Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Wisata  

Terus Lestarikan Agar Tetap Eksis, Disbudpar Aceh: Jangan Lupakan Tari Pho

tari
Tari Pho dari Aceh Barat (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Tari Pho adalah tari yang berasal dari Aceh. Perkataan Pho berasal dari kata peubae, peubaeartinya meratohatau meratap. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hamba kepada Yang Mahakuasa yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.

Sejarah Tari Pho
Tarian pho adalah tari yang berasal dari provisi Aceh, tepatnya diperbatasan antara Aceh Barat dan Aceh Selatan. Asal kata Pho berasal peuba-e yang artinya meuratoh atau meratap. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hanba kepada yang maha kuasa.  Selain itu sebutan Pho juga ditunjukan untuk raja Aceh terdahulu yang sudah meninggal disebut po teumeureuhon. Tari Pho dimainkan oleh para wanita, dahulu dilakukan pada saat kematian orang, yang didasarkan atas permohonan kepada yang mahaa kuasa. Mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap iringan ratapan tangis. Pada zaman sekarang tari pho masih dipertahankan pada acara-acara perkawinan,

Konon katanya di perbatasan Aceh Barat dengan Aceh Selatan, dalam suatu kerajaan yang bernama kerajaan Kuala Batee terjadi suatu kisah sedih yakni seorang Ibu yang menyesali maut anaknya yang di aturan mati oleh raja lantaran di fitnah telah berbuat zina/khalwat, legenda ini menjadi awal mula terciptanya tari Pho.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, lampau biasanya dilakukan pada maut orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih lantaran ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis.

Tari Pho
Tari Pho Aceh Barat. (Foto: Istimewa).

Menurut Salah soerang pemerhati Seni (tokoh Masyarakat), Sahal Tastari, seni pertunjukan tari pho telah ada sejak dahulu, namun pastinya belum diketahui secara pasti. Seni pertunjukan ini diperkirakan berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada sekitar awal abad ke-20 jika menilik dari lirik yang ada pada saat Tum Beude yang menyebutkan tentang kewafatan pahlawan nasioanl Teuku Umar.

“Tarian ini sudah dikenal ketika belanda memasuki awal abad ke-20 dan kemudian berhasil menduduki daerah ini sejak tahun 1890-an hingga tahun 1942 dalam rangka mengejar pasukan muslimin Aceh hingga masuknya Jepang ke sana,” kata Sahal kepada media ini, Sabtu (15/4/2023).

BACA JUGA:  Khazanah Piasan Nanggroe 2023 Resmi Diluncurkan, Menparekraf RI Berikan Apresiasi ke Disbudpar Aceh

Tarian tersebut dimainkan oleh gadis-gadis dengan membuat lingkaran ataupun baris berbanjar sambil berdiri.

“Tari Pho ditarikan oleh wanita dan diiringi oleh syair-syair yang dilantunkan oleh seorang syahi,” sebutnya.

Kendati demikian, Sahal meneyebutkan, bahwa seiring dengan perkembangannya tarian ini, telah mengalami perubahan bentuk menjadi versi penampilan di panggung yang diciptakan oleh Drs. Ichsan Ibrahim.

“Biasanya ditampilkan pada acara perkawinan dan khitanan dengan maksud menghibur penonton dan tuan rumah, pertunjukan tari pho saat ini sering ditemui pada saat acara perkawinan yang disebut manoe pucuk,” sebutnya.

Meski demikian, berdasarkan latar belakang tari Pho ini, bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat Aceh, yaitu masyarakat agraris, dimana dalam tarian ini tampak dengan jelas gerakan-gerakan simbolis dalam mengolah sawah ladang.

“Oo bineu loen balek laen,  menggambarkan bahwa tanah itu harus sering sekali dibajak dan disikat,” pungkasnya.

Pesatnya perkembangan tarian Pho ini terutama sejak berkembangnya dan meningkatnya kegiatan-kegiatan kaum ibu di Aceh yang disponsori oleh “Putri Phang” istri Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Di dalam lagu Pho juga disebut Putri Phang atau sering disebut Putroe Phang.

Oleh sebab itu, perkembangan tari pho secara fungsinya di Aceh Barat berubah menjadi penghantar nasihat yang sangat sering ditampilkan pada acara manoe pucuk atau memandikan pengantin yang berisi nasihat seorang ibu dan keluarganya untuk anaknya yang akan menikah.

Fungsi dan Makna Tari Pho

Perkataan Pho berasal dari kata peuba-e po, peuba- rakyat/hamba kepada Yang Maha Kuasa (yang memiliki) misalnya Po Teu Allah, Po Teumeureuhom, Teuku Po, Ureung Po dan lain-lain.

Kata “Pho” dalam bahasa Aceh adalah sebagai suatu sebutan untuk panggilan kehormatan dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kata ini diasumsikan dengan kata sifat lainnya, seperti “Pho Teu Allah”, “Allah Hai Po”, “Ee Po”, sebagai sebutan untuk menghormati Allah SWT yang memiliki segala makhluknya.

Selain itu juga, kata “Po Teu Meureuhom” sebagai sebutan untuk menghormati sultan-sultan yang sudah mangkat. Sebutan lainnya seperti “Teuku Po” digunakan sebagai sebutan untuk menghormati golongan bangsawan/uleebalang, “Ureung Po Rumoh” sebagai sebutan untuk menghormati istri yang dianggap sebagai pemilik atau pewaris dari rumah didalam pemahaman kebudayaan dan sejarah di Aceh. Sedangkan sebagai wujud seni tradisi pertunjukan tari pho dapat dilakukan beriringan antara tarian sekaligus nyanyian yang berisi syair-syair tragedi.

Berdasarkan latar belakang tari Pho ini, bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat Aceh, yaitu masyarakat agraris, dimana dalam tarian ini tampak dengan jelas gerakan-gerakan simbolis dalam mengolah sawah ladang.

BACA JUGA:  Lakukan Silaturahmi Dengan Kepala KSOP, Ini Harapan Buruh TKBM Samudra Meulaboh Jaya dan FSPMI PC Aceh Barat

Gerakan para penari menghentakkan kaki ke lantai berarti bahwa tanah yang telah dibajak harus diinjak-injak supaya rata. Kata “Oo bineu loen balek laen” menggambarkan bahwa tanah itu harus sering sekali dibajak dan disikat.

Tepuk tangan adalah simbolis mengusir burung dan mengetam atau mengumpulkan ikatan-ikatan padi yang telah diketam. Pesatnya perkembangan tarian Pho ini terutama sejak berkembangnya dan meningkatnya kegiatan-kegiatan kaum ibu di Aceh yang disponsori oleh “Putri Phang” istri Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Di dalam lagu Pho juga disebut “Putri” Phang atau “Putroe Phang.

Eksistensi Tari Seudati Perlu Diangkat

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah menyebutkan, kesenian Aceh tentunya memiliki gerakan yang dinamis seperti tari Pho ini, dikarenakan penarinya memiliki energi yang atraktif jika tampil di panggung nasional atau internasional selalu menjadi “poin of interes” karena penuh semangat totalitas dan berdedikasi dalam menampilkan pertunjukan.

“Oleh sebab itu, menjadi salah satu indikasi, perlunya kita bersama-sama seluruh masyarakat untuk selalu menjaga dan mengembangkan serta mengangkat eksitensi seni budaya Aceh khususnya tari Dampeng ini,” harap Nurlaila saat ditemui hariandaerah.com di ruang kerjanya, Senin (15/4/2023).

Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap seni budaya Aceh semakin meningkat, oleh karena itu perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.

“Sebagai bentuk dukungan agar budaya Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pelaku budaya dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada di depan mata kita yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” ujar Nurlaila.

Hal senada juga turut disampaikan Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal agar terus dirawat dan dilestarikan tari Pho ini agar tetap eksis.

“Kehadiran tari Pho di tengah masyarakat masih sangat perlu untuk dilaksanakan. Lewat Syair-syairnya banyak sekali nasihat di dalamnya, sehingga dapat menarik minat warga yang menyaksikannya,” ujarnya.

Pemerintah Aceh melalui Disbudpar, kata Almuniza, berkomitmen terus melestarikan beragam budaya kearifan lokal Aceh.

“Salah satu budaya kita yang perlu dilestarikan adalah tari Pho. Disbudpar Aceh terus Majukan Pariwisata’. Kiat-kiat pelestarian budaya Aceh akan terus kami gelorakan dan kami tingkatkan,” ujarnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *