BANDA ACEH – Keindahan dan kekayaan budaya Aceh menjadi sorotan utama saat ribuan pengunjung memadati Krueng Aceh untuk menyaksikan Pawai Perahu Hias di Banda Aceh pada Minggu, (5/11/2023), sekitar pukul 16.37. Acara ini merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8.
Sebanyak 18 perahu hias bersaing memamerkan keelokan dan kekayaan budaya Aceh dengan mengangkat konsep jalur perdagangan rempah, sebuah warisan bersejarah yang membanggakan. Pawai perahu ini melibatkan peserta dari berbagai komunitas, termasuk Jetski, Basarnas, Pol Airud, Panglima Laot, dan perwakilan dari 18 kabupaten/kota di Aceh. Acara ini berlangsung dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.
Perahu-perahu hias yang telah dihias dengan indah berlayar menyusuri Sungai Krueng Aceh, diiringi oleh musik dan sorak-sorai penonton yang antusias. Keindahan alam sekitar sungai yang jernih menjadi latar belakang menakjubkan bagi parade ini.
Lebih dari sekadar lomba, perahu hias ini memiliki makna mendalam dalam konteks budaya Aceh. Kapal tradisional Aceh bukan hanya sebagai simbol kemajuan dan pelayaran, tetapi juga melambangkan persatuan masyarakat Aceh. Melalui pawai ini, masyarakat Aceh dapat mengekspresikan penghargaan mereka terhadap warisan budaya serta mempererat ikatan sosial di antara mereka.
Aceh memiliki warisan sejarah yang luar biasa dalam perdagangan rempah, dengan perahu sebagai alat transportasi utama. Setiap perahu dihiasi dengan nuansa rempah daerahnya, menampilkan berbagai konsep yang menarik sambil tetap mengedepankan unsur kearifan lokal.
Masing-masing daerah peserta Pawai Perahu Hias turut memperkenalkan potensi daerahnya. Misalnya, perahu dari Simeulue yang dihias dengan ikon lobster sebagai potensi hasil wilayah tersebut, atau perahu dari Aceh Selatan yang didesain dengan ornamen naga serta mengenalkan daerah tersebut sebagai penghasil pala. Bahkan, Kabupaten Pidie Jaya mengenang jasa Panglima Nyakdo dalam ekspedisi lada sicupak abad ke-16 Masehi, yang membawa lada dari Pidie Jaya ke berbagai daerah.
Pawai perahu hias ini juga menjadi momen penting dalam perayaan PKA ke-8. Acara dibuka oleh Pejabat Pelaksana Tugas (Pj) Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, yang juga ikut menaiki salah satu perahu. Hadir pula dalam acara ini Pangdam IM (Iskandar Muda), Kapolda Aceh, serta anggota Forkopimda lainnya.
Masing-masing daerah peserta Pawai Perahu Hias turut memperkenalkan potensi daerahnya. Sebagai contoh, perahu dari Simeulue dihias dengan ikon lobster sebagai representasi hasil perikanan di wilayah tersebut. Sementara itu, perahu dari Aceh Selatan menampilkan ornamen naga dan memperkenalkan daerah tersebut sebagai penghasil pala. Kabupaten Pidie Jaya bahkan mengenang jasa Panglima Nyakdo dalam ekspedisi lada sicupak abad ke-16 Masehi, yang membawa lada dari Pidie Jaya ke berbagai daerah.
Pawai perahu hias ini bukan hanya ajang lomba semata, tetapi juga menjadi momen penting dalam perayaan PKA ke-8. Acara ini dibuka oleh Pejabat Pelaksana Tugas (Pj) Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, yang turut serta menaiki salah satu perahu. Pangdam IM (Iskandar Muda), Kapolda Aceh, serta anggota Forkopimda lainnya juga turut hadir dalam acara ini.
Berbagai daerah di Aceh ikut serta sebagai peserta pawai, antara lain Aceh Barat, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Tamiang, Simeulue, Pidie Jaya, Aceh Selatan, Aceh Besar, Aceh Singkil, Kota Sabang, Bireuen, Lhokseumawe, Subulussalam, Aceh Jaya, dan Banda Aceh. Namun, perahu hias dari Kota Lhokseumawe mengalami insiden saat bagian sebelah kiri ornamennya jatuh dan terendam air, sehingga tidak dapat melanjutkan pawai.
Pawai perahu hias ini juga melibatkan Panglima Laot Kota Banda Aceh, tokoh adat nelayan Aceh, serta Jetski, Basarnas, dan Pol Airud, menambahkan sentuhan otentik pada parade tersebut.
Antusiasme warga terlihat tinggi, mereka memadati bantaran sungai dan jembatan untuk menyaksikan keindahan ornamen kapal hias dan belajar lebih banyak tentang potensi daerah-daerah di Aceh.
Salah seorang pengunjung, Sarniy, mengungkapkan kagumnya terhadap keindahan dekorasi perahu hias dan beragam potensi daerah di Aceh yang ditampilkan dalam pawai ini.
“Saya sangat terkesan oleh dekorasi yang menakjubkan pada perahu-perahu dalam pawai, dan saya juga mendapatkan banyak pengetahuan tentang potensi budaya dan ekonomi daerah-daerah di Aceh melalui penampilan kreatif ini,” ucapnya.
Bagi Sarniy, PKA bukanlah sekadar acara biasa. Baginya, acara ini merupakan ajang luar biasa yang menghubungkan masyarakat dengan kekayaan budaya dan ekonomi yang dimiliki Aceh. Dia menyadari betapa pentingnya pelestarian dan peningkatan pemahaman terhadap warisan budaya ini, serta bagaimana hal itu dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui perayaan ini, masyarakat Aceh tidak hanya menunjukkan keindahan budaya mereka tetapi juga mengukir kenangan tak terlupakan. Pekan Kebudayaan Aceh menjadi simbol kebersamaan, di mana masyarakat bersatu untuk merayakan dan melestarikan akar budaya mereka.
Dengan mengangkat tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia,” Aceh tidak hanya mempromosikan kekayaan lokal tetapi juga mengajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
Dalam konteks globalisasi, upaya pelestarian budaya seperti ini juga berperan dalam menjaga keberagaman budaya di tengah arus modernisasi. Aceh memberikan contoh nyata tentang bagaimana masyarakat dapat memadukan nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan zaman. Ini bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu tetapi juga merangkul masa depan yang berkelanjutan.














