Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Alami Trauma, Mata Kabur dan Kepala Sekolah Diduga Lepas Tangan: Siswa SD Korban Pemukulan Mencari Keadilan

IMG 20261108 221516
Ilustrasi aksi pemukulan sesama siswa. (Foto:hariandaerah.com/Ilustrasi).

ACEH TIMUR – Peristiwa pemukulan antar siswa yang terjadi di dalam lingkungan SD Negeri Paya Pelawi, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur pada Kamis, 29 Oktober 2026 lalu masih menyisakan kejanggalan.

Seorang siswa kelas VI SD yang diduga dipukul sesama temannya itu, sampai saat ini masih mengalami trauma dan matanya masih kabur. Ia juga tidak berani masuk sekolah lagi.

Bahkan Kepala Sekolah pun diduga lepas tangan dan tidak bertanggung jawab atas kejadian pada pukul 07.30 WIB di dalam lingkungan sekolah sebelum masuk kelas dan jam pelajaran dimulai.

Kini orang tua korban mencari keadilan dengan meminta pendampingan kepada pihak Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Langsa untuk membantu proses penanganan serta pemenuhan hak-hak anaknya, termasuk pendampingan psikologis dan pemulihan kondisi korban.

Nurkhatimah (38) yang merupakan ibu korban saat dijumpai awak media menyampaikan kronologis kejadian berdasarkan keterangan anaknya dan juga kondisi terkini anaknya, Minggu (08/11/2026).

Ia mengatakan, peristiwa pemukulan terhadap anaknya tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB saat anaknya sudah berada di lingkungan sekolah, tetapi kegiatan belajar belum dimulai.

“Anak saya sejak kejadian, tidak lagi masuk sekolah. Hingga kini, kondisi matanya masih kabur dan terkadang terasa perih,” terangnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa saat pemukulan, sejumlah siswa sempat menyaksikan kejadian. Ada juga seorang guru bernama Mahmud yang datang dan memarahi siswa yang terlibat.

BACA JUGA:  Pelaku Pelecehan Seksual Beraksi, IRT Jadi Korban

‎”Anak saya cerita ada guru yang datang dan memarahi mereka. Tetapi ketika saya tanyakan kepada kepala sekolah, katanya hal itu terjadi diluar jam sekolah,” katanya bernada heran.

Nurkhatimah baru mengetahui kondisi mata anaknya semakin memburuk sehari pasca kejadian. Menurutnya, saat pulang sekolah di hari kejadian, kondisi mata anaknya belum terlihat parah dan anaknya juga tidak mengaku bahwa telah menjadi korban bullyng.

“Pengakuan kejadian datang dari anak saya yang lain, yaitu adik korban. Ia mengatakan, bahwa abangnya terlibat aksi kekerasan,” ungkapnya penuh haru.

Karena khawatir dengan kondisi mata anaknya, ‎Nurkhatimah membawa anaknya langsung ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan. Ia juga membawa anaknya ke klinik mata menggunakan biaya pribadi.

Namun hingga kini kondisi anaknya belum sepenuhnya pulih. Penglihatannya masih kabur, terkadang terasa perih, bahkan sesekali mengeluhkan sakit kepala.

Nurkhatimah semakin khawatir setelah mendapatkan penjelasan berbeda dari dokter yang memeriksa anaknya. Salah satu dokter menyebut proses penyembuhan membutuhkan waktu, sementara dokter lainnya menyampaikan adanya kemungkinan dampak terhadap penglihatan korban ke depan.

Sementara itu, pihak sekolah akhirnya memperhatikan kejadian tersebut. Nurkhatimah mengatakan, ada beberapa kali coba dimediasi dengan melibatkan pihak sekolah dan keluarga anak yang diduga terlibat.

BACA JUGA:  Percepat Pembersihan Krueng Langsa dari Tumpukan Kayu, Pemko Langsa Kerahkan Dua Excavator

“Sudah empat kali mediasi dilakukan, namun belum ada kesepakatan penyelesaian,” ujarnya.

Yang paling membuat ‎Nurkhatimah kecewa adalah tentang sikap kepala sekolah. Dari komunikasi melalui telepon, kepala sekolah dianggap tidak bertanggung jawab, walau kejadian berlangsung di lingkungan sekolah.

‎”Pernah dibicarakan agar biaya pengobatan ditanggung bersama. Saya jelas menolak, karena kondisi anak saya membutuhkan perhatian yang lebih serius,” ketusnya.

Walaupun dari keluarga anak yang diduga terlibat pernah menerima uang Rp.250 ribu untuk biaya pengobatan awal. Namun, Nurkhatimah mengaku jumlah tersebut belum mencakup seluruh biaya yang telah dikeluarkan.

Tidak hanya persoalan pengobatan anaknya. Ia juga menyampaikan jika anaknya mengalami perubahan perilaku setelah kejadian. Anaknya menjadi lebih tertutup dan belum bersedia kembali bersekolah.

Dengan kondisi anaknya kini, Nurkhatimah berharap persoalan tersebut jangan dianggap hal yang sepele.

Ia juga meminta keluarga anak yang terlibat maupun pihak sekolah menunjukkan tanggung jawab, termasuk menyampaikan permintaan maaf dan memperhatikan pemulihan anaknya.

‎”Saya berharap persoalan ini jangan dianggap sepele. Saya juga tidak ingin menjadi korban, walau justru saya yang harus menghabiskan waktu dan biaya untuk pengobatan anak,” tandas Nurkhatimah.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *