Oleh: Dr. Iskandar, M.Si
Wakil Rektor I UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe
Tanggal 12 Juni 2025 menjadi hari bersejarah dan penuh makna bagi kita semua. Pada momentum Milad ke-56 ini, kita tidak hanya mengenang perjalanan panjang lembaga tercinta, tetapi juga mensyukuri transformasi kelembagaan yang sangat berarti: perubahan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasyiah. Transformasi ini bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan perubahan struktural, kultural, dan visi ke depan yang lebih luas.
Perjalanan institusi ini dimulai pada 12 Juni 1969 dengan berdirinya Akademi Ilmu Al-Qur’an (AIA), sebagai ikhtiar awal membangun pusat pendidikan Islam di kawasan utara Aceh. Tiga tahun kemudian, pada 1972, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah termasuk Bupati Aceh Utara saat itu menginisiasi perubahan AIA menjadi Fakultas Syariah Perguruan Tinggi Malikussaleh.
Pasca tsunami Aceh, kampus ini ditetapkan sebagai institusi negeri melalui Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2005 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Tak lama berselang, STAIN Lhokseumawe (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) ditingkatkan statusnya menjadi IAIN pada tahun 2016. Langkah ini membuka jalan untuk kolaborasi lebih luas, baik nasional maupun internasional.
Momentum penting berikutnya terjadi pada Mei 2025, ketika kampus ini resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasyiah, ditandai dengan terbitnya Perpres No. 56 Tahun 2025. Perubahan ini bertepatan dengan ulang tahun ke-56 institusi, menjadikannya hadiah istimewa dari Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, bagi masyarakat Aceh dan seluruh bangsa Indonesia.
Transformasi menjadi UIN adalah penegasan kembali peran strategis lembaga ini dalam mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kita ditantang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Di bidang pendidikan, kita harus terus memperluas akses dan meningkatkan kualitas, khususnya bagi masyarakat di kawasan utara Aceh. Di ranah penelitian, kita dituntut menghasilkan pengetahuan yang relevan dan mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Sementara itu, dalam pengabdian, kita terpanggil menjadi mercusuar peradaban yang menerangi komunitas sekitar dengan ilmu dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Selama dua dekade terakhir, IAIN Lhokseumawe telah mencatat sejumlah pencapaian signifikan. Di bidang akademik, terjadi perluasan program studi yang mengakomodasi baik keilmuan Islam klasik maupun sains sosial dan terapan modern. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum menjadi fondasi kurikulum, seiring peningkatan kualitas SDM melalui studi lanjut para dosen ke berbagai perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri.
Di bidang penelitian dan pengabdian, peningkatan jumlah publikasi ilmiah serta kemitraan dengan berbagai institusi nasional dan internasional telah menunjukkan progres signifikan. Inisiatif seperti Kampung Moderasi Beragama, literasi digital berbasis pesantren, serta pemberdayaan masyarakat pesisir menjadi contoh konkret kontribusi nyata kepada masyarakat.
Secara kelembagaan, akreditasi institusi terus meningkat, tata kelola berbasis prinsip good governance semakin menguat, dan layanan akademik serta administrasi telah terdigitalisasi. Visi internasionalisasi juga mulai diimplementasikan melalui program mobilitas mahasiswa dan dosen, penerimaan mahasiswa asing, serta penyelenggaraan seminar internasional.
Perubahan nama menjadi UIN Sultanah Nahrasyiah bukan hanya pengakuan terhadap capaian kelembagaan, tetapi juga peneguhan nilai-nilai yang diusung tokoh besar Aceh tersebut. Sultanah Nahrasyiah bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga lambang kepemimpinan perempuan yang visioner, adil, dan berakar pada tradisi keilmuan Islam yang inklusif dan progresif. Semangat beliau harus menjadi inspirasi dalam membangun universitas yang menjunjung tinggi keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.
Pentingnya transformasi pendidikan telah banyak ditegaskan oleh tokoh dunia. Nelson Mandela pernah mengatakan, Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan bukan semata alat reproduksi sosial, melainkan juga instrumen emansipasi dan kesadaran yang mampu membentuk dunia yang lebih adil dan damai.
Amartya Sen, peraih Nobel bidang ekonomi, menekankan bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kapabilitas manusia capability expansion yakni membekali manusia agar mampu memilih jalan hidupnya secara merdeka dan bermartabat. Transformasi kelembagaan seperti yang dialami UIN Sultanah Nahrasyiah merupakan bagian dari upaya memperluas ruang tumbuh tersebut.
Sementara itu, Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan sejati harus membangkitkan kesadaran kritis dan menjadikan peserta didik sebagai subjek perubahan. Dalam konteks ini, UIN Sultanah Nahrasyiah harus menjadi kawah candradimuka yang mencetak intelektual Muslim yang tak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial. Ini sangat relevan dalam konteks global yang menghadapi krisis nilai, disrupsi teknologi, dan ketimpangan sosial yang semakin nyata.
Oleh karena itu, perayaan Milad ke-56 ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif untuk memperbarui komitmen, memperkuat dedikasi, dan merumuskan arah masa depan yang lebih visioner. Kita bersyukur atas kerja-kerja besar para pendahulu—pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta masyarakat luas—yang secara konsisten membangun lembaga ini dari waktu ke waktu.
Kini, tonggak sejarah telah ditorehkan. UIN Sultanah Nahrasyiah bukan sekadar nama baru, tetapi juga semangat baru. Ia adalah simbol harapan dan sekaligus amanah. Harapan akan hadirnya pendidikan Islam yang inklusif, modern, dan berakar pada nilai-nilai luhur. Amanah untuk menjadikan kampus ini sebagai pusat pencerahan dan perubahan, demi Indonesia dan dunia yang lebih baik.








