Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Aroma Tak Sedap Diduga Berasal dari Dapur SPPG Ambarawa Barat Pringsewu, Warga Minta Evaluasi IPAL

Bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, yang berada di bawah naungan Yayasan Nusantara Lampung Abadi. Sejumlah warga mengeluhkan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas dapur dan masuk hingga ke lingkungan permukiman sekitar. (Davit/Hariandaerah.com)

PRINGSEWU – Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, mendapat sorotan dari sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi. Warga mengeluhkan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas dapur penyedia makanan program pemenuhan gizi tersebut.

Berdasarkan keterangan warga, bau menyengat kerap tercium saat aktivitas dapur berlangsung. Aroma tersebut tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi, tetapi juga masuk hingga ke dalam rumah warga yang berada di sekitar dapur.

TimePhoto 20260610 135226 copy 640x480

Sejumlah warga menduga aroma tidak sedap tersebut berasal dari sistem pengelolaan limbah yang belum berjalan secara optimal. Warga menduga limbah hasil aktivitas dapur belum melalui proses penyaringan maupun pengendapan yang memadai sebelum dibuang. Selain itu, warga juga mempertanyakan apakah pengelolaan instalasi limbah dilakukan secara rutin oleh operator yang bertanggung jawab.

Sarinem (65), warga yang tinggal di sekitar lokasi dapur SPPG Ambarawa Barat, mengaku sudah cukup lama merasakan dampak aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas dapur tersebut. Menurutnya, bau menyengat kerap masuk hingga ke dalam rumah dan mengganggu kenyamanan keluarga sehari-hari.

“Kalau dapur mulai beraktivitas, baunya sangat menyengat dan masuk sampai ke dalam rumah. Bahkan kami terpaksa memindahkan penggunaan beberapa kamar karena tidak nyaman ditempati saat bau sedang kuat. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas dan waktu istirahat keluarga,” ujar Sarinem saat ditemui di kediamannya.

Perempuan berusia 65 tahun itu menuturkan, aroma yang diduga berasal dari aktivitas dapur tersebut tidak hanya tercium di halaman rumah, melainkan masuk hingga ke sejumlah ruangan di dalam rumahnya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat anggota keluarga merasa kurang nyaman, terutama ketika hendak beristirahat pada sore hingga malam hari.

Keluhan serupa juga disampaikan Ripin, warga lainnya yang tinggal tidak jauh dari lokasi dapur. Ia mengaku aroma menyengat tersebut sering tercium hingga ke dalam rumah, terutama saat aktivitas dapur sedang berlangsung.

“Bau itu masuk sampai ke dalam rumah. Kami merasa terganggu karena aromanya cukup menyengat. Saat malam hari juga membuat istirahat menjadi kurang nyaman. Kami berharap ada solusi agar bau tersebut tidak lagi mengganggu warga sekitar,” kata Ripin.

Menurut Ripin, bau yang muncul pada malam hari terasa lebih pekat dibandingkan siang hari. Kondisi tersebut, kata dia, membuat keluarganya tidak nyaman saat beristirahat dan terpaksa menutup pintu maupun jendela rumah untuk mengurangi aroma yang masuk.

BACA JUGA:  Atap DPRD Pesawaran Ambruk, Pendiri Kabupaten Kritik Pedas: “APBD 1,3 T, Tapi Rehab Kantor Saja Tidak Mampu”

Warga lainnya, Robi, turut menyampaikan keluhan yang sama. Ia menilai sumber bau tidak sedap tersebut diduga berasal dari pengelolaan limbah dapur yang belum maksimal. Menurutnya, limbah yang dihasilkan dari aktivitas dapur diduga tidak sepenuhnya diminimalisir melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sehingga menimbulkan endapan pada saluran pembuangan yang berada di sekitar lingkungan warga.

“Kami menduga bau ini berasal dari limbah dapur yang tidak sepenuhnya terolah dengan baik. Endapan yang terbentuk di saluran pembuangan diduga menjadi penyebab munculnya bau busuk. Yang paling terasa biasanya pada malam hari, baunya lebih menyengat dibandingkan waktu siang dan cukup mengganggu warga di sekitar,” ujar Robi.

Ia berharap pihak pengelola segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem IPAL dan saluran pembuangan yang digunakan. Menurutnya, langkah tersebut penting agar aktivitas pelayanan pemenuhan gizi tetap berjalan dengan baik tanpa menimbulkan dampak lingkungan maupun gangguan kenyamanan bagi masyarakat sekitar.

Berdasarkan identitas yang terpasang pada lokasi, operasional SPPG Ambarawa Barat diketahui berada di bawah naungan Yayasan Nusantara Lampung Abadi. Nama yayasan tersebut tercantum pada banner dan identitas yang terpasang di area SPPG bersama informasi program pelayanan pemenuhan gizi.

Seiring munculnya keluhan warga terkait dugaan aroma tidak sedap yang berasal dari aktivitas dapur, masyarakat berharap pihak yayasan selaku pengelola dapat memberikan penjelasan resmi sekaligus melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan limbah dan fasilitas pendukung lainnya. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pelayanan pemenuhan gizi tetap berjalan optimal dengan tetap memperhatikan kenyamanan serta kondisi lingkungan masyarakat di sekitar lokasi.

Ketiga narasumber, yakni Sarinem, Ripin, dan Robi, secara terpisah meminta Pemerintah Kabupaten Pringsewu melalui instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk segera turun langsung melakukan inspeksi lapangan terhadap sistem pengelolaan limbah di lokasi dapur SPPG Ambarawa Barat.

Menurut mereka, pemeriksaan menyeluruh diperlukan guna memastikan apakah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sarana pendukung lainnya telah berfungsi sesuai standar lingkungan yang berlaku. Warga juga meminta dilakukan pengujian terhadap saluran pembuangan serta sumber aroma yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

BACA JUGA:  AS dan Warga RH Kompak Bantah Dugaan Asusila dalam Insiden Pringsewu, RH: Tidak Ada Perbuatan Mesum

“Kami berharap ada pemeriksaan langsung dari instansi yang berwenang. Jika ditemukan adanya pelanggaran atau pengelolaan limbah yang tidak sesuai ketentuan, kami meminta agar diberikan teguran, pembinaan, hingga tindakan administratif sesuai aturan yang berlaku,” ungkap salah seorang warga mewakili aspirasi masyarakat sekitar.

Senada dengan itu, Ripin dan Robi berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan sesaat, tetapi juga melakukan pengawasan berkala untuk memastikan permasalahan yang dikeluhkan warga benar-benar terselesaikan. Mereka menilai langkah tersebut penting agar operasional dapur pelayanan gizi dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan dampak lingkungan maupun mengurangi kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Warga juga meminta hasil pemeriksaan nantinya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat sehingga terdapat kepastian mengenai sumber permasalahan serta langkah perbaikan yang harus dilakukan oleh pihak pengelola apabila ditemukan adanya kekurangan dalam sistem pengelolaan limbah.

Menurut warga, keluhan tersebut bukan hanya dirasakan oleh satu atau dua keluarga. Beberapa warga lain yang tinggal di sekitar lokasi juga mengaku mencium aroma serupa dan berharap adanya perhatian dari pihak pengelola agar permasalahan tersebut dapat segera ditangani.

Warga menegaskan bahwa mereka mendukung program pemenuhan gizi yang dijalankan pemerintah karena dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun demikian, mereka berharap operasional dapur tetap memperhatikan aspek lingkungan dan kenyamanan warga sekitar.

Masyarakat juga meminta instansi terkait untuk melakukan peninjauan guna memastikan sistem pengelolaan limbah di lokasi tersebut telah berjalan sesuai standar yang berlaku. Langkah evaluasi dinilai penting agar pelayanan pemenuhan gizi dapat terus berjalan tanpa menimbulkan dampak yang mengganggu lingkungan sekitar.

Hingga berita ini ditulis, pihak Yayasan Nusantara Lampung Abadi maupun pengelola SPPG Ambarawa Barat belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan warga tersebut. Upaya konfirmasi kepada pihak pengelola, yayasan, dan instansi terkait masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan yang berimbang mengenai dugaan sumber bau yang dikeluhkan masyarakat. ( DAVIT )

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *