BREBES – Menyusul suksesnya pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat tingkat Provinsi Jawa Tengah pada April lalu, rangkaian agenda berjenjang akan dilanjutkan ke tingkat kabupaten dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Penjadwalan pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) sepenuhnya menjadi kewenangan DPD Provinsi, sehingga saat ini seluruh wilayah termasuk Kabupaten Brebes tengah memasuki masa konsolidasi dan kaderisasi.
Momen ini dimanfaatkan oleh sejumlah kader untuk menyampaikan aspirasi, salah satunya adalah Asrofi yang secara resmi menyatakan niatnya maju sebagai bakal calon Ketua DPC Partai Demokrat Brebes.
“Di masa seperti ini, sangat wajar jika para pemegang hak pilih dari tingkat PAC menyampaikan usulan dan dukungan. Sebagai kader, saya telah membangun komunikasi dengan teman-teman pengurus dari 17 kecamatan se-Brebes untuk menyampaikan maksud saya ini,” ungkap Asrofi kepada awak media, Senin (04/05/2026).
Ia menambahkan, demi menjaga adab dan etika berorganisasi, dirinya juga sudah berusaha menyampaikan niat tersebut kepada Ketua DPC yang sedang menjabat. Namun sayangnya, hingga saat ini komunikasi yang disampaikan belum mendapatkan tanggapan atau respon sama sekali.
Dari hasil komunikasi yang dilakukan, respon yang diterima sangat positif. Mayoritas dari 17 PAC yang ada telah memberikan dukungan secara tertulis kepada Asrofi untuk maju dalam proses pemilihan nantinya.
Namun, situasi berubah setelah dukungan tersebut menyebar. Sejumlah pengurus PAC yang telah menyatakan dukungannya diketahui mendapatkan perlakuan yang tidak pantas berupa intervensi hingga intimidasi dari pihak pengurus DPC.
Kejadian ini terungkap dalam pertemuan yang diinisiasi oleh DPC pada hari Minggu lalu di Rumah Makan Semesta, Bumiayu, yang ditujukan untuk pengurus PAC zona selatan. Dari semuanya, hanya perwakilan tiga kecamatan yang hadir, yakni Bumiayu, Paguyangan, dan Salem. Sementara yang lain tidak hadir dengan berbagai alasan: ada yang sedang menunaikan ibadah haji, tidak dapat dihubungi, bahkan satu di antaranya telah dibekukan masa baktinya secara sepihak.
“Di pertemuan itulah mereka mendapatkan tekanan secara terang-terangan. Isinya meminta agar dukungan yang sudah diberikan kepada saya segera dicabut. Jika tidak dipatuhi, kepengurusan mereka diancam akan dibekukan. Ini jelas praktik yang tidak elok dan jauh dari nilai-nilai demokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi,” tegas Asrofi.
Ia menegaskan, jika ada pihak lain yang memiliki calon pilihan, hal itu adalah hak yang wajar. Sosialisasi dan pendekatan kekeluargaan boleh dilakukan, namun cara-cara mengintimidasi dan menekan tidak dapat dibenarkan sama sekali.
Asrofi pun meminta kepada awak media untuk melakukan konfirmasi dan klarifikasi secara langsung kepada pihak yang melakukan tindakan tersebut, sebelum informasi ini disebarluaskan lebih luas ke publik.
Meski mendapat berbagai hambatan, tekadnya tidak goyah. “Tekad saya bersama teman-teman ketua PAC sudah bulat. Kami siap mengikuti proses secara sehat. Mohon doa restu, semoga saya diberikan amanah untuk membawa perubahan lebih baik bagi Partai Demokrat Brebes,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PAC Partai Demokrat Kecamatan Paguyangan, Bambang, membenarkan telah mengikuti pertemuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu disampaikan penegasan terkait status kepengurusan.
“Di situ dijelaskan bahwa Hj Opy Ropiah masih menjabat sebagai Ketua DPC secara definitif dan sah. Beliau juga menyampaikan akan maju kembali mencalonkan diri di Muscab nanti,” jelas Bambang yang diketahui telah memberikan dukungan tertulis kepada Asrofi.
Di sisi lain, Bambang mengakui bahwa di kalangan kader tingkat bawah banyak menyimpan keluhan. Selama ini, mereka merasa kurang mendapatkan perhatian dan peran dari pimpinan pusat cabang.
“Banyak yang bertanya, kenapa baru sekarang kami dikunjungi? Baru ada nama calon lain, langsung kebakaran jenggot. Selama ini rasanya jarang sekali disambangi, seperti punya pimpinan tapi tidak terasa kehadirannya. Kalau begitu, bagaimana kami bisa berkembang dan berbuat lebih baik?” ungkapnya menyampaikan aspirasi rekan-rekan se-PAC.
Menanggapi berbagai tudingan yang muncul, Ketua DPC Partai Demokrat Brebes, Hj Opy Ropiah, secara tegas membantah seluruh isu intervensi dan intimidasi tersebut. Ia bahkan menilai informasi yang beredar sebagai bentuk pembohongan publik.
“Sama sekali tidak ada yang namanya intervensi atau tekanan. Faktanya, seluruh PAC yang sempat menandatangani dukungan itu sudah mencabut pernyataannya. Mereka sadar telah melakukan hal yang melanggar kode etik dan AD/ART partai, bahkan sudah menyampaikan permintaan maaf kepada kami,” jelas Opy.
Ia juga menyoroti syarat administratif yang harus dipenuhi untuk menjadi kandidat. “Selain itu, jabatan saya juga belum berakhir. Secara aturan, untuk bisa menjadi calon Ketua DPC pun ada syaratnya, salah satunya pernah menjabat sebagai Ketua PAC minimal lima tahun. Hal ini harus dipahami dan dijadikan pertimbangan, bukan sembarangan maju tanpa memperhatikan ketentuan organisasi,” tegasnya.
Terkait kesiapan menghadapi pemilihan nanti, Opy membenarkan akan kembali bertarung mempertahankan posisinya sebagai calon petahana.
Hingga berita ini diturunkan, dinamika di internal partai masih terus berlangsung. Muscab yang dijadwalkan dalam waktu dekat ini pun menjadi momen krusial, sekaligus menjadi ujian seberapa kuat komitmen seluruh kader terhadap prinsip demokrasi dan solidaritas organisasi.









