SIMEULUE — Di balik keindahan alam Kabupaten Simeulue yang dikenal dengan pantai, laut dan kekayaan tradisinya, tersimpan beragam warisan budaya yang tumbuh dan berkembang dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Tari Madidik, seni tari tradisional yang berasal dari Desa Lauke, Kecamatan Simeulue Tengah.
Tari Madidik bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi memiliki nilai sejarah dan pesan kehidupan. Gerakan, syair, musik pengiring hingga busana yang digunakan menjadi satu kesatuan yang menggambarkan kehidupan masyarakat serta nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Sejarah Tari Madidik berawal dari kehidupan sederhana masyarakat di Desa Lauke. Dahulu, seorang nenek yang sedang menjaga cucunya berusaha menghibur sang cucu ketika persediaan makanan di rumah telah habis. Dalam suasana tersebut, sang nenek bernyanyi sambil melakukan gerakan sederhana dengan menghentakkan kaki dan menggerakkan tangan.
Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah bentuk kesenian. Gerakan yang awalnya dilakukan untuk menghibur cucu berkembang menjadi tarian yang diwariskan secara turun-temurun hingga dikenal sebagai Tari Madidik.
Nama Madidik memiliki makna menghentakkan kaki. Hentakan tersebut mengandung filosofi tentang semangat manusia dalam menjalani kehidupan, bekerja, berusaha dan tidak mudah menyerah demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan keturunannya.
Dalam perkembangannya, Tari Madidik ditampilkan secara berkelompok. Pertunjukan melibatkan penari, pemukul gendang, pemain angkom atau canang serta pelantun syair. Perpaduan gerakan dan musik menciptakan karakter khas yang menjadi daya tarik tarian tradisional asal Desa Lauke tersebut.
Gerakan Tari Madidik antara lain terdiri dari tabek atau nyembah, langkah maju, pusing atau putar, langkah pinggir serta tabek atau tutup. Gerakan dilakukan secara kompak mengikuti irama musik dan syair yang dilantunkan dalam bahasa daerah Simeulue.
Keunikan lainnya terdapat pada kerincing kaki yang dibuat dari tutup botol bekas. Kerincing tersebut menghasilkan bunyi gemerincing ketika penari menghentakkan kaki, sekaligus memperkuat irama dan karakter pertunjukan.
Busana penari juga memiliki ciri tersendiri, antara lain kebaya, celana panjang hitam, kain panjang bermotif sebagai pengganti rok, ciput atau jilbab hitam, selendang yang dililitkan di kepala serta selempang songket di bagian dada.
Tari Madidik juga mengandung pesan moral melalui syair yang dilantunkan. Nasihat dan petuah tersebut menjadi media untuk menyampaikan nilai kehidupan kepada generasi berikutnya agar tetap mengenal budaya dan kearifan masyarakat Simeulue.
Eksistensi Tari Madidik tidak hanya berhenti pada kegiatan masyarakat di Simeulue. Warisan budaya dari Desa Lauke tersebut juga pernah dibawa ke panggung budaya Aceh.
Pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 tahun 2023 di Banda Aceh, Simeulue menampilkan Tari Madidik dalam rangkaian pertunjukan tari tradisi. Pemberitaan mengenai PKA-8 mencatat Tari Madidik sebagai salah satu tarian khas Simeulue yang ditampilkan dan disebut masih jarang dikenal oleh masyarakat pesisir Aceh lainnya.
Keikutsertaan tersebut menjadi momentum penting karena Tari Madidik tidak hanya diperkenalkan kepada masyarakat Simeulue, tetapi juga mendapatkan ruang untuk memperlihatkan identitas budaya Simeulue di tingkat Aceh.
Bagi masyarakat Desa Lauke, tampilnya Tari Madidik di panggung PKA-8 merupakan kebanggaan sekaligus bukti bahwa kesenian yang tumbuh dari kehidupan sederhana masyarakat desa memiliki nilai budaya yang layak diperkenalkan lebih luas.
Ketua Sanggar Tari Madidik Desa Lauke, Hardawi, mengatakan keberadaan Tari Madidik harus terus dijaga karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
Menurut Hardawi, Tari Madidik bukan hanya tentang bagaimana seseorang menari, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda memahami sejarah dan pesan yang terkandung di balik sebuah kesenian.
“Tari Madidik ini bukan sekadar gerakan atau hiburan. Di dalamnya ada sejarah, ada nasihat dan ada pesan dari orang tua kita terdahulu. Hentakan kaki itu menggambarkan semangat untuk bekerja dan berusaha dalam kehidupan,” ujar Hardawi, Sabtu (15/08/2028).
Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam keberlangsungan kesenian tersebut. Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan, tetapi juga harus dilakukan dengan mengenalkan sejarah dan makna Tari Madidik kepada anak-anak sejak dini.
“Kami berharap anak-anak muda tidak hanya bisa menarikan Tari Madidik, tetapi juga mengetahui dari mana asalnya, bagaimana sejarahnya dan apa makna yang terkandung di dalamnya. Kalau generasi muda sudah mengenal dan mencintainya, insyaallah Tari Madidik akan terus hidup,” katanya.
Pelestarian Tari Madidik menjadi tanggung jawab bersama agar warisan budaya Desa Lauke tersebut tidak hilang ditelan perubahan zaman. Dari sebuah gerakan sederhana yang lahir dari kasih sayang seorang nenek kepada cucunya, Tari Madidik kini menjadi bagian dari identitas budaya Simeulue yang patut dibanggakan dan diwariskan kepada generasi mendatang. (**)

















