Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Ketika Diam Tak Lagi Cukup: Alyne Maarif, Luka yang Lama Disimpan, dan Keberanian Seorang Ibu

IMG 20260314 WA0002

hariandaerah.com, Jakarta – Ada banyak hal yang bisa disembunyikan di balik panggung kehidupan. Senyum, karya, bahkan kesedihan. Publik sering kali hanya melihat lampu sorotnya—musik, karya, dan cerita indah tentang keluarga.

Namun hidup jarang sesederhana cerita yang ditampilkan di layar. Begitulah kisah yang perlahan diungkap oleh Alyne Maarif, seorang penyanyi sekaligus ibu dari Niloufer Bahlwan, yang dikenal publik lewat perannya sebagai Agil dalam film Keluarga Cemara 2 dan Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta.

Selama ini tidak banyak yang mengetahui bahwa Alyne telah lama bercerai dan menjalani kehidupan pasca perceraian di tengah konflik keluarga yang tidak pernah benar-benar selesai. Sebuah cerita yang mungkin terlalu rumit untuk dijelaskan dalam satu unggahan media sosial—dan terlalu panjang untuk sekadar disebut sebagai “urusan pribadi”.

Di balik keputusan berpisah itu terdapat perjalanan yang tidak sederhana. Alyne mengaku pernah mengalami berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga: mulai dari kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik dalam relasi pernikahannya.

Sebelum perceraian benar-benar terjadi, ia bahkan telah dua kali mengajukan gugatan cerai. Namun seperti banyak kisah relasi yang sarat manipulasi, jalan keluar tidak selalu lurus. Ada tarik-menarik emosi, ada keraguan, dan ada harapan bahwa sesuatu mungkin bisa berubah.

Hubungan itu berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami.
Pada saat itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang memadai. Ia hanya memiliki satu keinginan sederhana: mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat.

Ia percaya perceraian akan menjadi titik akhir konflik. Sebuah penutup cerita yang memungkinkan setiap orang melanjutkan hidup masing-masing. Namun realitas kadang memiliki cara sendiri untuk menertawakan harapan manusia.

IMG 20260314 WA0005

Pasca perceraian, konflik tidak benar-benar berhenti. Alyne mengaku tetap membuka ruang komunikasi yang wajar demi kepentingan anak-anaknya. Ia bahkan tidak pernah melarang mantan suaminya untuk datang atau bertemu dengan mereka.
Namun dalam praktiknya, pola kekerasan psikologis dan manipulasi disebut masih terus terjadi—dalam bentuk tuduhan, penyalahkan, hingga gaslighting.

BACA JUGA:  Ibu dan Anak Meninggal Dunia Tersambar Petir di Aceh Timur

Sebuah istilah modern untuk praktik lama: membuat seseorang meragukan realitasnya sendiri.

Situasi tersebut akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk mengambil langkah tegas dengan melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya.

Namun seperti yang sering terjadi dalam konflik keluarga, batas yang dibuat oleh orang dewasa tidak selalu berhenti di situ. Ketika satu pintu ditutup, pintu lain kerap terbuka melalui anak-anak—yang tanpa disadari bisa berada di tengah pusaran konflik.

Perjalanan panjang itu juga berdampak pada kondisi psikologis Alyne. Ia pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan tinggi hingga akhirnya memutuskan mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis.

Ironisnya, langkah untuk memulihkan diri itu justru digunakan untuk menyerangnya secara personal—melalui stigma, intimidasi, dan pelabelan yang tidak berdasar.
Seolah-olah mencari bantuan adalah kesalahan.

Di tengah berbagai tuduhan yang berkembang, Alyne akhirnya mendatangi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) untuk meminta perlindungan bagi anak-anaknya.

Melalui proses asesmen terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI kemudian mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama ibunya serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang jelas.

Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.
Situasi inilah yang akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk menciptakan konflik baru, dan tentu bukan pula untuk menambah drama di ruang publik.

Ia hanya menyadari satu hal: sesuatu yang dibiarkan terlalu lama sering kali dianggap sebagai hal yang normal.

Selama ini Alyne dikenal memilih jalur yang tenang. Ia tidak terburu-buru membawa konflik ke ruang publik. Sebagai seorang seniman, ia lebih memilih menyalurkan pengalaman batinnya melalui karya.
Perasaan, refleksi, dan pergulatan yang ia alami selama bertahun-tahun dituangkan dalam lagu, tulisan, buku, serta jurnal pribadi. Di sanalah ia berbicara—tanpa perlu berteriak.

Salah satu refleksi itu juga hadir dalam album yang ia kerjakan, termasuk album Narc, yang memuat perjalanan emosional selama ia melewati masa-masa sulit tersebut.

BACA JUGA:  Ibu Tak Khawatir Biaya, BPJS Kesehatan Tanggung Biaya Berobat dan Rawat Inap Anak

Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari bahwa ada batas bagi kesabaran yang hanya dituangkan dalam karya.
Ia mulai melihat perubahan dalam dinamika emosional anak-anaknya. Ada fase pendekatan yang sangat intens yang menurutnya berpotensi diikuti pola manipulasi yang sama seperti yang pernah ia alami.

Sebagai seorang ibu, ia menegaskan tidak dapat tinggal diam melihat kemungkinan anak-anaknya masuk ke dalam siklus yang sama.

Selama lebih dari satu tahun terakhir, Alyne mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta melakukan pengamatan psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. Meskipun ia yakin telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kekhawatiran seorang ibu tetap tidak dapat diabaikan.

Langkah untuk berbicara secara terbuka ini pun bukan yang pertama. Sebelumnya ia telah meminta pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk LPAI dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.

Bagi Alyne, ini adalah upaya terakhir.
Upaya untuk memastikan bahwa keselamatan emosional serta masa depan anak-anaknya tetap terjaga.

Ia juga menegaskan bahwa jika situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Ia siap menempuh proses hukum secara penuh, baik dalam ranah perdata maupun pidana jika diperlukan.

“Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat.”

Pada akhirnya, di tengah segala perdebatan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Anak-anak tidak pernah memilih konflik orang dewasa. Mereka hanya lahir di tengahnya. (Ism)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *