Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Diryo Suparto: Muscab Demokrat Brebes 2026 — Pertarungan Petahana, Arus Perubahan, dan Politik Akar Rumput Menuju 2029

IMG 20260819 WA0119
Ilustrasi:Dua arah kekuatan di Muscab Demokrat Brebes: petahana dengan pengalaman institusional, dan penantang membawa narasi perubahan serta konsolidasi akar rumput.(dokumen hariandaerah.com) 

BREBES — Agenda musyawarah Cabang (Muscab) IV Partai Demokrat Kabupaten Brebes, yang dalam waktu dekat akan digelar bukan sekadar perebutan kursi ketua. Kontestasi antara petahana Hj. Opy Ropiyah dan penantang Asrofi membelah dua arah kekuatan: kesinambungan kepemimpinan di satu sisi, dan tuntutan perubahan serta aspirasi akar rumput di sisi lain — semuanya mengarah pada Pemilu 2029.

Demikian dikemukakan Diryo Suparto, Dosen FISIP Universitas Pancasakti Tegal sekaligus Direktur Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik (PSPK) Jawa Tengah, dalam wawancara mendalam bersama awak media hariandaerah.com pada, Rabu 19/08/2026 malam.

Hingga 8 Agustus 2026, kedua calon dinyatakan lolos verifikasi pencalonan. Syarat minimal dukungan lima PAC terpenuhi oleh keduanya, namun hasil akhir menunjukkan konfigurasi tujuh berbanding lima — tanpa diumumkan secara terbuka siapa yang memperoleh jumlah dukungan mana.

“Opy Ropiyah memegang modal sebagai petahana. Pada Muscab 2021, ia didukung seluruh 17 PAC dan menjadi calon tunggal. Pengalaman ini memberinya modal institusional, jaringan internal, serta akses komunikasi vertikal dengan struktur DPD hingga DPP,” urai Diryo.

BACA JUGA:  Tragedi Birokrasi: Ketika Absensi Dimanipulasi, Rakyat Dirugikan, dan Kepercayaan Terkoyak

Sementara itu, lanjutnya, Asrofi tampil membawa narasi perubahan dan konsolidasi akar rumput. Setidaknya sembilan PAC secara terbuka menyatakan dukungan kepadanya: Banjarharjo, Bantarkawung, Brebes, Bumiayu, Jatibarang, Ketanggungan, Losari, Paguyangan, dan Salem.

Delapan PAC lainnya — Bulakamba, Kersana, Larangan, Sirampog, Songgom, Tanjung, Tonjong, dan Wanasari — belum dapat dipetakan secara pasti. Diryo mengingatkan: “Belum adanya deklarasi kepada Asrofi tidak otomatis berarti PAC tersebut mendukung Opy. Ruang tawar masih terbuka.”

“Inilah yang menarik,” papar Diryo. “Dalam peta deklarasi publik, Asrofi tampak lebih dominan. Namun dalam peta hasil verifikasi organisasi, persaingan justru jauh lebih ketat dengan selisih yang tipis. Artinya, dukungan yang terlihat di media belum tentu sama dengan dukungan yang sah secara prosedur internal partai.”

Posisi Opy tidak dapat diremehkan meski tidak mendominasi pemberitaan. “Ia memiliki pengalaman, kedalaman jaringan organisasi, dan relasi vertikal yang mapan. Sebaliknya, Asrofi memiliki momentum perubahan dan kemampuan mobilisasi yang terlihat lebih kuat di ruang publik,” tambahnya.

BACA JUGA:  Mulai Perjalanan Baru, 260 Siswa Ikuti MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Brebes

Muscab ini, kata Diryo, harus dibaca dalam konteks Pemilu 2029. Saat ini Demokrat Brebes memiliki tiga kursi di DPRD.

“Ukuran keberhasilan ketua baru bukan sekadar memenangkan Muscab. Tantangan sesungguhnya adalah menyatukan kembali 17 PAC, memperkuat ranting, membuka ruang regenerasi kader, dan yang terpenting — meningkatkan kinerja elektoral partai,” tegas Diryo.

“Kemenangan sesungguhnya bukan ketika Opy atau Asrofi menang pemilihan. Kemenangan yang nyata justru ketika Demokrat mampu mengubah konsolidasi internal menjadi peningkatan kepercayaan publik dan bertambahnya jumlah kursi pada Pemilu 2029,” pungkas Diryo Suparto.

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *