Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Krisis Air Bersih Melanda Karangbale, Puluhan Warga “Serbu” Kantor PDAM Larangan

IMG 20260407 WA0002
Puluhan warga Desa Karangbale gruduk Kantor PDAM Larangan, lantaran air tidak mengalir semenjak sebelum lebaran.(Foto Damus For hariandaerah.com)

BREBES – Suasana memanas menyelimuti Kantor PDAM Tirta Baribis Unit Larangan, Kabupaten Brebes, pada Senin (06/04/2026). Puluhan warga dari Desa Karangbale, yang mayoritas terdiri dari kaum ibu atau yang akrab disapa “emak-emak”, melakukan aksi pendatangan atau “penggerudukan” ke kantor layanan air tersebut.

Aksi protes ini dipicu oleh kekecewaan mendalam atas layanan yang dinilai tidak maksimal. Warga mengeluhkan aliran air yang telah mengering atau tidak mengalir sama sekali sejak sebelum hari raya Idulfitri 2026 lalu.

Salah satu perwakilan warga, Leo, mengungkapkan bahwa kedatangan warga ke kantor PDAM bukan tanpa alasan. Tujuan utama mereka adalah untuk menuntut kejelasan sekaligus mendesak perbaikan layanan, khususnya di wilayah Karangbale bagian barat, tepatnya di kawasan Dusun Cuplika.

“Tujuan kami ke sini meminta pihak PDAM supaya benar-benar memperhatikan wilayah kami, khususnya di daerah Cuplika. Sudah tidak ada air mengalir sejak sebelum Lebaran sampai dengan hari ini,” ujar Leo.

Keluhan warga kian menjadi lantaran meskipun tidak mendapatkan pasokan air, tagihan rekening bulanan tetap wajib dibayarkan. Warga merasa keberatan karena harus membayar lunas dengan nominal yang terbilang tinggi, yaitu di atas Rp 50.000 hingga mencapai Rp 60.000, namun fasilitas yang diterima nihil.

BACA JUGA:  Legislatif Brebes Hingga Aktivis Mendesak, BBWS Cimancis Segera Tangani Sungai Babakan

“Pembayarannya harus lunas terus ya, walaupun airnya mati kami tetap harus bayar. Nominalnya di atas Rp 50 ribu, bahkan ada yang sampai 60 ribuan kalau tidak salah ingat,” tambahnya.

Selain itu, Leo juga menyoroti respons dari pihak PDAM yang dinilai belum memuaskan. Selama ini, komunikasi yang terjalin hanya sebatas petugas lapangan di lokasi tanpa adanya solusi nyata atau kejelasan kapan perbaikan akan selesai.

“Belum ada solusi yang jelas, yang datang cuma tenaga lapangan saja untuk mengecek, tapi tidak ada tindak lanjut yang tuntas,” ujarnya.

Akibat mati surinya aliran air ini, warga terpaksa mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus membeli air galon untuk minum, sementara untuk keperluan mandi dan mencuci terpaksa mengandalkan air sungai yang kondisinya keruh.

“Untuk minum terpaksa beli air galon, sedangkan untuk mandi dan cuci kami pakai air sungai. Padahal biasanya pakai air PDAM, dan sayangnya air sungai sekarang kondisinya keruh semua,” keluhnya.

Warga pun berharap agar pihak manajemen PDAM Unit Larangan segera bertindak cepat untuk memperbaiki sistem distribusi air agar dapat kembali normal dan berjalan lancar seperti halnya di wilayah-wilayah lainnya.

BACA JUGA:  Dedy Yon Apresiasi Kolaborasi OJK Tegal dan TP PKK, SICANTIKS Jadi Wujudnya

Merespons keluhan tersebut, Direktur Utama PDAM Tirta Baribis Brebes, Fanny Shandra Desatian, menegaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti masalah yang terjadi di lapangan.

“Masalah ini terkait dengan laporan yang awal disampaikan kemarin. Sudah kami tindaklanjuti, meskipun prosesnya membutuhkan evaluasi. Tapi tadi sudah ada kabar, pimpinan Unit Larangan yang baru sudah bergerak bersama Kepala Bagian Teknik untuk menangani hal ini,” ujar Fanny saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Fanny menjelaskan bahwa tim teknis akan segera melakukan penyisiran dan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan pipa yang ada. Ia berharap perbaikan ini dapat segera membuahkan hasil.

“Insya Allah nanti malam akan langsung dilakukan penyisiran dan evaluasi jaringan secara menyeluruh. Mudah-mudahan besok pagi atau siang kondisinya sudah bisa kembali normal atau clear,” pungkasnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *