Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Cegah Stunting Pada Anak Dengan Protein Hewani, Ini Kata Sulasmi

dr-sulasmi-mhsm
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Aceh, dr. Sulasmi, MHSM (Foto: hariandaerah.com/Imam)

BANDA ACEH – Masalah stunting merupakan salah satu isu penting dalam dunia kesehatan anak-anak yang masih menjadi perhatian besar, khususnya anak-anak di negara terbelakang dan negara berkembang. Stunting sendiri mengalami perubahan. Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Selanjutnya menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh menargetkan angka stunting di Provinsi paling bara Indonesia tersebut turun jadi 5 persen di akhir tahun 2022.

Berdasarkan data Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Aceh, angka prevalensi stunting di provinsi ujung barat Indonesia tersebut mencapai 31,2 %.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp. OG (K), melalui Kepala Bidang kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, dr. Sulasmi, MHSM kepada hariandaerah.com, Kamis (14/12/2023).

Menurut Sulasmi, stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur terhadap anak anak seusianya.

BACA JUGA:  Walikota Subulussalam: Pencitraan Itu Lebih Penting

“Stunting atau pertumbuhan anak yang terhambat menjadi salah satu indikator penting kesehatan masyarakat, dan Dinkes Aceh berusaha keras untuk mengatasi masalah ini,” kata Sulasmi.

Sementara di Indonesia, stunting masih menjadi masalah kesehatan serius yang di hadapi Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6%. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4%. Walaupun menurun, angka tersebut masih tinggi, mengingat target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14% dan standard WHO di bawah 20%.

Dalam kesempatan itu Sulasmi mengungkapkan, angka stunting tersebut disebabkan berbagai faktor, salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran. Hal ini berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting.

Stunting
Ikan Segar Kaya Protein Hewani. (Foto: hariandaerah.com)

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinkes Aceh mengkampanyekan pentingnya pemberian protein hewani kepada anak utamanya anak usia dibawah 2 tahun.

“Setelah bayi berusia 6 bulan harus rajin melakukan pengukuran, karena Selain ASI eksklusif juga ada makanan tambahan, kalau kurang protein hewani anaknya bisa stunting. Protein hewani ini seperti susu, telur, ikan dan ayam,” kata Sulasmi

BACA JUGA:  Demo di DPR Aceh Sempat Ricuh, Kabid Humas Polda : 5 Polisi dan 3 Mahasiswa Terluka

Lebih lanjut Sulasmi menekankan bahwa cara tersebut efektif mencegah stunting pada anak karena protein hewani mengandung zat gizi lengkap seperti asam amino, mineral dan vitamin yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti telur, daging/ikan dan susu atau produk olahannya (keju, yogurt, dll). Penelitian tersebut juga menunjukan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Sayangnya, meski bermanfaat untuk mencegah stunting pada anak, konsumsi protein per kapita masih tergolong rendah. Data Susenas 2022 menunjukkan rata-rata konsumsi protein per kapita sehari 62.21 gram (diatas standar 57 gram), tetapi konsumsi telur dan susu 3.37 gram, daging 4.79 gram dan ikan/udang/cumi/kerang berkisar 9.58%.

“Tidak hanya memberikan protein hewani pada anak, berat dan tinggi badan anak juga harus dipantau secara berkala di Posyandu. Ini penting untuk melihat keberhasilan intervensi sekaligus upaya deteksi dini masalah kesehatan gizi sehingga tidak terlambat ditangani,” terangnya.

“Karenanya kalau kita sayang anak-anak kita, tolong dipastikan kalau ditimbang berat badannya naik, kalau tidak naik segera bawa ke Puskesmas,” pungkas Sulasmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *