BANDA ACEH– Rapa’i Debus merupakan kesenian tradisional Negara Indonesia, khususnya Aceh. Kesenian ini hampir dimiliki oleh setiap Kabupaten di Aceh, tak terkecuali Barat Selatan Aceh. Rapa’i Debus merupakan gabungan antara seni, agama dan ilmu metafisik (ilmu kebal).
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal melalui Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah menyebutkan, kesenian Aceh tentunya memiliki gerakan yang dinamis seperti Rapa’i Debus ini, para pemain seni ini, memiliki energi yang atraktif jika tampil di panggung baik lokal maupun nasional bahkan internasional selalu menjadi “poin of interes” karena penuh semangat totalitas dan berdedikasi dalam menampilkan pertunjukan.
“Oleh sebab itu, menjadi salah satu indikasi, perlunya kita bersama-sama seluruh masyarakat untuk selalu menjaga dan mengembangkan serta mengangkat eksitensi seni budaya Aceh khususnya Rapa’i Debus ini,” harapan Nurlaila saat ditemui hariandaerah.com di ruang kerjanya, Senin (17/4/2023).
Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap seni budaya Aceh semakin meningkat, oleh karena itu perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.
“Sebagai bentuk dukungan agar budaya Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pelaku budaya dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada di depan mata kita yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” kata Nurlaila.
Kononnya, menurut kaum Sufi Abad ke 7 H, Rapa’i Dabus itu berasal dari nyanyian-nyanyian (puisi yang berbentuk doa) yang dibacakan oleh seorang mursyid (pemimpin tarikat) dalam ajaran tasawuf nya.
Mursyid (Khalifah) membacakan doa dan zikir dengan suara yang merdu dan lemah lembut dalam waktu lama, sampai dirinya dan pengikutnya tak sadarkan diri (fana billah) yang jadi tujuan untuk mencapai kepuasan batin dan kelezatan jiwa.
Tak jarang jika di Bumoe Serambi Mekah ini muda didapatkan, ketika ada hajatan seperti pesta perkawinan dan sunat rasul atau khitanan, ada pertunjukan seni Rapa’i Debus.
Seperti halnya di Kuta Fajar Aceh Selatan (Asel), Rapa’i Debus dipertunjukkan pada hajatan khitanan di wilaya itu, hal tersebut disampaikan, Fadli Rahmatillah kepada media ini, Senin (14/4/2023).
Fadli mengatakan, pada hajatan atau pesta khitanan selalu digelar petunjukan Rapa’i antara Group Debus Geulumpang Sakti berkalaborasi dengan Group Debus Mutiara Sakti yang berasal dari daerah setempat.
Pertunjukan seni budaya Aceh itu berlangsung sejak dari pukul 22:30 Wib hingga pukul 03:40 Wib dini hari. Meski pada perjalanan pertunjukan tersebut cuaca kurang mendukung atau sedang hujan deras, namun tidak menyulutkan semangat penonton untuk menyaksikan atraksi maut nan memukau yang dipertunjukkan oleh anggota Group Debus Geulumpang Sakti Asal Gampong Padang Geulumpang, Kecamatan Jeumpa Kabupaten Abdya.
Disela-sela pertunjukan yang dipimpin para Khalifah itu, Fadli menyampaikan rasa kegembiraannya karena telah dapat menghadirkan dan melihat langsung seni budaya yang harus tetap di lestarikan tersebut.
“Kesenian Rapa’i Debus adalah budaya asli daerah kita, ini diadakan untuk hajatan sunatan ponakan kami, sekaligus memperkenalkan kepada generasi penerus, agar bisa selalu dijaga dan dilestarikan, sehingga seni budaya milik kita akan selalu ada sampai ke generasi berikutnya,” kata Fadli selaku tokoh masyarat setempat.
Pada kesempatan tersebut, Fadli mengungkapkan, seni budaya Rapa’i Debus hendaklah selalu dijaga oleh semua elemen masyarakat dengan caranya masing-masing, agar tetap maju dan berkembang.
“Kita juga mengaharapkan kepada pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/kota untuk dapat mendukung melestarikan seni budaya dengan melakukan pengajuan anggaran di APBA atau APBK, yang diperuntukkan untuk usaha mengembalikan kejayaan seni budaya kita,” pungkas Fadli.














