TANGERANG – Di tengah perjalanan menuju kematangan usia ke-19, Kecamatan Sukamulya memilih untuk tidak berdiam diri. Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 justru dijadikan titik balik untuk menegaskan arah baru: bergerak lebih cepat, melayani lebih baik, dan membangun dengan kesadaran kolektif yang lebih kuat.
Camat Sukamulya, Khalid Mawardi, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan reflektif bagi seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat untuk menatap kembali perjalanan yang telah dilalui—serta berani melangkah lebih jauh ke depan.
“Peringatan hari jadi ini adalah momen untuk bercermin. Sejauh mana kita telah melangkah, sejauh itu pula kita harus berani berbenah dan memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya . Senin (6/4)
Di balik suasana khidmat doa bersama dan santunan anak yatim piatu yang mengiringi peringatan ini, tersimpan pesan yang lebih dalam: bahwa pembangunan tidak boleh berjalan di tempat. Setiap detik yang terlewat tanpa aksi adalah peluang yang hilang untuk menghadirkan perubahan.
Tema yang diusung, “Bergeraklah Walau Selangkah, Karena Diam Tidak Merubah Apa-apa”, menjadi gema yang menggugah kesadaran bersama. Sebuah seruan agar stagnasi ditinggalkan, dan digantikan dengan langkah-langkah nyata, sekecil apa pun, demi kemajuan Sukamulya.
“Diam bukanlah pilihan. Kita harus bergerak, sekecil apa pun langkah itu. Karena dari langkah kecil itulah perubahan besar akan lahir,” kata Khalid.
Ia juga menekankan bahwa kualitas pelayanan publik menjadi wajah utama pemerintah di mata masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan kinerja, inovasi, dan responsivitas bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan keharusan yang tidak bisa ditawar.
Tak hanya soal pembangunan fisik dan administratif, Khalid mengingatkan bahwa kekuatan sejati Sukamulya juga terletak pada nilai-nilai kemanusiaan. Santunan kepada anak yatim piatu yang digelar dalam rangkaian HUT menjadi simbol bahwa di tengah geliat pembangunan, kepedulian sosial tidak boleh pudar.
“Pembangunan yang kuat adalah pembangunan yang tidak melupakan nilai empati. Kita ingin Sukamulya maju, tapi juga tetap hangat dan peduli,” tambahnya.
Kini, di usia yang ke-19, Sukamulya berdiri di persimpangan antara rutinitas dan perubahan. Dan melalui momentum ini, pilihan itu ditegaskan: meninggalkan diam, menjemput gerak, dan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing.
(Ardi)













