Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Menu Makan Bergizi Geratis ( MBG ) di SLB Negeri Pringsewu Viral di Facebook, Pihak SPPG Klarifikasi

IMG 20250920 WA0092
Porsi makanan Program Makan Bergizi (MBG) untuk siswa SLB Negeri Pringsewu yang viral di media sosial. Menu terdiri dari nasi, potongan wortel, telur dadar, tahu goreng, dan dua butir anggur (Sumber: unggahan akun Facebook M.S. di grup Facebook lokal Pringsewu).

PRINGSEWU – Program Makan Bergizi (MBG) kembali menuai kritik setelah sejumlah orang tua siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pringsewu menyampaikan keluhan di media sosial. Mereka menilai porsi makanan yang disajikan tidak sesuai standar gizi, bahkan sebagian anak hanya mengonsumsi nasi tanpa lauk karena rasanya kurang cocok.

Dalam sebuah unggahan grup Facebook, akun M.S. menuliskan keluhan mengenai makanan yang diterima anaknya. “Seperti ini di sekolah anakku di Pringsewu,” tulis M.S. sambil mengunggah foto berisi nasi, telur dadar, tahu goreng, sedikit sayuran, dan buah dalam porsi terbatas.

Komentar tersebut langsung mengundang beragam tanggapan dari warganet. Ada yang menilai porsi menu terlalu minim, ada juga yang menyebut anak-anak enggan makan karena rasa bumbu tidak sesuai selera. Beberapa komentar bahkan menyebut anak hanya memakan nasi, sementara lauk dan sayur dibawa pulang dalam keadaan utuh.

Sebenarnya memang menu MBG yang dibagikan sudah mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah.  Namun porsinya dinilai kecil dan kurang bervariasi sehingga belum sepenuhnya memenuhi standar gizi seimbang.

BACA JUGA:  Pernyataan Kontroversial DPRD Pringsewu Soal Dugaan Galian C, Warga dan Pelaku Jasa Cetak Sawah Bantah

Pengadaan dan distribusi MBG sendiri dikelola melalui Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di tingkat kecamatan. Dapur ini bertanggung jawab terhadap kualitas menu yang didistribusikan ke sekolah-sekolah. Jika terjadi pengurangan porsi lauk atau sayur, maka bisa dianggap bentuk kelalaian yang berpotensi melanggar standar gizi dalam program pemerintah.

Saat Hariandaerah.com mengonfirmasi langsung ke dapur penyedia MBG, pihak pengelola menyampaikan klarifikasi. Kepala SPPG yang mendistribusikan makanan ke SLB Negeri Pringsewu, Nurohmad Sofyan, menyampaikan permohonan maaf atas adanya keluhan dari orang tua. Ia mengakui kemungkinan adanya ketidaksesuaian porsi yang terjadi di lapangan.

“Kami meminta maaf jika ada kelalaian. Karena porsi untuk SLB tertukar.  Pihaknya akan segera melakukan evaluasi agar tidak terulang kembali,” ujar Nurohmad.

BACA JUGA:  Proyek Rigid Beton Pringsewu - Pardasuka Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Batching Plant Bermasalah dan Warga Khawatir Jalan Tak Bertahan Lama

Ia menjelaskan, khusus untuk siswa SLB, resep makanan memang memiliki aturan berbeda dibandingkan sekolah umum. Hal ini karena anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan dengan rasa gurih atau terlalu asin. Menu harus disesuaikan dengan rekomendasi kesehatan dan arahan teknis yang berlaku.

“Tidak semua bumbu bisa dipakai. Kami mengacu pada aturan yang melarang penggunaan rasa berlebihan. Jadi jika ada orang tua melihat masakan terasa hambar, itu karena memang disesuaikan dengan kondisi anak-anak SLB,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga kualitas program MBG agar benar-benar memberikan manfaat sesuai tujuan awal pemerintah, yakni memastikan anak-anak, termasuk siswa SLB, tetap memperoleh makanan bergizi seimbang setiap hari. ( Davit  )

Penulis

Respon (1)

  1. Utk program MBG, PENDAPAT AHOK patut dipertimbangkan. Penyaluran bantuan tunai (kartu digital) ke orang tua (TANPA DAPUR UMUM) bisa jadi solusi yg lebih aman bagi kesehatan siswa, lebih efisien, tepat sasaran, mengurangi potensi kebocoran, & membantu stabilisasi harga sembako

    POIN-POIN UTAMA KONSEP MBG AHOK:
    1). Bukan makanan, tapi uang yang dikirim ke orang tua

    Pemerintah memberikan subsidi atau anggaran makan langsung ke keluarga siswa melalui kartu elektronik.

    Uang ini hanya bisa digunakan untuk pembelian makanan bergizi di tempat yang sudah ditentukan.

    2). Mengaktifkan ekonomi warga (warung/toko lokal)

    Dana MBG bisa dibelanjakan di warung atau UMKM sekitar sekolah atau rumah siswa.

    Mendorong ekonomi lokal agar ikut tumbuh, tidak hanya perusahaan katering besar yang mendapat untung.

    Menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi ketimpangan ekonomi.

    3). Orang tua lebih berperan

    Orang tua diberi kepercayaan untuk membeli atau menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anaknya.

    Kemandirian keluarga tetap dijaga, tidak hanya menjadi penerima pasif.

    4). Fleksibel & bermartabat

    Anak tidak harus makan makanan yang sama setiap hari dari katering.

    Keluarga bisa menyesuaikan dengan selera, alergi, atau kebutuhan gizi anak.

    Lebih manusiawi dan adil, karena memperhitungkan konteks sosial-budaya makanan.

    5). Harga bahan pokok yang dibutuhkan oleh Dapur umum MBG harga naik, dibandingkan harga bahan pokok yang lain, sehingga membuat masyarakat, semakin sukar utk memenuhi kebutuhan pokoknya, akibat kenaikan harga.

    Cara Kerja (Contoh Mekanisme Sederhana):

    Pemerintah menetapkan nilai MBG per anak per hari (misalnya Rp15.000).

    Dana ditransfer ke kartu elektronik (misalnya kartu pintar berbasis chip/QR) milik orang tua.

    Orang tua dapat membelanjakan dana tersebut di warung mitra yang terdaftar.

    Warung menerima pembayaran melalui sistem digital dan bisa klaim penggantian ke pemerintah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *