BREBES – Dukuh Jalawastu, yang terletak di lereng perbukitan Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, bukan sekadar titik di peta. Ia adalah ruang hidup di mana masa lalu masih bernafas, tempat adat dan alam berdialog tanpa kata. Namun sayangnya, napas itu kini mulai terengah.
Selama ini, banyak yang keliru memaknai budaya. Ia sering dianggap sebatas upacara tahunan pesta sesaat bernama Ngasa, lalu kembali hening selama sebelas bulan berikutnya.
Padahal, menurut Ki Jalawastu Handoyo (39), budayawan muda asal Dukuh Jalawastu, budaya sejati bukanlah acara, melainkan cara hidup; bukan sekadar warisan, melainkan jalan menuju peradaban.
“Di Jalawastu, setiap batu, ladang, dan mata air adalah bagian dari sistem pengetahuan kuno cara leluhur menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan,” ujar Ki Handoyo.
Namun, arus modernisasi datang seperti angin kering dari utara. Anak-anak muda pergi ke kota, meninggalkan kampung halaman. Yang tersisa hanya para orang tua yang menjaga ritual dengan sisa tenaga.
“Tak ada uang masuk dari sektor wisata, tak tumbuh ekonomi baru dari kebanggaan lokal. Jalawastu tetap suci, tapi miskin. Ia seperti kitab tua yang dibaca tanpa makna oleh generasi yang lebih akrab dengan gawai ketimbang sawah,” ungkapnya.
Menurut Ki Handoyo, sudah saatnya Jalawastu berani menafsirkan ulang makna budaya bukan sebagai pusaka mati, melainkan energi hidup. Pembaruan harus dimulai dari desa, bukan dengan mengganti akar tradisi, tapi dengan menyiraminya agar tumbuh cabang baru.
Ia mencontohkan gagasan neomarhaenisme desa sebagai jalan tengah antara adat dan modernitas.
“Bung Karno pernah mengajarkan bahwa kekuatan bangsa lahir dari rakyat kecil yang berdaulat atas tanahnya sendiri. Semangat itu bisa diterapkan di Jalawastu, menjadikan desa bukan objek wisata, tapi subjek kebudayaan pusat pembelajaran di mana orang datang untuk belajar filosofi, bahasa, seni, dan ekologi hidup ala Sunda Brebes,” jelasnya.
Ki Handoyo membayangkan Jalawastu dapat tumbuh seperti “Pare Kampung Inggris” di Kediri, namun dengan ruh lokalnya sendiri “Kampung Budaya Jalawastu.”
“Di sana, para pemuda tak hanya mengajarkan bahasa, tapi juga nilai: cara menanam padi dengan doa, membuat anyaman, menembang dalam bahasa Sunda kasar yang mulai punah, hingga memahami makna spiritual dari hutan larangan. Pendidikan berbasis budaya dapat membuka jalur ekonomi baru tanpa menjual kesakralan Jalawastu,” katanya.
Dengan langkah tersebut, ia berharap Dukuh Jalawastu tidak lagi menjadi tempat yang ditinggalkan, melainkan tujuan untuk kembali. Pendidikan menjadi pintu, ekonomi menjadi jembatan, dan kebudayaan menjadi fondasi peradaban.
“Jika Jalawastu berani melangkah ke arah ini, maka ia bukan sekadar desa adat, tetapi desa peradaban. Sebuah titik cahaya baru di Brebes, tempat masa lalu dan masa depan saling bersalaman dengan damai,” pungkasnya.















