Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Karang Taruna Radeka Buka Suara: Jelaskan Fakta Biaya Masuk Kerja di PT GEI dan Paparkan Deretan Prestasi Nyata

IMG 20260706 WA0009
Pengurus Karang Taruna Radeka Desa Kemurang Wetan, Brebes, meluruskan isu tuduhan pungutan liar penerimaan karyawan di PT GEI, Senin 6/7.(Foto dok hariandaerah.com/Putra Zambase)

BREBES – Isu terkait proses penerimaan tenaga kerja di PT GEI yang beralamat di Jalan Raya Pejagan–Ketanggungan, tepatnya di wilayah Desa Kemurang Wetan, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, menjadi sorotan publik setelah beredar unggahan di media sosial. Unggahan tersebut menuduh Karang Taruna Radeka Desa Kemurang Wetan memungut biaya besar dari warga yang ingin bekerja di perusahaan itu.

Menanggapi hal itu, jajaran pengurus Karang Taruna angkat bicara, menjelaskan fakta sebenarnya di balik upaya mereka membantu masyarakat, sekaligus memaparkan deretan prestasi nyata yang telah dihasilkan dalam waktu singkat.

Ketua Karang Taruna Radeka, Eko Sarwono, didampingi Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan UMKM, Dede Permana (43), serta Bendahara Alpikah, menerima kunjungan awak media hariandaerah.com pada Senin (06/07/2026). Dalam wawancara tersebut, awalnya mereka mengaku prihatin melihat kondisi masyarakat setempat. Banyak warga, baik laki-laki maupun perempuan, masih menganggur dan kesulitan mendapatkan pekerjaan, padahal terdapat industri besar yang beroperasi di wilayah sekitar. Kondisi inilah yang mendorong Karang Taruna bergerak untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja dari pihak perusahaan dengan warga desa yang membutuhkan penghasilan.

“Awalnya kami miris melihat kondisi Kemurang Wetan. Banyak warga menganggur, padahal ada perusahaan di dekat sini. Kami berupaya mencari jalan agar warga desa sendiri bisa diterima bekerja di PT GEI tersebut,” ujar Dede Permana mewakili pengurus.

Langkah awal dilakukan pada bulan April lalu, saat Karang Taruna mengajukan 50 nama warga setempat yang telah memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi penerimaan karyawan. Namun, hasil yang diperoleh sangat mengecewakan: hanya 6 orang saja yang dinyatakan diterima bekerja. Hasil ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengurus.

“Kami bertanya-tanya, kenapa warga desa sendiri begitu sulit masuk bekerja ke perusahaan yang ada di wilayahnya? Padahal mereka sudah memenuhi syarat usia dan kemampuan,” kenang Dede.

Melalui musyawarah bersama, Karang Taruna kemudian menugaskan Ketua Eko Sarwono untuk melakukan pendekatan langsung ke pihak perusahaan, khususnya bagian rekrutmen, guna mengetahui kendala yang sebenarnya terjadi. Pertemuan penting pun berlangsung sekitar tanggal 1 Mei, saat Eko berjumpa dengan petugas HRD PT GEI yang bertanggung jawab atas penerimaan karyawan. Dari pertemuan itulah, terungkap fakta adanya biaya yang dipersyaratkan untuk bisa diterima bekerja.

“Hasil pertemuan itu diketahui ada nominal yang diminta. Awalnya, untuk tenaga kerja laki-laki diminta biaya masuk sebesar Rp2 juta, sedangkan untuk perempuan Rp1 juta,” ungkap Dede mengutip laporan hasil pertemuan ketua.

Mengetahui angka tersebut, Eko tidak langsung menyetujui. Ia melakukan negosiasi keras demi meringankan beban warga desa. Akhirnya disepakati penurunan biaya menjadi Rp1 juta untuk laki-laki dan Rp500 ribu untuk perempuan. Bahkan, Eko masih berusaha lebih jauh dengan mengajukan syarat khusus: pembayaran biaya tersebut dilakukan setelah warga bekerja dan menerima gaji pertamanya, agar tidak memberatkan di awal.

BACA JUGA:  Dua Pulau Di Aceh Ditetapkan Sebagai Lokasi Pengembangan Sapi, Berikut Kabupatennya

Kesepakatan ini kemudian disosialisasikan secara terbuka kepada seluruh calon pekerja dan masyarakat, dan diterima dengan baik karena dianggap sebagai satu-satunya jalan agar warga bisa diterima bekerja. Namun, di tengah upaya membantu masyarakat, justru muncul isu miring di media sosial yang menuduh Karang Taruna meminta uang dengan jumlah yang tidak wajar dan tidak sesuai fakta.

“Saya bingung sekali, kenapa di luar sana muncul pernyataan bahwa kami meminta uang dengan jumlah yang tidak sesuai? Kami tidak pernah menetapkan angka seperti itu. Seluruh langkah dan upaya yang kami lakukan murni bersifat sosial, tulus ingin membantu warga desa agar perekonomiannya terangkat,” tegas Dede.

Pendekatan dan negosiasi yang dilakukan Karang Taruna ternyata membuahkan hasil nyata. Jika pada awalnya hanya 6 orang yang diterima, dalam kurun waktu empat bulan, Karang Taruna Radeka telah berhasil menyalurkan sekitar 60 tenaga kerja ke PT GEI. Penyaluran ini juga tidak memandang batasan usia secara ketat; ada warga yang berusia di atas 45 tahun yang berhasil diterima, namun mayoritas adalah warga usia produktif di bawah 25 tahun.

Menanggapi beredarnya isu yang menyebutkan adanya biaya sebesar Rp1,5 juta, Dede menegaskan hal itu sama sekali tidak benar. Sebagai penanggung jawab langsung di bidang ketenagakerjaan, ia memastikan tidak ada kebijakan maupun permintaan dana sebesar itu yang dikeluarkan oleh Karang Taruna Radeka.

“Kalau ada yang bilang soal angka 1,5 juta, itu tidak benar dan jauh dari kenyataan. Kebetulan saya yang ditugaskan langsung menangani masalah ini. Itu tidak sesuai sama sekali dengan apa yang kami lakukan. Seluruh kesepakatan dan biaya yang ada sudah jelas, transparan, dan diketahui bersama oleh warga maupun pengurus,” pungkasnya.

Di Tengah Isu Miring, Karang Taruna Soroti Prestasi yang Jarang Dipertanyakan

Di tengah beredarnya isu miring tersebut, pengurus Karang Taruna justru menyoroti hal lain. Mereka mengaku heran dan bertanya-tanya, mengapa warga tidak pernah menanyakan atau menyoroti berbagai prestasi dan karya nyata yang telah dilakukan organisasi pemuda ini sejak berdirinya sekitar empat bulan lalu.

Dede Permana menyampaikan kekecewaannya sekaligus kebanggaan atas kinerja rekan-rekan pengurus. Menurutnya, dalam waktu yang sangat singkat, Karang Taruna telah banyak bergerak dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Saya selaku pengurus sampai tidak habis pikir. Kenapa warga tidak pernah mempertanyakan prestasi apa saja yang sudah kami lakukan? Padahal bukti nyatanya ada di depan mata,” ujar Dede.

BACA JUGA:  Tinjau Kondisi Kebakaran Plaza Glodok, Pj. Gubernur Jakarta Menyampaikan Duka Cita Atas Bencana Ini

Ia kemudian merinci sejumlah program dan pencapaian yang telah dijalankan. Pertama, saat bencana banjir melanda wilayah desa, seluruh pengurus dan anggota Karang Taruna turun ke lapangan secara bersama-sama. Mereka membagikan bantuan kepada warga yang terdampak. Meski bantuan yang disalurkan mungkin nilainya tidak seberapa, namun Dede meyakini hal itu cukup membantu dan menjadi bukti nyata kepedulian organisasi terhadap warga.

“Kami turun tangan langsung, membagikan bantuan. Bagi kami, itu adalah wujud nyata kepedulian kami sebagai pengurus kepada masyarakat,” tegasnya.

Prestasi kedua yang rutin dilakukan adalah program senam sehat gratis dengan instruktur berpengalaman serta pengembangan UMKM yang diikuti para pedagang kecil. Kegiatan ini digelar setiap hari Minggu pagi di Lapangan Jatimas Kemurang Wetan. Untuk menjalankan program rutin ini, Karang Taruna menggelontorkan dana sekitar Rp2,2 juta setiap bulannya, demi mewujudkan Desa Sehat sekaligus membantu para pelaku usaha kecil.

Selain kegiatan sosial dan ekonomi, Karang Taruna juga telah melengkapi kebutuhan operasional organisasi. Dalam waktu singkat, mereka berhasil membeli sejumlah peralatan penunjang kegiatan, antara lain mesin pemotong rumput dan perangkat sound system senilai sekitar Rp15,5 juta. Selain itu, seragam resmi Karang Taruna juga telah dapat dipenuhi dan dimiliki seluruh anggota.

“Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari empat bulan ini kami sudah bisa mewujudkan semua itu. Mulai dari bantuan saat bencana, kegiatan mingguan, hingga membeli peralatan senilai belasan juta rupiah. Semua kami lakukan demi kemajuan desa,” tambah Dede.

Oleh karena itu, Dede berharap ke depannya masyarakat lebih kritis dan peduli terhadap kinerja organisasi pemuda. Ia berharap warga lebih banyak bertanya dan menyoroti prestasi serta penggunaan anggaran untuk kegiatan positif, dibandingkan isu-isu yang belum tentu kebenarannya.

“Kami berharap warga suatu hari nanti lebih banyak mempertanyakan hal-hal positif dan prestasi ini kepada kami, juga bagaimana anggaran dikelola. Kami terbuka dan siap menjelaskan semua karya nyata yang sudah kami lakukan demi Desa Kemurang Wetan,” pungkas Dede Permana.

Hingga saat ini, Karang Taruna Radeka tetap berkomitmen untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan dunia usaha, memastikan proses penyaluran tenaga kerja berjalan lancar, transparan, dan membawa manfaat nyata bagi kemajuan warga desa.

 

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *