Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Cegah Stunting, Dinkes Aceh: Pentingnya Asupan Protein Hewani pada Anak

Stunting
Kabid Kemas Dinkes Aceh, dr. Sulasmi, MHSM. (Foto: harianderah.com/Herlin).

BANDA ACEHStunting merupakan kondisi yang menyebabkan masalah pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) yang diakibatkan kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama. Sehingga, ukuran tubuh anak lebih pendek dari rata-rata anak normal seusianya dan fungsi otak tidak bekerja optimal, sehingga anak memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp. OG (K), melalui Kepala Bidang kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, dr. Sulasmi, MHSM kepada hariandaerah.com, Kamis (14/12/2023).

Lebih lanjut, Sulasmi  mengingatkan, pentingnya asupan gizi anak di masa MPASI, terutama protein hewani. Karena, penyebab stunting yang sering ditemukan adalah pemberian MPASI yang tidak adekuat.

Dia menjelaskan, saat anak berusia enam bulan, konsumsi ASI saja (eksklusif) tak lagi mampu mencukupi kebutuhan gizinya. Ketika anak menginjak usia enam bulan, kandungan zat gizi makro terutama protein, lemak, dan karbohidrat pada ASI akan mengalami penurunan.

Ketika anak berusia 6-8 bulan kandungan gizi ASI berkurang 30 persen, lalu pada usia 9-11 bulan berkurang lagi hingga 50 persen, dan selanjutnya terus berkurang hingga 70 persen. Kandungan zat gizi mikro seperti zat besi dan zink di dalam ASI juga mengalami penurunan hingga 95 – 97 persen setelah anak berusia enam bulan. Oleh karena itu, 60,6 persen stunting terjadi antara lahir sampai usia 2 tahun, dan 28 persen terjadi antara usia 2-5 tahun.

Kabid kesehatan Masyarakat Dinkes Aceh itu mengungkapkan, untuk meningkatkan kualitas MPASI, langkah penting yang dapat dilakukan adalah meningkatkan konsumsi protein hewani.

BACA JUGA:  Sambut Ramadhan, Polsek Simeulue Timur Bersama Masyarakat Laksanakan Gotong Royong di Mesjid

“Mencukupi asupan protein hewani dipercaya efektif untuk mencegah kondisi stunting pada anak,” ujar Sulasmi.

Sebagaimana diketahui, dibandingkan protein nabati, konsumsi protein hewani seperti telur, daging sapi, daging ayam, ikan, susu, dan sebagainya, mengandung lebih banyak lemak (sekitar 30-40%), vitamin B12, vitamin D, DHA, zat besi, dan zinc yang diperlukan anak untuk mendukung pertumbuhan anak.

“Konsumsi protein hewani penting untuk pertumbuhan anak. Sebabnya, di dalam tubuh kita ada sensor pertumbuhan yang bernama mTOR (mammalian target of rapamycin),” katanya.

Dia menyebut sensor ini akan menyala apabila kadar asam amino esensial di dalam darah cukup tinggi. Ketika sensornya sudah menyala, tubuh akan mampu melakukan proses sintesa protein dan sintesa lemak secara baik sehingga pertumbuhan anak berlangsung normal.

“Jenis asam amino esensial yang diperlukan untuk menyalakan sensor ini hanya bisa diperoleh dari konsumsi protein hewani,” jelasnya.

Sayangnya kata Sulasmi, hingga saat ini konsumsi protein hewani di Indonesia Khususnya di Aceh, masih sangat rendah, yaitu hanya 9,58 gram untuk kelompok ikan, udang, cumi, kerang, 4,79 gram untuk kelompok daging, dan 3,37 gram untuk kelompok telur/susu. Agar bisa memenuhi target pertumbuhan normal, porsi konsumsi protein hewani perlu diberikan secara tepat sesuai dengan usia dan kondisi anak. Misalnya pada anak sehat berusia 6-11 bulan yang rata-rata memerlukan kenaikan berat badan antara 200-400 gram per bulan.

“Kebutuhan protein hewani hariannya adalah sekitar 15 gram yang bisa diperoleh dari konsumsi 1 butir telur (6 gram) dan 1 ekor ikan lele (11 gram). Dan begitu pula pada anak usia 1-2 tahun membutuhkan 20 gram protein dan usia 3-5 tahun 25 gram protein, sehingga juga dibutuhkan konsumsi protein hewani yang cukup ,” ungkap Sulasmi.

BACA JUGA:  Siap Jadi Lumbung Pangan Nasional, Wamentan RI Kunjungi Kabupaten Aceh Jaya
Cegah Stunting, Dinkes Aceh: Pentingnya Asupan Protein Hewani pada Anak WhatsApp Image 2023 12 03 at 16.11.12
Telur dan Daging Ayam yang Kaya Protein. (Foto: hariandaerah.com/Herlin).

Seperti diketahui, gangguan tumbuh kembang anak berupa stunting masih menjadi masalah kesehatan nasional yang mendapat perhatian serius dari pemerintah kita. Mengacu pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 21,6 persen. Meski telah mengalami penurunan dari 24,4 persen pada 2021, tetapi angka prevalensi stunting ini masih belum memenuhi standar WHO yang semestinya tidak lebih dari 20 persen. Dalam strategi nasional, pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga ke angka 14 persen pada 2024.

Data membuktikan bahwa balita weight faltering yang tidak segera diintervensi menyebabkan penurunan status gizi akut (BB kurang/sangat kurang) dan kronis (stunting).

“Bukti menunjukkan balita stunting diawali dengan weight faltering di usia kurang 1 tahun dan kondisi kekurangan gizi menahun (kronis),” kata Sulasmi.

Pada kesempatan itu, Sulasmi  menyampaika, bahwa masalah stunting ini memiliki penyebab dan situasi yang berbeda antar daerah. Namun, secara garis besar diperlukan asupan protein hewani kepada seluruh bayi-bayi sehingga asupan ini perlu dipastikan ketersediaannya.

“Baik dengan memastikan orang tua memiliki kondisi yang baik untuk memberikan ASI kepada seluruh bayi serta MPASI dengan kandungan protein hewani di dalamnya,” kata Sulasmi.

Jenis dan jumlah asupan merupakan informasi dan sekaligus keterampilan yang perlu diketahui. Evaluasi perlu dilakukan atas situasi response saat ini dalam penanggulangan stunting serta diperlukan akselerasi upaya agar kita bersama-sama betul-betul dapat menurunkan insidensi stunting ini di tengah-tengah masyarakat melalui pemberian asupan protein yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *