Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Hubungan Manusia dengan Tuhan pun Perlu Sedikit Bantuan Editing

IMG 20260411 WA0006

hariandaerah.com, Jakarta – Ada masa ketika manusia bersujud dalam diam. Kini, ia bersujud dengan pencahayaan tiga titik, scoring musik minor, dan close-up yang cukup lama agar air mata sempat menjadi estetika.

Film Dalam Sujudku tampaknya memahami betul bahwa di era ini, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan pun perlu sedikit bantuan editing.

Disutradarai oleh Rico Michael—atau mungkin lebih tepat disebut “pengatur emosi publik”—film ini menghidangkan penderitaan rumah tangga dalam porsi yang sudah ditakar seperti menu katering: tidak kurang, tidak lebih, dan tentu saja mudah dicerna. Diproduseri Donnie Syech, proyek ini terasa seperti investasi yang aman: ambil kisah nyata, tambahkan doa, taburi air mata, lalu jual sebagai pencerahan.

Dan kita semua tahu—pencerahan selalu laku keras. Marcell Darwin tampil sebagai manusia yang tampaknya tidak pernah punya waktu untuk tidak menderita. Ia menangis dengan konsistensi yang mengagumkan, seolah-olah setiap adegan adalah audisi untuk lomba kesedihan nasional. Sementara Denis Adhiswara, dalam balutan ustaz, hadir bukan sekadar sebagai karakter—melainkan sebagai “fitur bantuan” yang muncul setiap kali penonton mulai bingung harus merasa apa.

BACA JUGA:  Matahari yang Menangis di Balik Senyum: Nyanyian Sunyi Alyne Maarif

“Klik di sini untuk makna kehidupan.”
Aktris seperti Vinessa Inez dan Naura Hakim dipaksa hidup dalam dunia yang terlalu sederhana untuk menjadi nyata. Yang satu terlalu sabar hingga nyaris tidak manusiawi, yang lain cukup bersalah untuk menjaga konflik tetap hidup. Kompleksitas?

Maaf, tidak termasuk dalam paket.
Namun mari kita beri tepuk tangan untuk Chika Waode. Di tengah parade kesalehan yang dikurasi, ia datang sebagai tukang gosip—dan ironisnya, justru menjadi representasi paling jujur dari masyarakat. Cerewet, spontan, dan tidak sibuk terlihat suci. Sebuah pengingat kecil bahwa realitas sering kali lebih hidup daripada moralitas yang dipaksakan.

Lalu hadir lagu Titipan Ilahi oleh Evelyn Wijaya—sebuah komposisi yang dengan penuh dedikasi memastikan penonton tidak lupa kapan harus terharu. Jika akting gagal membuat Anda menangis, tenang saja, musik akan mengambil alih. Karena dalam dunia ini, bahkan emosi pun punya cadangan.

Film ini dengan percaya diri mengajarkan bahwa ketika manusia berserah, Tuhan akan menjawab. Sebuah konsep yang indah—jika saja tidak disampaikan seperti tutorial memasak mie instan: mudah, cepat, dan hasilnya selalu sama.

BACA JUGA:  Camel Petir Coba Treatment Terbaru Dermapen di Keishaglow

Padahal, hidup jarang sekali sepatuh itu pada skenario. Yang paling menarik dari Dalam Sujudku bukanlah ceritanya, melainkan keyakinannya bahwa penonton perlu diarahkan setiap detik. Tidak ada ruang untuk diam, tidak ada ruang untuk ragu. Semua sudah dijelaskan, bahkan sebelum Anda sempat merasa.

Dan mungkin, di situlah letak satir terbesar film ini—meski tanpa sadar:
ia berbicara tentang penyerahan diri, tetapi dibuat dengan kontrol yang nyaris total.
Ia mengajarkan keikhlasan, tetapi disusun dengan perhitungan yang sangat matang.

Sujud, dalam film ini, bukan lagi tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Ia tentang bagaimana hubungan itu bisa dikemas, dijual, dan—jika perlu—diputar ulang di bioskop terdekat.

Selamat datang di era baru:
di mana iman tidak hanya diuji…
tetapi juga diproduksi. (Hartono)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *