SUBULUSSALAM – Kota Subulussalam merupakan Daerah otonom pasca pemekaran Aceh Singkil pada tahun 2007 silam.
Setelah terbentuknya Kota Subulussalam, pertama kalinya Alm H. Merah Sakti terpilih sebagai Wali Kota yang didampingi Affan Alfian bintang (Walikota Sekarang).
Kemudian, pada Pilkada kedua Alm H. Merah Sakti kembali terpilih sebagai Wali Kota yang di dampingi oleh Salmaza (Wakil Wali Kota Sekarang).
Aktivis Mahasiswa Subulussalam Arianto S.Pd mengatakan, pada pilkada 2018 lalu Affan Alfian bintang dan Salmaza kembali terpilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Subulussalam, dimana sebelumnya pernah menjadi mantan rekan kerja Alm H. Merah Sakti.
“Secara pengalaman Wali Kota dan Wakil Wali Kota Subulussalam yang sekarang sudah bisa dikatakan mampu dalam mengelola Pemerintahan yang good government seperti yang dicita-citakan, apalagi itu termasuk dalam Kampanye walikota dan wakil walikota sekarang,” kata Arianto.
Lanjut Arianto, diambah lagi banyak Kepala Dinas yang masih bergabung dan berpengalaman dibidangnya demi tercapainya Pemerintahan yang bersih.
Saat ini, Masyarakat sangat berharap kepada Pemerintah yang memimpin untuk memajukan segala sektor terutama ekonomi. Sebelumya, Masyarakat ditekan wabah Covid-19 yang telah menurunkan pendapatan masyarakat.
“Untung saja masyarakat di bantu dengan naiknya harga kelapa sawit dalam beberapa bulan terakhir ini, dimana masyarakat banyak terbantu dalam mengatasi permasalahan ekonominya,” ujar Arianto.
Arianto juga menegaskan, seharusnya Pemerintah Kota lebih mengoptimalkan kembali kerja sama untuk menekan kembali harga sawit, setidaknya nya dalam menuntaskan kemiskinan.
Oleh karena itu, Masyarakat tentunya berharap dan yakin kepada Pemerintah bahwa, mampu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat jikalau Pemerintah serius dalam membangun kerjasamanya tentunya tidak mengutamakan pencitraan.
Bukan hanya alasan mengapa di sebut sekedar pencitraan, dalam beberapa bulan menjabat Wali Kota sudah beberapa kali mengeluarkan statement yang mengandung hanya pencitraan tanpa adanya hasil yang dikeluarkan. Kemudian, Walikota menyebut Subulussalam akan menjadi Kota Santri tapi berdasarkan fakta yang ada, tidak ada menunjukkan Subulussalam menjadi Kota Santri.
Tak hanya itu, Wali Kota juga menggagas Kota Pintar (smart city) tapi faktanya juga berbanding terbalik dengan apa yang di sampaikan oleh walikota. Bahkan, terkesan menghambur hamburkan uang, belum lagi yang terbaru Walikota menyebut Subulussalam akan menjadi Kota Pendidikan bahkan viral di media sosial di karenakan ketidak percayaan masyarakat atas apa yang di sampaikan oleh walikota tersebut.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa statement walikota Subulussalam saat ini lebih fokus untuk pencitraan tanpa adanya hasil yang bagus, padahal pemilu masih jauh tapi sudah mulai menunjukkan kinerja yang hanya ceplas-ceplos didalam media.
“Pada akhirnya masyarakat akan timbullah rasa ketidak percayaan kepada pemerintah, apalagi hadirnya kembali tokoh-tokoh pengkritik yang selama ini diam,” ujarnya.
“Kita berharap pemerintah segera bangun dari ketidakmampuannya membangun Subulussalam dan berharap fokus kembali pada poin waktu kampanye dulunya demi mengembalikan rasa percaya kepada masyarakat,” pungkasnya.














