Perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 adalah momentum reflektif untuk merenungkan kembali tujuan, jalan, dan praktik pendidikan Indonesia. Ini lebih dari sekadar acara tahunan yang penuh dengan upacara formal dan pidato. Pendidikan adalah pilar utama pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ini akan menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi digital, dan tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks, pendidikan kita menghadapi ujian besar. Oleh karena itu, tema “menyalakan kembali api pendidikan” sangat relevan karena pendidikan pada dasarnya adalah proses pembentukan karakter, nilai, dan peradaban selain hanya mentransfer pengetahuan. Dalam pandangan pendidikan Islam, api pendidikan bukan sekadar representasi keinginan untuk belajar; itu adalah cahaya iman, ilmu, dan amal yang harus dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menurut pendidikan Islam, fitrah adalah potensi luar biasa yang dimiliki oleh manusia. Konsep ini menunjukkan bahwa setiap orang dilahirkan dengan potensi suci dan memiliki kecenderungan untuk menerima kebenaran. Namun, tanpa pendidikan yang tepat, potensi tersebut tidak akan berkembang dengan baik. Pendidikan di sini berfungsi sebagai proses pembinaan spiritual dan moral selain pengembangan intelektual. Salah satu tujuan Hardiknas 2026 adalah untuk meningkatkan kesadaran bahwa pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Pendidikan akan kehilangan arah tanpa fondasi ini, yang akan menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral.
Ada perbedaan antara tujuan ideal dan praktik di lapangan yang ditunjukkan oleh fakta pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum terus diperbarui untuk menyesuaikan dengan zaman, seperti memasukkan teknologi dan meningkatkan literasi dan numerasi. Namun, banyak masalah mendasar masih belum diselesaikan, seperti akses pendidikan yang tidak merata, kualitas guru yang buruk, dan kurangnya budaya literasi. Pendidikan Islam melihat masalah ini sebagai kehancuran nilai selain masalah teknis. Ketika pendidikan kehilangan semangatnya, pembelajaran hanya menjadi rutinitas tanpa arti. Oleh karena itu, menyalakan kembali api pendidikan berarti mengembalikan ruh, yaitu menggunakan pendidikan sebagai cara untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Integrasi antara ilmu dan amal adalah prinsip utama pendidikan Islam. Ilmuwan harus dipahami tidak hanya sebagai pengetahuan teoritis, tetapi juga dalam bentuk tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat dan individu. Dalam situasi seperti ini, pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya pintar tetapi juga bermoral dan peduli terhadap masyarakat. Hardiknas 2026 menegaskan kembali bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari kualitas karakter siswa dan nilai akademik. Pendidikan karakter yang sering dibicarakan harus diterapkan secara konsisten daripada hanya menjadi istilah dalam dokumen kurikulum.
Pekerjaan guru sangat penting untuk memulai pendidikan. Guru Islam tidak hanya bertindak sebagai pendidik, tetapi juga bertindak sebagai murabbi, yaitu seorang guru yang membimbing dan membina seluruh kepribadian siswanya. Guru harus mampu mencerminkan nilai-nilai yang mereka ajarkan. Namun, faktanya adalah bahwa profesi guru masih menghadapi banyak masalah. Ini termasuk masalah kesejahteraan, beban kerja, dan tuntutan profesional yang meningkat. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas guru. Untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang mendukung peran guru sebagai agen perubahan, negara, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan harus bekerja sama.
Selain guru, keluarga juga membantu pendidikan. Keluarga adalah sekolah pertama anak dalam pendidikan Islam. Keluarga adalah tempat pertama di mana prinsip-prinsip dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan ditanamkan. Namun, peran keluarga dalam pendidikan telah berubah karena perubahan sosial dan ekonomi. Banyak orang tua melepaskan semua tanggung jawab pendidikan anak mereka kepada sekolah, tetapi mereka tidak menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, menghidupkan kembali pendidikan juga berarti meningkatkan peran keluarga sebagai partner penting dalam proses pendidikan.
Tantangan yang terkait dengan pendidikan semakin kompleks. Meskipun teknologi informasi memiliki banyak manfaat, juga memiliki risiko, seperti menciptakan kecanduan gawai, menyebarkan informasi yang tidak akurat, dan merusak etika. Menurut pendidikan Islam, teknologi harus digunakan sebagai alat untuk kebaikan daripada sebagai tujuan. Pendidikan harus dapat mengajarkan siswa literasi digital yang kritis dan moral agar mereka dapat menggunakan teknologi dengan bijak. Hardiknas 2026 akan menjadi momentum untuk mendorong transformasi pendidikan yang berbasis moral dan spiritual serta teknologi.
Selain itu, konsep pendidikan Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Pendidikan tidak hanya dimaksudkan untuk mencapai kemakmuran duniawi, seperti pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga untuk mempersiapkan orang untuk kehidupan abadi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan harus mampu membangun individu yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang seimbang. Menghidupkan kembali pendidikan berarti mengembalikan keseimbangan tersebut, sehingga pendidikan tidak terbatas pada pendekatan materialistik.
Pemerintah memiliki tanggung jawab strategis untuk memutuskan bagaimana kebijakan pendidikan akan berjalan. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, berbagai program dan kebijakan telah diluncurkan, termasuk peningkatan anggaran pendidikan, pengembangan kurikulum, dan pelatihan guru. Namun, di lapangan seringkali ada hambatan untuk menerapkan kebijakan. Oleh karena itu, evaluasi yang menyeluruh dan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan memiliki efek positif. Menurut pendidikan Islam, kebijakan pendidikan harus didasarkan pada prinsip keadilan dan kemaslahatan, yang berarti memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat secara keseluruhan.
Masyarakat melakukan banyak hal untuk mendukung pendidikan. Lingkungan sosial yang mendukung akan sangat membantu pembelajaran, tetapi lingkungan yang tidak mendukung dapat menjadi penghalang. Oleh karena itu, menyalakan kembali api pendidikan juga berarti membangun masyarakat yang memiliki budaya belajar. Tidak hanya kebiasaan membaca yang tercermin dalam budaya ini, tetapi juga sikap menghargai ilmu dan pendidikan. Menurut tradisi Islam, setiap orang diwajibkan untuk mempelajari ilmu, sehingga masyarakat harus menjadi tempat untuk mendorong semangat ini.
Untuk mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045, pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang unggul dan berdaya saing di seluruh dunia. Keunggulan budaya dan agama harus tetap ada. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai alat strategis untuk mempertahankan identitas bangsa dalam era globalisasi. Menghidupkan kembali pendidikan berarti mempertahankan identitas untuk mencegah generasi muda kehilangan identitasnya. Mereka harus mampu menjadi warga dunia sambil mempertahankan nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman.
Untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045, pendidikan tidak hanya harus berfokus pada pencapaian kemampuan akademik dan teknis yang berskala internasional, tetapi juga harus mampu menanamkan identitas yang kokoh dalam diri setiap siswa. Generasi berikutnya akan menang jika mereka mempertahankan nilai-nilai agama dan budaya sebagai dasar hidup mereka. Pendidikan Islam memiliki posisi yang sangat strategis dalam situasi ini karena ia tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga membangun dunia pandangan yang berbasis tauhid. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa manusia adalah hamba Allah dan khalifah di dunia, sehingga setiap pengetahuan harus berfokus pada kebaikan dan tanggung jawab moral.
Di tengah arus globalisasi yang ditandai dengan pertukaran budaya, informasi, dan nilai yang cepat dan masif, krisis identitas adalah masalah besar bagi generasi muda. Nilai-nilai luar yang tidak selalu sesuai dengan kepercayaan dan budaya lokal dapat dengan mudah memengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak. Mereka dapat tersesat, kehilangan identitas, dan bahkan terjebak dalam gaya hidup yang menyimpang dari prinsip-prinsip bangsa jika mereka tidak memiliki fondasi yang kuat. Di sinilah pendidikan harus dihidupkan kembali dalam arti yang lebih mendasar, yaitu sebagai proses internalisasi nilai yang membentuk kepribadian.
Pendidikan harus digunakan untuk membangun individu yang sadar akan identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan umat Islam, bukan hanya untuk mengejar prestasi duniawi.
Mempertahankan identitas nasional melalui pendidikan Islam juga berarti menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan kearifan lokal Indonesia. Sebenarnya, prinsip-prinsip seperti gotong royong, toleransi, keadilan, dan kebersamaan sejalan dengan agama Islam. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam proses pembelajaran yang relevan dan kontekstual dengan kehidupan siswa. Oleh karena itu, identitas keindonesiaan dan keislaman dianggap sebagai satu kesatuan yang saling mendukung, bukan sebagai dua entitas yang berbeda. Generasi muda harus diajarkan bahwa menjadi Muslim yang baik dan warga negara Indonesia yang cinta tanah air adalah dua hal yang berbeda.
Hardiknas 2026 harus menjadi titik tolak untuk transformasi pendidikan yang signifikan. Perubahan ini tidak hanya struktural tetapi juga kultural. Pendidikan harus menjadi upaya kolektif yang melibatkan seluruh bangsa. Menurut pendidikan Islam, perubahan dimulai dari diri sendiri, berdasarkan prinsip bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Akibatnya, setiap orang bertanggung jawab untuk menghidupkan semangat pendidikan dalam dirinya sendiri, keluarganya, dan lingkungannya.
Dengan menghidupkan kembali pendidikan, kita tidak hanya akan menghasilkan sistem pendidikan yang lebih baik, tetapi juga akan menghasilkan peradaban yang lebih mulia. Pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, bertanggung jawab, dan memiliki visi yang jelas tentang masa depan. Ini adalah generasi yang akan membawa Indonesia untuk menjadi negara yang besar, adil, dan bermartabat. Hardiknas 2026 bukan hanya peringatan; itu adalah panggilan untuk bertindak dan bekerja sama untuk menciptakan Indonesia Emas yang diridhai Allah SWT.








