Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Aceh  

Warga Simeulue Tolak Pengalihan Kapal Aceh Hebat 1: “Ini Nadi Kehidupan Kami”

IMG 20251120 WA0024
Warga yang tergabung dalam Masyarakat Simeulue Bersatu (MSB) saat menggelar aksi menolak pengalihan Kapal Aceh Hebat 1, Kamis (20/11/2025). (Foto: hariandaerah.com).

SIMEULUE — Gerimis dan hujan tidak menyurutkan langkah puluhan warga yang tergabung dalam Masyarakat Simeulue Bersatu (MSB) untuk menyampaikan aspirasi mereka mempertahankan kapal Aceh Hebat 1 (AH1), Kamis (20/11/2025). Bagi masyarakat Simeulue, AH1 bukan hanya moda transportasi, tetapi bagian penting dari kehidupan kepulauan yang mereka jalani.

Koordinator MSB, Hardani, berdiri tegas namun tetap santun saat menyuarakan tuntutan warga.

“Kapal Aceh Hebat 1 ini bukan hanya soal perjalanan, tapi soal kehidupan,” ujarnya kepada media usai aksi.

Selama bertahun-tahun, AH1 menjadi penghubung utama jalur Sinabang–Calang, membawa masyarakat keluar masuk pulau. Kapal itu menjadi jembatan yang menghubungkan warga kepulauan dengan layanan pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi di daratan Aceh. Setiap kedatangan dan keberangkatan kapal seakan menjadi denyut kehidupan yang menggerakkan roda aktivitas warga Simeulue.

Namun wacana Pemerintah Aceh untuk mengalihkan AH1 ke rute Krueng Geukuh–Penang membuat sebagian besar masyarakat merasa akan terputus dari akses vital yang selama ini mereka andalkan. Kekhawatiran itulah yang kemudian membawa warga turun ke jalan, menyuarakan kegelisahan yang telah lama bergema sejak rencana tersebut mencuat.

BACA JUGA:  Herlis Dianto Beri Ucapan Selamat dan Sukses Kepada Bupati dan Wakil Bupati Monas-Nusar

Dalam aksi yang digelar Kamis (20/11/2025) itu, peserta tidak hanya berorasi. Mereka juga menyerahkan pernyataan sikap kepada DPRK dan Pemerintah Kabupaten Simeulue, dengan harapan tuntutan mereka dapat diteruskan secara resmi kepada Pemerintah Aceh.

“Kami mendukung rute internasional itu, tapi jangan tarik kapal Aceh Hebat 1 dari laut Simeulue–Calang,” tegas Hardani.

Ia menekankan bahwa perjuangan ini bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya mempertahankan akses yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat pulau.

Dari sisi warga, suara yang sama bergema. Yan, warga Simeulue Timur, mengungkapkan keresahannya dengan nada lembut namun penuh makna.

“Simeulue ini kepulauan. Yang kami butuh itu penambahan transportasi, bukan pengurangan,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya mempertahankan rute kapal, tetapi juga mempertimbangkan subsidi tiket pesawat bagi warga yang harus bepergian untuk berobat atau urusan mendesak lainnya.

Aksi berjalan dengan tertib hingga selesai. Aparat kepolisian yang berjaga tampak mengawasi situasi dengan tenang.

BACA JUGA:  Pintu Induk Irigasi Tersumbat, Ribuan Hektare Sawah di Tangan-Tangan Terancam Gagal Tanam

“Alhamdulillah, situasi aman dan tertib,” ujar Kabag Ops Polres Simeulue, mengapresiasi kedisiplinan warga dalam menyampaikan aspirasi.

Meski demikian, aksi ini bukan akhir dari perjuangan. Hardani menegaskan, MSB akan terus mengawal isu tersebut. Jika tidak ada respons positif dari Pemerintah Aceh, mereka siap melanjutkan aksi ke Banda Aceh.

Di balik demonstrasi itu, tersimpan harapan sederhana dari masyarakat kepulauan yang tak ingin dipisahkan dari akses yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Kapal Aceh Hebat 1 bagi warga Simeulue adalah simbol koneksi dengan kesempatan, layanan, dan masa depan.

Mereka hanya ingin tetap terhubung, melalui kapal yang telah lama mereka andalkan, dan melalui kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat kepulauan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *