Perdebatan tentang libur sekolah selalu hangat setiap menjelang bulan suci Ramadhan. Sementara beberapa orang berpendapat bahwa sekolah harus tetap berjalan dengan penyesuaian, sebagian lain mengusulkan libur sebulan penuh untuk memberi anak-anak waktu untuk beribadah. Kita harus menghentikan mentalitas yang menganggap Ramadhan sebagai jeda akademik daripada terjebak dalam dikotomis sempit antara “sekolah” dan “libur”. Bulan ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk mengubah cara kita belajar. Kita dapat beralih dari model pendidikan yang kaku ke proses pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan spiritual, seperti yang ditunjukkan oleh pendidikan Islam. Kita semua harus mendukung dan optimalkan kebijakan pemerintah yang tercantum dalam Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pembelajaran di Bulan Ramadhan 1447 H/2026 M, yang menekankan penguatan karakter dan nilai keagamaan tanpa menghentikan sekolah.
Para pendukung libur total sering mengatakan bahwa anak-anak akan kehilangan fokus dalam beribadah karena tugas sekolah mereka terganggu atau karena mereka tidak sehat sehingga tidak bisa belajar. Khawatiran ini tentu beralasan, terutama karena perubahan pola makan dan tidur memang dapat memengaruhi konsentrasi. Namun, solusi yang ditawarkan pemerintah saat ini, seperti jam masuk lebih siang, pembelajaran dengan jadwal yang dipersingkat, dan pengurangan aktivitas fisik yang signifikan, sangat manusiawi. Selain itu, siswa sudah terbiasa berpuasa saat belajar, kata Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan pada zaman Nabi Muhammad SAW, pendidikan dan kegiatan lainnya tidak pernah berhenti di bulan Ramadhan. Ini terbukti dengan perang Badar, yang menjadikan bulan suci sebagai titik awal kemenangan umat Islam.
Gagasan “liburan akademik” akan memiliki konsekuensi yang lebih buruk. Liburan panjang menimbulkan masalah baru, selain mengganggu ritme belajar dan berpotensi menyebabkan siswa kehilangan momentum (learning loss). Ini terutama berlaku bagi siswa kelas akhir yang harus mempersiapkan ujian kelulusan dan seleksi masuk perguruan tinggi. Jika sekolah diliburkan sepenuhnya, mereka sangat membutuhkan pendampingan intensif dari guru. Selain itu, tidak semua siswa memiliki lingkungan rumah yang memungkinkan mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan positif atau belajar sendiri. Selain itu, orang tua harus mempertimbangkan kekhawatiran mereka tentang anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik jika mereka berlibur di rumah. Dengan jadwal sekolah yang telah disesuaikan, aktivitas siswa dapat dipantau dan diatur.
Namun, peningkatan kualitas pembelajaran harus diikuti dengan mendukung kebijakan sekolah yang tetap selama bulan Ramadhan. Kita telah menyia-nyiakan potensi besar bulan suci ini jika kita hanya mengulangi rutinitas kelas biasa dengan jam yang dipersingkat. Di sinilah inti dari revolusi pendidikan harus dipromosikan. Ramadhan harus menjadi laboratorium karakter bagi siswa dan madrasah kehidupan yang nyata. Puasa dipandang dalam pendidikan Islam sebagai model pendidikan ilahiah yang luas, bukan hanya untuk mengontrol rasa lapar dan haus. Menurut Prof. Hannani, Rektor IAIN Parepare, Ramadhan jika dibandingkan dengan madrasah, fokus utamanya adalah puasa dan memiliki program yang jelas untuk menghasilkan siswa yang bertakwa.
Pendekatan pembelajaran selama Ramadhan harus berubah dari sekadar mentransfer informasi menjadi pembelajaran bermakna (learning meaningful) dan pembelajaran mendalam. Konsep ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk membentuk profil siswa yang menganut Pancasila, dengan penekanan khusus pada aspek beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Metode pendidikan Islam menjadi dasar. Selama puasa, siswa diberi kesempatan untuk secara bersamaan mengonfigurasi empat aspek kecerdasan mereka: pikir (intelektual), hati (spiritual dan emosional), gerak (fisik dan kinestetik), dan rasa dan karsa (afektif dan kreatif).
Revolusi pendidikan ini dapat digunakan dalam berbagai cara. Pertama, pembelajaran kontekstual dan tematik yang memasukkan nilai puasa ke dalam materi umum. Misalnya, di kelas matematika, siswa diajarkan menghitung dan mengelola anggaran untuk kegiatan berbagi takjil selain soal-soal abstrak. Mereka dapat menulis esai reflektif tentang pengalaman menahan amarah atau lapar di kelas Bahasa Indonesia. Zakat dan kegiatan berbagi dapat menjadi subjek diskusi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Kedua, penguatan kegiatan keagamaan harus direncanakan secara substansial dan kreatif daripada seremonial. Misalnya, tidak perlu ada ceramah satu arah yang membosankan di pesantren kilat. Sebuah diskusi interaktif tentang isu-isu kontemporer seperti etika media sosial, bahaya perundungan, atau bagaimana menjadi muslim yang toleran dalam konteks kebhinekaan dapat dikemas dalam materi. Dengan demikian, nilai-nilai Ramadhan seperti kejujuran, kesabaran, dan empati menjadi kebiasaan dan karakter selain hanya diucapkan. Ketiga, mengubah metode belajar berarti menghidupkan kembali peran orang tua dan guru. Guru berubah dari sekadar menyampaikan pelajaran menjadi orang yang membantu, mendorong, dan memberi contoh. Meskipun guru tidak banyak berbicara, dia mendorong siswa untuk berpikir kritis dan bekerja. Sementara itu, orang tua harus dijaga. Di awal Ramadhan, masa pembelajaran mandiri di rumah adalah kesempatan untuk membangun lingkungan pendidikan yang berpusat pada keluarga. Orang tua diajak untuk mendampingi anak, berbicara tentang arti puasa, melakukan sahur bersama, dan melibatkan anak dalam aktivitas sosial di sekitar rumah.
Bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah, atau pendidikan. Ia adalah madrasah kehidupan yang memberikan kurikullah terbaik untuk membangun manusia paripurna (insan kamil). Menutup sekolah sama saja dengan mengisi “liburan akademik” bulan ini. Proses pendidikan karakter yang sebenarnya terjadi saat tubuh lemas dan godaan untuk marah dan berbohong begitu kuat. Di tengah keterbatasan, siswa belajar mengelola energi, mengendalikan diri, dan tetap produktif. Keahlian ini berguna untuk menghadapi tantangan kehidupan yang lebih kompleks di masa depan.








