Oleh: Ismuhar,M.Sos.I
Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi global, generasi Z tampil sebagai aktor utama perubahan sosial. Mereka lahir dan tumbuh dalam dunia yang serba cepat, serba instan, dan serba digital. Di tangan mereka, masa depan dipertaruhkan, termasuk dalam soal kepemimpinan.Namun, di balik semangat inovatif dan percaya diri yang tinggi, kita menyaksikan paradoks yang mencemaskan: generasi ini tampaknya lebih tertarik pada bagaimana tampil bercahaya, daripada bagaimana bertindak bermakna. Budaya meunale yang dulu dijunjung tinggi dalam kultur kepemimpinan Aceh yaitu hidup sederhana, membumi, dan penuh pengabdian kini mulai tergeser oleh budaya beuralee yang mengagungkan citra, kemewahan, dan gengsi. Gengsi yang penulis maksud dalam tulisan ini merupakan sifat gen z yaitu mager alias malas gerak dalam artian hasil lebih penting daripada proses atau panggung depan lebih bermakna daripada panggung belakang.karakter ini yang sering dipertontontonkan oleh gen z, ucapannya tak terjaga, tindakannya tak bermoral.
Orang terdahulu sangat menjaga nilai kearifan lokal, ucapannya dipertimbangkan biar
tidak menyakiti orang lain, sehingga dulu ada istilah” Teumunyoek dalam seulimboet,
ceumaroet dalam hate, Gaseh bek meurie,benci bek meusoe” Ini adalah satu ungkapan
yang luar biasa dalam menjaga keharmonisan dalam Masyarakat,
Antara Keteladanan dan Tampilan
Dalam tradisi Aceh, pemimpin dihormati bukan karena seberapa sering ia tampil, tetapi seberapa banyak ia bertindak. Sosok teungku, tuha peut, atau tokoh masyarakat lama dihargai karena kerendahan hati dan keberpihakan pada rakyat kecil. Mereka menjalankan kepemimpinan berbasis nilai, bukan visual. Mereka meunale tidak menonjolkan diri, namun sangat dirasakan pengaruhnya. Kini, nilai-nilai itu tampaknya mulai pudar. Generasi muda yang terjun ke dunia kepemimpinan, baik di dunia pendidikan, organisasi, maupun politik lokal, kerap terjebak pada orientasi tampilan. Media sosial menjadi panggung utama, bukan lagi ruang-ruang musyawarah atau aksi nyata. Pemimpin muda lebih sering berburu likes, followers, dan endorsement daripada membangun program dan nilai pengabdian.
Dari Pemimpin Teladan ke Pemimpin Citra
Tentu, tak ada yang salah dengan media sosial atau penampilan menarik. Namun, saat gaya mengalahkan substansi, kita patut khawatir. Beuralee dalam konteks kepemimpinan bisa melahirkan pemimpin yang lebih mementingkan kesan daripada kebenaran, lebih suka pencitraan ketimbang pembuktian. Fenomena ini berbahaya. Pemimpin yang terjebak dalam budaya gengsi akan sulit menerima kritik. Mereka lebih fokus menjaga tampilan agar tetap “sempurna” ketimbang memperbaiki realita. Kepemimpinan menjadi panggung pertunjukan, bukan ruang pelayanan. Ini jelas bertentangan dengan esensi kepemimpinan itu sendiri: menjadi pelayan bagi banyak orang.
Membumikan Kembali Meunale sebagai Nilai Kepemimpinan
Nilai meunale perlu dibangkitkan kembali, tentu dengan adaptasi zaman. Gen Z tidak harus tampil lusuh untuk dianggap membumi. Namun mereka harus mampu menyeimbangkan gaya dengan makna, tampil dengan wibawa sekaligus bekerja dengan etika. Kepemimpinan meunale bukan berarti anti-modern. Justru dalam era distraksi visual seperti sekarang, tampil sederhana dan otentik adalah bentuk keberanian yang langka. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak butuh kemewahan untuk dipercaya, cukup dengan integritas dan kerja nyata.
Di sinilah pentingnya pendidikan karakter, narasi budaya lokal, dan keteladanan nyata dari para guru dan gure dan para peutua. Jika tidak, kita akan kehilangan generasi pemimpin yang punya nilai karena digantikan oleh generasi yang hanya punya nilai tukar dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai kerifan lokal. Budaya meunale adalah warisan luhur yang seharusnya tidak ditinggalkan begitu saja. Nilai kesederhanaan, ketulusan, dan hidup sesuai kemampuan bukanlah nilai kuno ia justru menjadi benteng etis di tengah derasnya arus hedonisme. Tantangan kita adalah bagaimana memimpin proses transisi budaya dari nilai-nilai lama menuju nilai-nilai baru tanpa kehilangan akar.
Kepemimpinan kultural adalah kemampuan menjembatani. Bukan menolak gen z, tapi mendefinisikannya ulang. Bukan anti media sosial, tapi menjadikannya sarana pemberdayaan. Bukan nostalgia masa lalu, tapi menyematkan nilai lama dalam bentuk baru. Di sinilah pemimpin sejati diuji: bukan pada kemampuan mengikuti zaman, tapi membentuk arah zaman.
Gen zi Boleh, Tapi Jangan Kosong, Gen Z punya potensi besar untuk memimpin. Mereka cepat belajar, kreatif, dan adaptif. Namun mereka juga harus diingatkan bahwa gengsi tanpa isi hanya akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh. Gengsi boleh saja, asal diisi dengan prestasi. Citra boleh dibangun, asal dibarengi dengan kerja nyata. Jangan sampai kita membentuk generasi pemimpin yang pandai membuat konten tapi gagal meraih nilai, Sudah waktunya kita kembali pada akar nilai kepemimpinan yang sejati: rendah hati, jujur, melayani, dan penuh tanggung jawab. Dari beuralee menuju meunale bukan sebagai langkah mundur, tetapi sebagai jalan kembali ke substansi.








