Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Aceh  

Mayday 2025, Buruh Abdya Pastikan Tidak Ada Aksi Unjuk Rasa: Fokus pada Konsolidasi Internal

Ia berujar sampai saat ini, Serikat Pekerja Buruh di Kabupaten Aceh Barat Daya belum ada rencana melakukan aksi damai atau unjuk rasa untuk memperingati Mayday 2025.

IMG 20250427 114606
Khalidi (baju kemeja) bersama warga.(Foto.hariandaerah.com/teukunizar)

Aceh Barat Daya – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau Mayday 1 Mei 2025, Serikat Pekerja Buruh PC.F-SPPP.SPSI di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), dipastikan tidak akan ada aksi unjuk rasa dalam bentuk apapun.

Kepastian ini disampaikan langsung Ketua Serikat Pekerja Buruh PC.F-SPPP.SPSI, Khalidi saat ditemui media pada Minggu (27/04/2025).

Ia berujar sampai saat ini, Serikat Pekerja Buruh di Kabupaten Aceh Barat Daya belum ada rencana melakukan aksi damai atau unjuk rasa untuk memperingati Mayday 2025.

Bahkan, lanjutnya, sekalipun ada instruksi dari Ketua Serikat Buruh Provinsi Aceh untuk mengirimkan perwakilan ke Banda Aceh atau Jakarta, buruh dari Aceh Barat Daya dipastikan tidak akan berangkat mengikuti aksi tersebut.

Khalidi mengungkapkan, keputusan ini merupakan hasil rapat internal kecil bersama para pengurus serikat pekerja buruh se-Kabupaten Aceh Barat Daya.

Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa peringatan Mayday tahun ini akan difokuskan untuk memperkuat konsolidasi internal organisasi.

“Kami lebih memilih untuk memperkuat barisan, meningkatkan solidaritas antar buruh, dan membangun strategi untuk memperjuangkan hak-hak pekerja melalui jalur komunikasi dan dialog dengan pemerintah daerah serta pengusaha,” jelasnya.

BACA JUGA:  Pj Gubernur Aceh Pimpin Upacara HUT Kabupaten Aceh Singkil ke-25

Menurut Khalidi, situasi di Aceh Barat Daya relatif kondusif dan para buruh lebih memilih pendekatan yang konstruktif ketimbang turun ke jalan.

Khalidi juga menekankan bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan keamanan di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Ia menilai, saat ini langkah yang lebih dibutuhkan adalah stabilitas, terutama dalam hubungan industrial antara pekerja dan pengusaha.

“Tujuan kami tetap sama, yakni memperjuangkan kesejahteraan buruh. Namun, metodenya yang kami sesuaikan dengan situasi daerah,” imbuh Khalidi.

Ia juga mengapresiasi langkah beberapa perusahaan di Aceh Barat Daya yang selama ini dinilai cukup kooperatif dalam memenuhi hak-hak pekerja, sehingga tensi ketenagakerjaan relatif rendah dibandingkan daerah lain.

Meski tanpa aksi turun ke jalan, Khalidi memastikan bahwa komitmen Serikat Pekerja Buruh Abdya dalam memperjuangkan hak-hak buruh tetap tidak akan surut.

“Peringatan Mayday tetap bermakna bagi kami. Semangatnya tetap hidup. Kami memilih jalur yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan anggota kami,” pungkas Khalidi.

BACA JUGA:  Jubir MTA: Bantuan Meugang dari Presiden Wajib Disalurkan dalam Bentuk Daging

Dengan keputusan ini, Mayday 2025 di Kabupaten Aceh Barat Daya dipastikan berlangsung damai dan fokus pada upaya penguatan internal organisasi buruh.

Sejarah Mayday dan Tradisi Aksi Buruh

Sebagai informasi, Mayday diperingati setiap tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.

Sejarahnya bermula dari perjuangan gerakan buruh di abad ke-19 yang menuntut jam kerja delapan jam di Amerika Serikat.

Sejak itu, Mayday menjadi simbol perjuangan kaum pekerja di seluruh dunia, biasanya diwarnai dengan aksi unjuk rasa, orasi, dan demonstrasi damai.

Di Indonesia, peringatan Mayday kerap menjadi momentum bagi buruh untuk menyuarakan berbagai tuntutan, mulai dari kenaikan upah, perbaikan kesejahteraan, hingga perlindungan hak-hak dasar tenaga kerja.

Namun, seiring waktu, bentuk perayaannya bervariasi, ada yang memilih aksi massa, ada pula yang memperingatinya dengan kegiatan sosial, seminar, hingga audiensi dengan pihak terkait.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *