Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Akibat Cuaca Ekstrem Hantam Petani Durian di Madiun, 30% Produksi Alami Penurunan

petani
Petani Durian Saat Menjual Hasil Panennya. (Foto: harianderah.com/Bambang).

MADIUNCuaca ekstrem bukan saja menimbulkan dampak negativ terhadap kondisi alam berupa bencana hidrometeorologi, melainkan juga merusak kesehatan tanaman perkebunan di Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, puluhan petani durian pada masa panen tahun ini dipaksa cuaca ekstrem untuk ‘tidak bergembira’. Itu lantaran hasil panennya mengalami penurunan produksi mencapai 30 persen.

Harwadi, salah seorang petani yang sudah puluhan tahun menggeluti cocok tanam buah berkulit duri itu menuturkan, menurunnya produksi durian yang dialaminya pada masa panen tahun ini diakibatkan cuaca ekstrem sehinggah mengalami penurunan pruduksi diperkirakan mencapai 30%, tidak sebanding dengan panen sebelumnya.

“Penurunan hasil produksi durian tahun ini, diakibatkan dari munculnya cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang Oktober tahun lalu, hingga berlanjut pada tahun ini,” Harwadi kepada hariandaerah.com, Minggu (26/2/2023),

Hardawi membeberkan, akibat dihajar hujan, angin dan suhu sangat dingin buah durian dalam proses pematangan tidak bisa mencapai seratus persen. Artinya, buah yang sebenarnya baru berproses sekitar 80% pada pohonnya, terpaksa harus dipanen karena dipaksa tua oleh cuaca.

“Sudah barang tentu tekstur daging buah dan rasa tidak maksimal. Pada gilirannya, nilai jual juga tentunya mengalami penurunan,” ujar  Harwadi.

BACA JUGA:  Puncak ASEAN Panji Festival 2023 Meriahkan Jawa Timur

Selain berdampak pada turunnya kualitas rasa dan volume daging buah, katanya, jumlah produksi butiran buah yang dihasilkan setiap pohon juga mengalami penurunan.  “Jika cuaca normal, tidak ekstrem, setiap satu pohon biasanya menghasilkan sekitar 100 butir buah durian. Sedangkan saat ini satu pohon cuma menghasilkan 70 butir,” keluh Harwadi.

Terjangan cuaca ekstrem, terang Harwadi, diawali saat pohon mengalami masa berbunga pada periode September tahun lalu. Saat itu kondisi alam terus menerus turun hujan, dengan kombinasi suhu amat diingin. Kemudian lanjut hardawi, disusulnya  cuaca sangat panas yang disertai angin, sehinggah berakibat buah muda durian tersebut  tidak sanggup mengembang secara normal.

“Disaat cuaca hujan dan dingin itu, kondisi tanah sebagai sumber asupan nutrisi bagi pohon mengalami keasaman yang tinggi. Disitulah pohon kesulitan mencukupi kebutuhan makanannya,” tutur  Harwadi.

duria
Kondisi Pohon durian di Madiun Akibat Cuaca Ekstrem. (Foto: hariandaerah.com/ Bambang).

Hardawi menjelaskan, pihaknya memiliki sebanyak 105 pohon durian yang ada dilereng Gunung Wilis sekitar rumahnya. Dari ratusan pohon itu, terdapat tiga jenis pohon durian masing-masing Kawuk, Montong dan Kani.

BACA JUGA:  Rektor UIN SUNA Prof Danial Apresiasi Bantuan Bank Muamalat untuk Mahasiswa Terdampak Banjir

Diantara ketiga jenis durian itu, menurut Harwadi, yang paling enak dan bernilai ekonomi tinggi adalah jenis Kawuk. Itu karena durian Kawuk memiliki aroma dan rasa berkualitas.

Harwadi menjual jenis Kawuk kepada pedagang seharga antara Rp. 40 – 60 ribu per butir. Sedangkan jenis Montong dan Kani dijual seharga Rp. 45 ribu per butirnya.

Sementara itu, ditempat terpisah Kepala Desa Segulung, Ikhsanudin membenarkan bahwa turunnya hasil panen durian di wilayahnya.

“Iya memang benar para petani durian di wilayah desa ini mengalami penurunan produksi. Itu karena dampak cuaca ekstrem,” kata Ikhsanudin.

Di Desa Segulung, katanya, saat ini terdapat 20 orang petani durian yang memiliki lahan. Sedangkan warga biasa yang menanam pohon durian di setiap pekarangan rumahnya, tak kurang dari seribu orang.

Menurut Ikhsanudin, hingga saat ini belum pernah ada pengarahan atau pembinaan dari pihak terkait, menyangkut penanganan dampak cuaca ekstrem terhadap tanaman durian.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *