Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Cegah Stunting Pada Anak, Dinkes Aceh Dorong Kesadaran Akan Pentingnya Imunisasi

Stunting
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM. (Foto: hariandaerah.com/Herlin).

BANDA ACEHImunisasi adalah pemberian vaksin untuk melindungi tubuh atau membuat tubuh kebal terhadap penyakit tertentu. Vaksin terbuat dari kuman yang sudah melalui proses pelemahan atau bahkan dimatikan. Imunisasi dapat memberikan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat sehingga merangsang terbentuknya zat antibodi.

Pemberian vaksin akan melindungi tubuh anak terhadap infeksi sejumlah penyakit menular di masa mendatang. Tidak hanya menghindarkan anak dari serangan penyakit serius, vaksinasi anak juga bisa melindungi masyarakat yang lebih luas. Hal itu karena imunisasi membantu meminimalkan terjadinya penyebaran penyakit.

Di Indonesia, imunisasi rutin lengkap terdiri dari dua jenis, yaitu imunisasi dasar dan lanjutan. Jadwal imunisasi tersebut tergantung pada usia anak. Imunisasi dasar penting sebagai langkah pencegahan utama anak dari berbagai penyakit menular.

Tidak ada salahnya ibu ketahui berbagai imunisasi dasar untuk anak melalui artikel ini: Ibu, Ini Jadwal Imunisasi Anak Menurut Rekomendasi IDAI Tahun 2023.

Hal tersebut disampaikan, Kepala Dinas kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp. OG (K) melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kemas) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM saat dikonfirmasi hariandaerah.com diruang kerjanya, Senin (18/12/2023).

Hingga saat ini perbincangan tentang pemenuhanan imuniasis lengkap kepada anak masih saja terjadi, bahkan di daerah-daerah masih banyak orang tua yang enggan melengkapi imunisasi kepada anaknya.

Lebih lanjut, Sulasmi  mengatakan, masih banyak masyarakat yang beranggapan setelah pemberian imunisasi anak akan mengalami efek samping ringan, termasuk demam tinggi. Sedangkan demam setelah imunisasi umumnya merupakan respons normal tubuh terhadap vaksinasi, ini menandakan bahwa sistem kekebalan sedang bekerja untuk mengenali dan melawan patogen yang ada dalam vaksin.

“Penting untuk diingat bahwa manfaat imunisasi jauh lebih besar daripada risiko reaksi samping yang mungkin terjadi. Imunisasi melindungi anak dari penyakit serius dan dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih berbahaya daripada demam ringan yang mungkin terjadi,” kata Sulasmi.

Pada kesempatan itu, Sulasmi menjelaskan, jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, hal tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting. Imunisasi yang tidak lengkap atau tidak dilakukan sama sekali dapat membuat anak lebih rentan terhadap infeksi penyakit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Penyakit infeksi seperti campak, polio, difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B dapat menyebabkan komplikasi serius dan mempengaruhi penyerapan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan yang optimal,” jelasnya.

stunting
Petugas Kesehatan Saat Memberikan imunisasi kepada anak Balita. (Foto: hariandaerah.com/H).

Tak hanya itu, Sulasmi menyampaikan,  jika anak terinfeksi oleh penyakit-penyakit ini, mereka mungkin mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan berat badan yang signifikan, gangguan perkembangan mental, dan masalah kesehatan lainnya. Ketika anak sakit akibat infeksi, tubuh mereka akan menggunakan energi tambahan untuk melawan infeksi tersebut.

BACA JUGA:  Rayakan Hari Kemerdekaan, Masyarakat Lorong Cemara Desa Keudah Muka Gelar Lomba

“Ini dapat mengurangi sumber energi yang tersedia untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, dalam jangka waktu panjang kondisi seperti ini dapat menyebabkan stunting,” ungkap Sulasmi.

Kemudian kata Sulasmi, penting untuk memastikan anak menerima imunisasi lengkap sejak bayi lahir, dengan jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) dan otoritas kesehatan seperti pemeberian Hepatitis B yang diberikan segera setelah lahir, idealnya dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.

Kemudian imunisasi BCG diberikan pada usia 0-2 bulan, Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) diberikan pada usia 2, 4, dan enam bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 15-18 bulan dan 4-6 tahun. Imunisasi Polio diberikan pada usia dua, empat, dan enam bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 15-18 bulan dan 4-6 tahun.

Lanjutnya, lalu ada Imunisasi Hib (Haemophilus influenzae type b) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 12-15 bulan, PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) diberikan pada usia dua, empat, dan enam bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 12-15 bulan, MMR (Measles, Mumps, Rubella) diberikan pada usia 12-15 bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 4-6 tahun, Hepatitis A diberikan pada usia 12-23 bulan. Dosis lanjutan juga diberikan pada usia 2-6 tahun.

“Anak bisa juga diberikan imunisasi rotavirus, meningitis, influenza, dan lain sebagainya, tapi tetap sesuai dengan rekomendadi dokter dan harus sesuai dengan waktu yang ditentukan,” terangnya.

Sulasmi menuturkan, meski cakupan imunisasi dasar lengkap turun dari 84,2 persen pada 2020 menjadi 79,6 persen pada 2021, menjadikan anak-anak di seluruh Indonesia berisiko lebih besar tertular penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio.

Sutinting
Petugas Kesehatan Saat Melaksanakan Pemberian Gizi dan Imunisasi di Posyandu. (Foto: hariandaerah.com/Herlin).

“Sedangkan tahap lanjutan bertujuan untuk menjaga imunitas anak tetap optimal seiring bertambahnya usia mereka. Selain itu, ada juga imunisasi ulangan atau booster sebagai penguat kekebalan,” kata Sulasmi.

Tujuan dan Indikasi Imunisasi

Imunisasi merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat tubuh kebal sekaligus mencegah penularan penyakit tertentu. Selain bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak terhadap penyakit tertentu, imunisasi juga bermanfaat untuk masyarakat umum.

Ketika anak-anak mendapatkan imunisasi, maka tubuhnya terlindungi sekaligus melindungi kesehatan masyarakat umum secara keseluruhan. Sebab, jika dalam satu komunitas cukup banyak orang yang kebal terhadap infeksi, maka penyakit tersebut akan semakin sulit menyebar dan menular ke orang lain yang belum diimunisasi.

BACA JUGA:  Miliki Narkoba Jenis Sabu, Seorang Pria Lhokseumawe Diringkus Polisi

Kondisi tersebut dikenal dengan herd immunity atau kekebalan komunitas. Jadi, secara tidak langsung, anak-anak yang mendapatkan imunisasi telah berkontribusi bagi masyarakat sekitarnya dalam hal kesehatan.

Berbagai Manfaat Imunisasi

Manfaat imunisasi sangat baik untuk tumbuh kembang anak. Berikut berbagai manfaat imunisasi untuk anak:

  1. Imunisasi dapat menyelamatkan hidup anak di kemudian hari.
  2. Sangat aman dan efektif dalam mencegah penyakit tertentu.
  3. Melindungi orang lain yang kamu sayangi.
  4. Menghemat waktu dan uang. Sebab, waktu dan uang yang dikeluarkan untuk mengobati akan lebih banyak dibandingkan mencegahnya.
  5. Melindungi kesehatan generasi berikutnya.

Peringatan dan Larangan Imunisasi

Sebelum melakukan imunisasi, ada beberapa peringatan yang perlu diiketahui, seperti:

  1. Sebaiknya anak tidak mendapatkan imunisasi ketika pernah memiliki riwayat alergi terhadap salah satu vaksin.
  2. Orang dengan gangguan imun tubuh sebaiknya tidak menjalani imunisasi.
  3. Pengidap penyakit kronis.
  4. Mengalami kondisi gawat darurat.
  5. Mengalami demam tinggi.
  6. Pastikan tubuh berada dalam kondisi yang sehat saat hendak melakukan imunisasi.
  7. Beri tahu dokter mengenai jenis obat-obatan, vitamin, serta suplemen yang sedang dikonsumsi.

Jenis dan Jadwal Imunisasi

  1. Vaksin hepatitis B

Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk mencegah anak terkena penyakit hepatitis B yang menyerang organ hati. Vaksin hepatitis B primer perlu ibu berikan sebanyak empat kali. Vaksin pertama diberikan dalam 24 jam setelah lahir bila berat badan bayi mencapai >2000 gram. Bayi yang berat badannya kurang dari itu perlu menunda vaksinasi.

Vaksin selanjutnya bisa ibu berikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Satu kali booster pada  usia 18 bulan.  Imunisasi hepatitis B juga bisa ibu lakukan bersama dengan imunisasi DPT.

  1. Vaksin BCG

Tujuannya untuk mencegah penyakit tuberculosis (TBC) yang terkadang dapat berkembang menjadi meningitis. Pemberian imunisasi BCG untuk anak hanya dilakukan sebanyak satu kali, yaitu pada usia 0-1 bulan.

  1. Vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus)

Ini merupakan vaksin kombinasi yang bisa memberi perlindungan terhadap tiga penyakit berbahaya tersebut. Difteri adalah infeksi serius pada tenggorokan yang bisa menyumbat saluran napas dan menyebabkan masalah pernapasan yang parah.

Tetanus adalah penyakit saraf yang bisa menyerang siapa saja dari semua usia, yang terjadi akibat bakteri penghasil toksin yang mengkontaminasi luka. Sementara itu, pertusis atau batuk rejan adalah penyakit pernapasan yang bisa menyebabkan batuk parah pada anak.

Pemberian imunisasi DPT primer adalah sebanyak tiga kali, yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Booster sebanyak dua kali bisa diberikan pada usia 18 bulan dan 5-7 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *