Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Dinkes Aceh: Penyakit Jantung Penyebab Utama Kematian, Cegah Dengan Penerapan Pola Hidup Sehat!

Senam Sehat
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar menyelenggarakan Kegiatan Senam Sehat Lansia, Rabu, (9/11/2022). (Foto: Ig Dinas Kesehatan Aceh Besar)

Banda Aceh – Penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut Kementerian Kesehatan RI lakukan penguatan layanan  kesehatan di tingkat primer.

Berdasarkan Global Burden of Desease dan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2014-2019 penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 menunjukan tren peningkatan  penyakit jantung yakni 0,5% pada 2013 menjadi 1,5% pada 2018.

Bahkan penyakit jantung ini menjadi beban biaya terbesar. Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2021 pembiayaan kesehatan terbesar ada pada penyakit jantung sebesar Rp.7,7 triliun.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kejadian penyakit kardiovaskuler antara lain hipertensi, obesitas, merokok, diabetes melitus, dan kurang aktivitas fisik.

“Untuk mengatasi masalah penyakit jantung di Indonesia, Kemenkes melakukan penguatan pada layanan primer melalui edukasi penduduk, pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan meningkatkan kapasitas serta kapabilitas layanan primer,” ujar Direktur Eva pada konferensi pers secara virtual terkait Hari Jantung Sedunia, Rabu (28/9/2022) di Jakarta.

Lebih lanjut Direktur Eva menjelaskan edukasi penduduk dilakukan melalui 7 kampanye utama, antara lain imunisasi, gizi seimbang, olah raga, anti rokok, sanitasi dan kebersihan lingkungan, skrining penyakit, dan kepatuhan pengobatan.

Terkait pencegahan primer dilakukan dengan penambahan imunisasi rutin menjadi 14 antigen dan perluasan cakupan di seluruh Indonesia.

“Pada pencegahan sekunder dilakukan skrining 14 penyakit penyebab kematian tertinggi di tiap sasaran usia, skrining stunting dan peningkatan ANC untuk kesehatan ibu dan bayi,” ungkap Direktur Eva.

Terkait meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan primer dilakukan melalui pembangunan Puskesmas di 171 kecamatan, penyediaan 40 obat esensial, dan pemenuhan SDM kesehatan primer.

Penguatan layanan primer tersebut sejalan dengan transformasi kesehatan, yakni pilar pertama. Untuk diketahui, Kemenkes tengah melakukan transformasi kesehatan melalui 6 pilar, antara lain pilar layanan primer, pilar layanan rujukan, pilar sistem ketahanan kesehatan, pilar sistem pembiayaan kesehatan, pilar SDM kesehatan, dan pilar teknologi kesehatan.

BACA JUGA:  Antisipasi Penyakit Pasca Banjir, Puskesmas Pasi Mali Gelar Baksos Pengobatan dan Cek Up Gratis

Dikatakan Direktur Eva, untuk mengatasi masalah penyakit jantung juga dilakukan melalui regulasi Permenkes nomor 71 tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM).

Dalam Permenkes tersebut tertuang penanggulangan PTM dilakukan melalui promosi kesehatan dengan mengubah perilaku dan pemberdayaan masyarakat, deteksi dini dengan mengidentifikasi dan intervensi sejak dini faktor risiko PTM, perlindungan khusus melalui vaksinasi COVID-19 untuk komorbid, dan penanganan kasus melalui pengobatan di fasilitas layanan kesehatan sesuai standar.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dr. Radityo Prakoso, SpJP (K) mengatakan penyakit jantung tidak hanya ditemukan pada usia tua. Tren menunjukkan peningkatan usia penyakit jantung pada usia yang lebih muda.

Hal itu sebagai akibat dari peningkatan prevalensi obesitas darah tinggi merokok dan kolesterol tinggi di usia muda.

“Terdapat peningkatan prevalensi serangan jantung pada usia kurang dari 40 tahun sebanyak 2% setiap tahunnya dari tahun 2000 sampai 2016,” ucap dr. Radityo.

Salah satu penyakit jantung yang mengalami peningkatan pada usia muda adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner terjadi karena ada sumbatan pada pembuluh koroner baik akibat deposit kolesterol atau inflamasi (peradangan).

Gaya hidup tidak sehat menjadi penyebab paling umum dari penyakit jantung koroner di usia muda. Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, berhenti merokok, berhenti makan makanan berlemak, berhenti konsumsi alkohol, dan rajin olah raga minimal 30 menit sehari.

Screenshot 20220929 010327 YouTube 750x536 1

Tingkatkan Kepedulian

Hari Jantung Sedunia jatuh setiap tanggal 29 september. Tema yang diusung tahun ini adalah ‘Use Heart for Every Heart’.

Hari Jantung Sedunia merupakan momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terkait kesehatan kardiovaskular yaitu penyakit jantung dan pencegahannya.

BACA JUGA:  Cegah Stunting dengan Protein Hewani, Berikut Manfaat Konsumsi Telur

Cegah Dengan Penerapan Pola Hidup Sehat

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM menyebutkan bahwa masalah Obesitas ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat membahayakan kesehatan. “Ada banyak risiko penyakit yang dapat diidap seseorang yang mengalami masalah obesitas. Sebut saja seperti penyakit jantung, diabetes melitus, hingga tekanan darah tinggi”, jelas Sulasmi.

Sulasmi juga menjelaskan jika masalah obesitas sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan pola hidup sehat. “Hal utama untuk memerangi obesitas adalah melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari”, sebutnya, bulan lalu.

“Selain itu, upaya-upaya lain guna mengatasi obesitas seperti mengurangi makan berlebih, mengonsumsi buah dan sayur, mengurangi jenis makanan yang tinggi akan gula, garam, dan minyak, serta mengatur pola istirahat dengan baik”, tambah Sulasmi lagi.

Terakhir ia berharap agar kita semua dapat meningkatkan kepedulian terhadap ketercukupan dan keseimbangan gizi yang baik agar terhindar dari stunting dan obesitas. Dengan gizi yang tercukupi dan juga seimbang, kesehatan tubuh dapat lebih terjaga sehingga berdampak pada peningkatan kualitas SDM yang lebih maksimal.

Adapun cara untuk mendeteksi penyakit jantung tersebut, Menurut Plt. Direktur (Pengendalian Penyakit Tidak Menular) P2PTM dr. Elvieda Sariwati, M. Epid pemeriksaan jantung menggunakan alat Elektrokardiogram (EKG).

“Untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung, umumnya dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung dan menilai efektivitas pengobatan penyakit jantung,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan pemeriksaan EKG dilakukan pada penderita hipertensi dan atau Diabetes Melitus yang berusia 40 tahun keatas, minimal satu tahun sekali.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *