TANGGAMUS — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejatinya bukan sekadar persoalan memadamkan api ketika bencana telah terjadi. Jauh lebih penting adalah membangun kesadaran masyarakat agar api tidak pernah menjadi pilihan pertama ketika berhadapan dengan persoalan pembukaan maupun pembersihan lahan.
Perspektif itulah yang tampaknya hendak dibangun Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) melalui kegiatan komunikasi sosial (Komsos) bersama masyarakat di Pekon Batu Tegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah Pasis Seskoad memberikan penyuluhan mengenai bahaya Karhutla. Dua Pasis, yakni Mayor Inf Derry Sanjaya, S.T.Han dan Mayor Inf Sakti Oktora, S.T.Han, kemudian melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi kediaman masyarakat, masing-masing di rumah Bapak Ruslan dan Bapak Miardi.
Di titik inilah Komsos memiliki makna yang lebih substantif. Sebab komunikasi sosial bukan semata-mata kegiatan seremonial untuk bertemu masyarakat, melainkan dapat menjadi instrumen untuk memahami persoalan dari perspektif warga yang berhadapan langsung dengan kondisi lingkungan di wilayahnya.
Pencegahan Karhutla membutuhkan pendekatan semacam itu. Masyarakat bukan hanya objek yang menerima larangan, tetapi juga subjek yang memiliki pengetahuan lokal mengenai kondisi lahan, kebiasaan masyarakat, serta potensi munculnya titik api.
Bapak Miardi menyampaikan bahwa penyuluhan yang diberikan Pasis Seskoad memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, materi tersebut menambah pemahaman mengenai konsekuensi pembakaran lahan terhadap lingkungan, kesehatan, maupun keselamatan.
Harapan yang disampaikan Miardi juga cukup rasional. Masyarakat diharapkan semakin berhati-hati ketika melakukan pembersihan lahan dan mulai meninggalkan metode pembakaran. Penyuluhan yang dilakukan secara berkala dinilai penting agar pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi sesaat, melainkan berkembang menjadi kesadaran dan kebiasaan kolektif.
Dalam perspektif pengelolaan lingkungan, perubahan perilaku memang tidak lahir hanya dari satu kali penyuluhan. Ia membutuhkan proses edukasi, komunikasi yang berkelanjutan, sekaligus keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Karena itu, imbauan Mayor Inf Derry Sanjaya dan Mayor Inf Sakti Oktora agar masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan titik api atau indikasi yang berpotensi berkembang menjadi Karhutla.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan Karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat. Pemerintah, TNI, masyarakat, dan seluruh unsur terkait memiliki ruang tanggung jawab masing-masing. Semakin cepat potensi kebakaran diketahui, semakin besar pula peluang untuk mencegahnya berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Kegiatan Komsos di Pekon Batu Tegi pada akhirnya bukan hanya tentang kunjungan dari satu rumah ke rumah lainnya. Ada pesan yang jauh lebih penting, yakni membangun komunikasi dua arah antara aparat dan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Di tengah ancaman Karhutla yang selalu memiliki konsekuensi ekologis dan sosial, pendekatan preventif menjadi jauh lebih masuk akal dibandingkan menunggu api membesar kemudian sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab.
Melalui Komsos tersebut, Pasis Seskoad berupaya memperkuat sinergi dengan masyarakat sekaligus mendorong kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif. Pencegahan sejak dini bukan hanya lebih murah secara sosial dan ekologis, tetapi juga jauh lebih manusiawi daripada menghadapi kerugian setelah kebakaran terjadi. (vit )








