Malang – Jumlah korban tewas dalam Kerusuhan di stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur pada Minggu (2/10/2022) dini hari, dilaporkan berjumlah sudah 129 orang, 2 orang diantaranya merupakan anggota Polri.
Sementara korban yang mengalami luka-luka berjumlah 188 orang yang saat ini sedang dirawat secara intensive. Dari jumlah 129 yang tewas dalam tragedi tersebut, sebahagian belum diketahui identitasnya. Selain itu, dalam peristiwa berdarah ini 10 mobil Polisi dan 3 mobil pribadi dibakar.
Kericuhan terjadi usai laga Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Kericuhan berawal dari protes Aremania karena tim kebanggaanya kalah dengan skor 2-3 atas Persebaya.
Beberapa oknum Aremania yang kecewa mencoba turun ke lapangan sebagai bentuk protes. Petugas keamanan dari TNI, Polri dan keamanan internal mencoba menghalau Aremania untuk kembali ke tribun.
Tetapi bentrokan tidak bisa dihindarkan. Polisi menembakan gas air mata ke arah suporter. Ribuan Aremania pun lari menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka banyak yang pingsan dan membutuhkan pertolongan medis.
Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menyatakan bahwa kerusuhan itu bermula ketika sekitar tiga ribu suporter turun ke lapangan pasca pertandingan. Mereka tidak puas dengan kekalahan tim kesayangannya di kandang sendiri.
“Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan,” kata Nico dalam konferensi pers Ahad, 2 Oktober 2022.
Para suporter Arema FC itu disebut berupaya mencari pemain dan ofisial. Melihat kondisi itu, menurut Nico, petugas keamanan berupaya melakukan pencegahan agar para suporter tidak mengejar pemain dan ofisial.
Aparat keamanan lantas melepaskan gas air mata untuk membubarkan para suporter. Menurut Nico, penembakan gas air mata dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan dinilai telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.
“Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” kata dia.
Laga ini sendiri sebenarnya berlangsung cukup lancar. Persebaya Surabaya sempat unggul 2-0 terlebih dahulu lewat gol Juninho pada menit ke-8 dan Leo Lelis pada menit ke-32.
Arema FC baru bisa menyamakan kedudukan menjelang turun minum lewat dua gol Abel Camara, salah satunya melalui titik putih. Gol Sho Yamamoto pada awal babak kedua menjadi penentu hasil akhir laga tersebut.
Kemenangan 3-2 Persebaya Surabaya itu mengakhiri kutukan 23 tahun tim Bajul Ijo tak pernah menang ketika bertandang ke markas Arema FC.
Hasil itu juga membuat kedua tim kini bersaing ketat di papan klasemen BRI Liga 1. Arema FC kini menempati posisi kesembilan dengan perolehan 14 angka sementara Persebaya tepat di bawahnya dengan selisih hanya satu angka.
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan itu membuat PT Liga Indonesia Baru, operator BRI Liga 1, menghentikan kompetisi itu selama sepekan ke depan.














