hariandaerah.com, Jakarta – Industri film Indonesia kembali mencoba menantang adrenalin penonton lewat Lift, sebuah thriller psikologis produksi Trois Ent yang resmi tayang 26 Februari 2026.
Di tengah dominasi horor penuh pocong, kuntilanak, dan ritual gelap, film ini memilih jalur berbeda: tak ada setan, tak ada pembunuh bertopeng. Yang ada hanya ruang sempit, interkom berderit, dan rasa takut yang pelan-pelan merambat ke tengkuk.
Premisnya sebenarnya menggiurkan. Bayangkan konsep minimalis seperti Phone Booth—ketegangan dibangun dari satu lokasi, satu situasi, dan satu ancaman tak kasatmata. Lift mencoba memainkan kartu serupa, namun dengan rasa lokal dan konflik korporasi.
Teror dari Balik Interkom
Cerita bergerak enam tahun setelah kematian tragis Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land. Kini, direktur baru, Hansen (Verdi Solaiman), menghilang misterius. Di tengah kekacauan perusahaan, Linda (Ismi Melinda) justru terjebak di lift yang macet bersama Anton (Max Metino), mantan jurnalis yang banting setir jadi podcaster.
Dari situlah permainan dimulai.
Suara asing lewat interkom mendikte langkah mereka. Tidak berteriak, tidak mengancam secara frontal—justru tenang, dingin, dan manipulatif. Ketika Linda mengetahui anaknya disandera, suasana makin mencekam. Di luar, Doris (Shareefa Daanish) ikut terseret pusaran misteri melalui pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor tengah malam.
Konsepnya jelas: ketakutan psikologis. Bukan dari makhluk gaib, melainkan dari tekanan, rasa bersalah, dan permainan kuasa.
Ambisi Besar, Eksekusi Tersendat
Masalahnya, Lift ingin terlalu banyak bicara sekaligus. Thriller korporasi? Drama keluarga? Kritik media? Trauma masa lalu? Semua dicoba disentuh, namun tak satu pun digali hingga benar-benar tajam.
Alih-alih twist yang membuat penonton terpana, alur maju-mundur justru terasa seperti labirin tanpa peta. Penonton lebih sibuk menyusun kronologi ketimbang larut dalam emosi. Dialog yang kadang terdengar terlalu puitis juga membuat situasi genting terasa kurang natural.
Beberapa sisipan komedi yang dimaksudkan sebagai penyeimbang malah terasa seperti candaan di ruang rapat saat gedung sedang terbakar—niatnya mencairkan, tapi justru mengganggu ritme.
Aktor Hebat, Karakter Tanggung
Nama seperti Shareefa Daanish membawa ekspektasi tinggi. Ia dikenal kuat di genre thriller, tetapi karakter yang ditulis kurang konsisten membuat potensinya tak sepenuhnya meledak. Teuku Rifnu Wikana pun hanya hadir sekilas, seperti cameo mahal yang tak sempat memberi warna berarti.
Akting para pemain sebenarnya tidak buruk—mereka hanya seperti “ditahan” oleh naskah yang belum matang.
Namun… Tetap Laris?
Ironisnya, tiket Kamis-Jumat sempat ludes dalam hitungan jam. Artinya, rasa penasaran publik tetap tinggi. Bahkan pihak produksi membuka promo harga Rp10.000 untuk hari Senin-Selasa melalui Tix.id dengan kuota terbatas.
Ini menarik. Mungkin penonton memang rindu variasi. Di tengah gempuran horor supranatural, Lift hadir sebagai eksperimen. Tidak sempurna, tapi berani.
Layak Tonton?
Jika Anda mencari thriller minimalis dengan atmosfer tegang dan konsep berbeda dari horor mainstream Indonesia, Lift masih bisa jadi opsi hiburan. Ia mungkin belum setajam film-film thriller internasional, tapi keberaniannya keluar dari pakem patut diapresiasi.
Karena kadang, ketakutan paling nyata bukan berasal dari sosok gaib—melainkan dari suara yang berbisik di ruang sempit… dan pilihan yang tak lagi bisa dihindari.
Tertarik menekan tombol lantai berikutnya? (Ism)








