BREBES — Pagi hari di Alun-Alun Brebes terasa begitu istimewa. Suasana masih remang-remang, mentari belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur. Namun kemeriahan Brebes Beres Run 2026 justru menjadi magnet yang luar biasa. Sebanyak 2.000 peserta yang datang dari berbagai kota telah memadati jantung kota Brebes, jauh sebelum matahari pagi menyapa, pada Minggu (13/9/2026).
Kegigihan dan semangat ribuan pelari ini menjadi bukti bahwa ajang olahraga massal di Brebes bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan momen yang dinanti masyarakat luas. Meski udara pagi masih sejuk dan suasana belum sepenuhnya terang, lautan manusia dengan atribut perlombaan sudah memenuhi lokasi — menandakan antusiasme yang tak lekang oleh waktu.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah juga menegaskan bahwa Brebes Beres Run kini telah menjadi agenda yang tidak hanya milik warga lokal, tetapi juga menarik minat masyarakat dari luar kabupaten. Semangat ini diharapkan terus tumbuh, sejalan dengan upaya mempromosikan gaya hidup sehat sekaligus memperkenalkan potensi dan keramahan Kabupaten Brebes kepada khalayak yang lebih luas.
Tepat pukul 05.30 WIB, suasana pecah saat bendera start dikibarkan. Gelombang pertama peserta kategori 10K Competitive melesat membelah jalanan protokol, disusul sepuluh menit kemudian oleh 1.600 pelari kategori 5K Fun Run yang memenuhi rute dengan tawa dan antusiasme tinggi.
Langkah kaki ribuan orang ini bukan sekadar mengejar catatan waktu. Event yang diinisiasi komunitas Playon Brebes ini telah menjelma menjadi instrumen penting bagi Pemerintah Kabupaten Brebes dalam memacu sektor sport tourism, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perhelatan Bawang Merah Brebes Festival.
Wakil Bupati Brebes, Wurja, didampingi jajaran Kepala OPD Kabupaten Brebes serta Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Brebes, Ahmad Saeful Ansori, melepas langsung para peserta. Ia tampak sumringah melihat lautan manusia yang memenuhi jantung kota.
“Pemerintah Kabupaten Brebes sangat mendukung penuh kegiatan positif seperti Brebes Beres Fun Run 2026 ini, yang masih dalam rangkaian acara Bawang Merah Brebes Festival. Selain menggalakkan pola hidup sehat masyarakat, ajang ini juga menjadi sarana efektif untuk mengenalkan potensi wisata dan budaya Brebes ke tingkat yang lebih luas,” ungkap Wurja di sela-sela acara.
Panitia menyisipkan sentuhan identitas lokal yang kental. Setiap peserta yang berhasil masuk garis finis sebelum batas waktu (cut-off time) mendapatkan medali eksklusif dengan ukiran lanskap Gedung Kantor Pemerintahan Terpadu (KPT) Brebes.
Keunikan semakin terasa bagi 500 finisher pertama dari kedua kategori yang berhak membawa pulang telur asin, komoditas kuliner ikonik kebanggaan warga Brebes. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa Brebes tidak hanya kaya akan potensi pertanian, tetapi juga kaya akan budaya dan kearifan lokal.
Saeful Bakhtiar, mewakili panitia penyelenggara, mengapresiasi semangat para pelari yang datang dari berbagai kota. Baginya, antusiasme ini adalah sinyal positif bagi geliat ekonomi lokal.
“Melalui Brebes Beres Run 2026, kami tidak hanya ingin mengajak masyarakat hidup sehat, tetapi juga memperkenalkan potensi daerah serta memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal di Brebes,” tuturnya.
Keseruan tak berhenti di garis finis. Pesta hiburan rakyat langsung menyambut para pelari di area Alun-Alun. Mulai dari hentakan musik dalam sesi Cardio Dance hingga panggung hiburan yang menghadirkan artis lokal dan ibu kota, semuanya melebur menjadi satu perayaan warga.
Sinergi antara olahraga dan hiburan ini diharapkan mampu memberikan dampak pengganda (multiplier effect) bagi sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Brebes ke depannya. Dari langkah kaki di jalan raya hingga dampak yang dirasakan pelaku usaha lokal, Brebes Beres Run membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi mesin penggerak ekonomi sekaligus perekat kebersamaan masyarakat.








