Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Suwarno Gaungkan Budidaya Jamur Merang: Limbah Pertanian Berubah Jadi Sumber Penghasilan

IMG 20260617 WA0001
Terlihat beberapa konsumen yang membeli jamur merang hasil budidaya salah satu anggota DPRD Kabupaten Brebes, Fraksi PAN Suwarno Hadi Saputra.(Foto dok hariandaerah.com/Putra Zambase)

BREBES – Di tengah keterbatasan modal dan lahan, tersimpan peluang usaha yang menjanjikan sekaligus solusi penyediaan pangan bergizi. Budidaya jamur merang pada lahan seluas hanya 1 x 2,5 meter terbukti mampu memberikan keuntungan berlipat ganda, bahkan dapat dikelola menggunakan limbah pertanian yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah.

Model ekonomi produktif ini kini digaungkan oleh Suwarno Hadi Saputra, anggota DPRD Kabupaten Brebes dari Fraksi PAN asal Desa Banjarharjo. Menurutnya, konsep ini tidak hanya bertujuan menambah pendapatan warga, tetapi juga mengubah pandangan masyarakat mengenai nilai gizi jamur. Hal itu disampaikannya kepada awak media hariandaerah.com pada Selasa, 16 Juni 2026 sore.

Konsep tersebut dijelaskan secara rinci sebagai usaha sederhana namun efektif, cocok bagi warga di pinggiran desa atau mereka yang memiliki keterbatasan biaya. “Dengan modal awal total hanya Rp100.000, seseorang sudah bisa memulai usaha ini di halaman rumah atau lahan kosong yang sempit,” ujarnya.

Suwarno pun merinci kebutuhan biaya yang sangat terjangkau dan terukur:

1. Dedak halus: 3 kilogram, sekitar Rp7.500

2. Ragi: 1 bungkus isi 10 butir, sekitar Rp14.000

3. Pupuk Urea: 1 kilogram, sekitar Rp5.000

4. Pupuk Organik Serbuk 11: sekitar Rp20.000

“Total biaya bahan baku dan pupuk hanya sekitar Rp48.100. Sisa dana sekitar Rp52.000 digunakan untuk membeli plastik penutup media tanam sebagai pelengkap proses budidaya,” ungkapnya.

Proses budidayanya pun tidak memakan waktu lama. Setelah bahan diolah dan disusun, masa persiapan berlangsung selama 10 hari. Pada hari ke-11, jamur mulai tumbuh dan siap dipanen. Masa panen berlangsung cukup panjang, yakni mulai hari ke-11 hingga hari ke-30, atau sekitar 20 hari berturut-turut dalam satu siklus.

BACA JUGA:  Pemkab Aceh Jaya Salurkan Bantuan Masa Panik Kepada Korban Kebakaran di Ligan

Dari lahan seluas 1 x 2,5 meter itu, rata-rata hasil panen bisa mencapai 2 kilogram setiap harinya. Jika dihitung dengan harga pasar wajar sebesar Rp40.000 per kilogram, maka dalam masa panen 20 hari berpotensi menghasilkan pendapatan sebesar Rp800.000. “Namun agar lebih realistis, saya mengilustrasikan keuntungan bersih minimal Rp600.000 per bulan. Angka ini sudah sangat lumayan untuk usaha rumahan bermodal kecil,” tambahnya.

Salah satu keunggulan utama budidaya ini adalah pemanfaatan limbah janggel atau bonggol jerami. Selama ini sisa panen berupa limbah pertanian sering dibuang begitu saja, padahal bahan itulah yang menjadi media terbaik untuk pertumbuhan jamur merang. “Limbah yang dulu dianggap sampah, sekarang bisa diolah menjadi uang. Ini potensi yang sangat besar, apalagi di daerah pertanian seperti kita, bahan bakunya tersedia melimpah dan bahkan bisa didapatkan secara cuma-cuma,” ujarnya antusias.

Jika dikembangkan secara berkelompok atau komunal, potensi usahanya akan jauh lebih besar. Pasokannya bahkan dapat menjangkau hingga kota-kota besar seperti Jakarta. “Kebutuhan pasar di kota sangat tinggi. Masyarakat di sana, terutama kalangan menengah ke atas, sudah sangat memahami pentingnya mengonsumsi protein nabati. Permintaan terhadap jamur merang, jamur tiram, dan jenis jamur lainnya terus meningkat,” jelasnya.

Selain sisi ekonomi, manfaat kesehatan dari mengonsumsi jamur juga menjadi poin penting yang disosialisasikan. Jamur mengandung zat gizi yang baik untuk memperbaiki sistem pencernaan, memenuhi kebutuhan vitamin B kompleks, hingga dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan secara umum. “Jika dikonsumsi secara rutin selama satu bulan saja, manfaatnya sudah bisa dirasakan langsung,” tambahnya.

BACA JUGA:  KPA dan PA Wilayah Simeulue Salurkan Bantuan Korban Kebakaran Kampung Air

Meski menjanjikan, masih ada tantangan berupa pandangan sebagian masyarakat. Di lingkungan tertentu, jamur merang yang tumbuh di tumpukan jerami masih dianggap sebagai makanan kelas bawah atau bahkan “makanan nista”, yang hanya dikonsumsi oleh orang kurang mampu. Padahal, bagi masyarakat yang memahami gizi, jamur justru merupakan makanan bernilai tinggi dan menyehatkan.

“Banyak yang belum mengetahui kandungan gizinya. Padahal jamur adalah sumber protein nabati terbaik, yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi tubuh selain protein hewani,” tegasnya.

Melalui sosialisasi ini, Suwarno berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelaku usaha kuliner, dapat memperluas jangkauan informasi. Edukasi ini diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat serta membuka wawasan bahwa jamur adalah solusi pangan sehat sekaligus jalan menuju perekonomian yang lebih produktif.

“Kami ingin membuktikan bahwa dengan modal kecil, masyarakat bisa memperoleh penghasilan yang layak. Lebih dari itu, kami ingin mengubah cara pandang: mengonsumsi jamur bukan tanda ketidakmampuan, melainkan tanda kecerdasan memilih makanan yang sehat dan berkualitas,” pungkasnya.

Inilah bukti nyata, di balik lahan sempit dan keterbatasan modal, tersimpan peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan, sekaligus menjadi langkah cerdas mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri secara ekonomi.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *