuhi orang-orang yang membawa harapan yang sama, yaitu sembuh dari sakit yang menggerogoti tubuh mereka.

Kursi tunggu yang berjejer rapi nyaris tak menyisakan ruang kosong. Disana duduk wajah-wajah lelah yang tersenyum kecut, mata-mata yang berbinar bukan karena bahagia, melainkan menahan rasa sakit dan sekaligus memupuk harapan bahwa di balik pertemuan dengan dokter nanti, ada secercah harapan menuju kesembuhan.

Diwaktu yang sama saya menyaksikan ibu saya yang sudah rentan, tubuhnya lemas, kulit wajahnya mulai keriput dan duduk dengan posisi agak sedikit membungkuk. Sesekali tangannya gemetar, ucapannya terbata bata seolah ia memberitahukan kepada saya bahwa betapa sakitnya yang ia rasakan.

Disamping ibu, anak perempuannya dan saya yang setia mendampinginya dan menggenggam tangan ibu, menatap dengan penuh rasa khawatir. Tak jauh dari situ, seorang bapak dengan langkah tertatih masih berusaha tegar berdiri, walau lututnya bergetar seakan tak lagi kuat menopang tubuh. Setiap gerakan mengandung cerita, cerita tentang perjuangan melawan sakit yang tak terlihat dari luar, tapi terasa menyiksa di dalam.

Ruang tunggu itu bukan sekadar tempat menanti giliran. Ia adalah ruang doa yang tak terucap, ruang sabar yang dipaksakan, ruang air mata yang ditahan agar tidak jatuh di depan ibu dan yang lain.

BACA JUGA:  Estetika Berzakat, Seni Memberi yang Membebaskan, Antara Membersihkan Harta dan Membebaskan Fakir dari Belenggu Mental Miskin

Ada pasien yang matanya kosong menatap lantai, mungkin lelah menunggu kesembuhan yang entah kapan tiba. Ada pula yang berusaha menutupi sakit dengan senyum kecil, meski tubuhnya jelas tak mampu menahan lama.

Ketika nama seorang pasien dipanggil, mata-mata lain yang belum dipanggil refleks menoleh. Ada yang menunduk pasrah, ada yang menarik napas panjang, seakan berkata dalam hati, “Kapan giliranku?” Dalam detik-detik menunggu itulah manusia diuji bukan hanya fisiknya tetapi juga batinnya.

Antrean panjang di poliklinik endokrin hari itu menyadarkan saya betapa rapuhnya manusia. Kita seringkali lupa mensyukuri kesehatan sampai akhirnya rasa sakit datang membawa kita duduk berjam jam di kursi rumah sakit, hanya untuk sebuah janji kesembuhan.

Di tengah penantian itu, saya melihat bahwa sakit bukan hanya milik tubuh, tetapi juga ujian bagi jiwa, ujian kesabaran, ujian ketabahan dan ujian untuk tetap percaya bahwa Allah S.W.T selalu memberi jalan kesembuhan.

Setiap pasien yang duduk di sana adalah pejuang. Mereka mungkin tidak bersenjata, tidak bertempur di medan perang, tetapi mereka sedang berjuang melawan rasa sakit yang setiap hari menggerogoti semangat hidup. Antrean panjang itu hanyalah satu dari sekian banyak rintangan dalam perjuangan untuk menuju pulih.

BACA JUGA:  Sekda Tinjau Kesiapan Lokasi Pekan Raya UMKM Aceh

Dan di hari ini, di ruang poliklinik endokrin RSUZA, saya belajar sebuah pelajaran yang begitu dalam bahwa kesembuhan adalah anugerah, sakit adalah ujian dan sabar adalah kunci yang harus terus dijaga.

Di balik wajah-wajah lelah itu, ada jiwa-jiwa kuat yang percaya bahwa setelah antre panjang, setelah menunggu dengan pasrah, akan ada gilirannya masing-masing untuk mendapatkan secercah harapan menuju hidup yang lebih baik.

Catatan Redaksi :

Opini ini merupakan refleksi dari pengalaman penulis saat menanti giliran berobat di ruang Poliklinik Endokrin Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin Banda Aceh. Kami percaya, kesehatan adalah hak setiap orang dan pelayanan yang baik di rumah sakit menjadi kebutuhan yang sangat penting. Ini bukan hanya sekadar catatan pribadi, melainkan ajakan untuk lebih menghargai kesehatan. Serta mempelajari arti kesabaran, rasa syukur atas kesehatan dan empati kepada sesama yang sedang berjuang melawan sakit serta memberi perhatian pada pelayanan kesehatan agar semakin humanis.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *