BREBES — Ratusan jamaah, santri, dan tokoh agama berkumpul dalam kekhusyukan di Dusun Kedawon, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jumat (28/8/2026). Pondok Pesantren Al Hasaniyah Kedawon menggelar peringatan Haul Dzurriyah Mbah Kisyam bin Ki Pencar, sekaligus memperingati 30 tahun berdirinya lembaga pendidikan tersebut.
Kegiatan ini menjadi momentum krusial, bukan hanya sebagai seremonial milad, melainkan untuk menyingkap kembali jejak sejarah yang sempat terserak. Mbah Kisyam, tokoh yang dihaulkan, diketahui memiliki garis keturunan langsung dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasaniyah, Dr. KH. Nuridin Syamsudin, S.H., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil ikhtiar penelusuran sejarah yang dilakukan selama puluhan tahun. Penelusuran nasab ini diperkuat dan dikonfirmasi oleh ahli sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat.
“Hasil penelusuran membuktikan bahwa Mbah Kisyam adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya V, melalui trah Senopati Mataram dan Ki Tumenggung Suroloyo — Bupati Brebes yang pertama,” jelas Kyai Nuridin saat ditemui awak media.
“Kami sampaikan kepada masyarakat, terutama para dzuriyah yang hampir 90 persen baru menyadari garis keturunannya. Banyak yang akhirnya menemukan saudara kembali setelah sekian lama terpisah oleh gelombang sejarah,” tambahnya.
Kehadiran Raden Tumenggung Irham Rekso Puspoko, Juru Kunci Makam Amangkurat I Tegal, turut memperkuat validitas sejarah dalam pertemuan ini. Ia memaparkan bahwa keterkaitan nasab tersebut didasarkan pada manuskrip resmi yang tersimpan di Keraton Kasunanan Surakarta.
Berdasarkan catatan sejarah tersebut, Mbah Kisyam juga berperan penting sebagai sosok yang “membabat alas” di wilayah Kedawon untuk menyebarkan syiar Islam.
Bagi Kyai Nuridin, haul ini menjadi jembatan untuk menyatukan kembali keturunan Mbah Kisyam yang tersebar, sekaligus mengingatkan agar meneladani kesalehan sang leluhur.
Di usianya yang ke-30, Al Hasaniyah kini tidak hanya tumbuh sebagai institusi pendidikan dengan ribuan santri dari tingkat RA hingga Aliyah, tetapi juga menjelma menjadi penjaga gawang sejarah Islam di Brebes.
“Kami memastikan mata rantai perjuangan para ulama terdahulu tidak terputus dimakan zaman,” tegas Kyai Nuridin.














