Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Bukan Sekadar Panggung Meriah: Brebes Culture Festival dan Awal Kebangkitan Kebudayaan Daerah

IMG 20260828 230850
KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, Peneliti dan Pegiat Budaya Brebes.(Foto dok hariandaerah.com/PutraZambase)

BREBES — Ada masa ketika kebudayaan Brebes seperti rumah tua yang lama ditinggalkan penghuninya. Rumah itu tidak pernah benar-benar runtuh, sebab di dalamnya masih tersimpan cerita, ritual, kesenian, bahasa, makanan, naskah, tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hanya saja, pintunya jarang dibuka, jendelanya berdebu, sementara orang-orang yang tinggal di dalamnya sering merasa tidak cukup percaya diri untuk mengatakan kepada dunia bahwa mereka memiliki rumah kebudayaan yang begitu kaya.

Demikian dikemukakan KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, peneliti dan pegiat budaya Brebes, dalam sebuah refleksi mendalam menyikapi pelaksanaan Brebes Culture Festival (BCF) 2026. Kepada awak media hariandaerah.com Jumat 28/08/2026 malam.

Brebes selama bertahun-tahun lebih sering dikenal melalui bawang merah, telur asin, jalur Pantura, dan kemacetan jalannya, daripada melalui kekayaan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Padahal, di balik hamparan sawah dan hiruk-pikuk jalan raya, terdapat kebudayaan adi luhung yang menunggu untuk dirawat, dibicarakan, dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Kesadaran semacam itu, menurut Dimas, merupakan pintu pertama menuju kebangkitan kebudayaan. Sebuah daerah tidak cukup hanya memiliki tradisi, sebab tradisi yang tidak disadari nilainya mudah berubah menjadi kebiasaan tanpa makna. Kebudayaan baru memperoleh daya hidup ketika masyarakat mulai memandang warisan leluhur bukan sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai sumber pengetahuan tentang siapa mereka dan bagaimana mereka seharusnya berjalan ke masa depan.

“Brebes memiliki banyak jejak, dari tradisi masyarakat pesisir hingga kebudayaan pedalaman, dari kesenian rakyat sampai pengetahuan lokal tentang alam dan kehidupan. Semua itu merupakan kekayaan yang tidak dapat diukur hanya dengan jumlah pertunjukan atau banyaknya festival,” ujar Dimas.

Dalam konteks semacam itulah Brebes Culture Festival menjadi penting untuk dibaca. Festival ini bukan sekadar panggung pertunjukan, bukan pula sekadar agenda seremonial pemerintah yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. BCF dapat menjadi momentum ketika Brebes mulai bercermin dan bertanya kepada dirinya sendiri: kebudayaan seperti apa yang hendak kita wariskan kepada anak-anak kita?

BACA JUGA:  Brimob Polda Aceh Bersinergi Dengan Polres Nagan Raya Laksanakan Patroli Terpadu

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang tampil, berapa banyak penonton yang datang, atau seberapa meriah sebuah panggung dibangun. Sebab kebangkitan kebudayaan selalu bermula dari keberanian sebuah masyarakat untuk memandang dirinya sendiri dengan penuh penghargaan.

Bagi pegiat kebudayaan yang selama bertahun-tahun bergiat dalam kesunyian, momentum semacam ini terasa memiliki arti yang khusus. Maka ketika pemerintah daerah mulai memberikan perhatian serius terhadap kebudayaan, ada perasaan haru yang sulit disembunyikan: ternyata suara yang selama ini terdengar lirih mulai mendapat ruang untuk didengar.

Selama bertahun-tahun, kebudayaan sering berada di pinggir meja pembangunan. Jalan dibangun, gedung didirikan, ekonomi digenjot, tetapi kebudayaan kerap dianggap sebagai pelengkap yang boleh ada dan boleh tidak. Padahal pembangunan tanpa kebudayaan dapat membuat sebuah daerah tumbuh secara fisik tetapi kehilangan arah batinnya.

Dalam kepemimpinan Bupati Paramitha, muncul kebaruan yang patut dicatat dalam sejarah kebudayaan Brebes. Pengalokasian anggaran yang besar untuk kebudayaan memberikan sinyal bahwa pemerintah mulai melihat kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Bagi pegiat kebudayaan, anggaran adalah napas yang memungkinkan sebuah gagasan bergerak menjadi kerja nyata.

“Saya melihat kebijakan ini sebagai angin segar. Bukan karena semua persoalan kebudayaan Brebes tiba-tiba selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang panjang terdapat kemauan politik yang lebih kuat untuk memberikan ruang kepada kebudayaan,” tegas Dimas.

Namun, apresiasi tidak berarti membungkam kritik. Kebudayaan justru membutuhkan kritik agar tidak berubah menjadi seremoni yang kehilangan ruh. Pemerintah membutuhkan para budayawan yang berani memberikan masukan, sementara budayawan juga membutuhkan pemerintah yang bersedia mendengar.

Salah satu kritik yang muncul adalah kehadiran cukup banyak pegiat budaya dari luar daerah. Kekhawatiran bahwa kebudayaan sendiri justru menjadi penonton di rumahnya sendiri adalah kekhawatiran yang sah. Namun Dimas tidak sepakat jika kehadiran pegiat budaya dari luar langsung dianggap kekeliruan.

“Mendatangkan budayawan dari luar dapat menjadi cara untuk memperkenalkan Brebes kepada jaringan kebudayaan yang lebih luas. Mereka datang bukan hanya membawa pertunjukan, tetapi juga membawa mata, telinga, jaringan, pengalaman, dan percakapan baru. Ketika mereka pulang, nama Brebes ikut terbawa dalam ingatan dan pembicaraan mereka,” jelasnya.

BACA JUGA:  Satlantas Polres Brebes Siapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Brebes Culture Festival  

Tentu, komposisi ini perlu terus dievaluasi. Ruang bagi komunitas lokal, seniman lokal, dan tradisi lokal perlu diperbesar pada penyelenggaraan berikutnya — bukan dengan menutup pintu bagi orang luar, melainkan dengan memperkuat posisi Brebes sebagai pusat perjumpaan.

Perlu pula dipahami bahwa BCF lahir dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI. Tema kenusantaraan yang diusung membuat cakupan kebudayaan tidak berhenti pada batas administratif Kabupaten Brebes. Menghadirkan pegiat budaya dari berbagai daerah sesungguhnya selaras dengan semangat Nusantara yang saling bertemu, bertukar pengaruh, dan memperkaya satu sama lain.

“Kita perlu membedakan antara perayaan kebudayaan dalam konteks HUT RI dan perayaan hari jadi Kabupaten Brebes. Keduanya memiliki ruang dan orientasi yang berbeda,” papar Dimas.

BCF tentu belum sempurna. Masih terdapat banyak catatan soal kurasi, keberpihakan kepada pelaku lokal, kesinambungan program, hingga dampak jangka panjang bagi ekosistem kebudayaan. Namun sebuah festival yang baru tumbuh tentu tidak bisa langsung dituntut memiliki kematangan seperti festival yang telah berlangsung puluhan tahun.

Yang jauh lebih penting adalah adanya perubahan suasana. Ketika panggung kebudayaan mulai disediakan, suara-suara yang selama ini terdengar dari ruang-ruang kecil dapat dibawa ke ruang publik yang lebih luas.

“Kita tidak membutuhkan kebudayaan yang hanya ramai ketika panggung dibuka, lalu sunyi ketika panggung ditutup. Kita membutuhkan kebudayaan yang tumbuh sebagai napas kehidupan sehari-hari,” tegas Dimas.

Maka, mari kita beri kesempatan kepada BCF untuk tumbuh — mengapresiasi keberanian pemerintah membuka pintu yang selama ini tertutup, sembari tetap menjaga mata untuk melihat kekurangan dan mulut untuk menyampaikan kritik. Sebab kebangkitan kebudayaan tidak lahir dari pemerintah saja, tidak pula dari budayawan saja, tetapi dari perjumpaan keduanya dengan masyarakat sebagai pemilik kebudayaan yang sesungguhnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *