SIMEULUE – Dalam upaya membangun kesiapsiagaan bencana berbasis nilai-nilai tradisi, sebuah acara sosialisasi bertajuk “Kearifan Lokal Mitigasi Smong sebagai Media Edukasi” sukses diselenggarakan di Desa Latak Ayah Kecamatan Simeulue Cut (Simcut). Jum’at 03/07/26. Kegiatan positif ini mendapat dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Provinsi Aceh.
Hadir sebagai pemateri utama, Hasanul Amri, S.Pd., M.Pd. Gr., yang merupakan tokoh penggiat budaya Simeulue sekaligus perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh. Dalam paparannya, ia mengupas tuntas pentingnya mentransfer pengetahuan lokal seputar smong (istilah lokal masyarakat Simeulue untuk tsunami) kepada generasi muda guna meminimalisir risiko bencana di masa depan.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan unsur pemerintahan. Tampak hadir Camat Simeulue Cut, Feri Puput Hidayat, SH beserta jajarannya, para kepala desa (kades), Kepala Mukim, tokoh budaya, kalangan mahasiswa, siswa tingkat TK hingga SMA, serta pengurus dari Dayah Hamilul Qur’an Khalilullah Simcut.
Camat Simeulue Cut, Feri Puput Hidayat menekankan, pentingnya ingatan kolektif terhadap sejarah kebencanaan harus terus dirawat.
“Seminar ini sangat penting untuk mengingatkan kita kembali bahwa smong bukan sekadar istilah, namun merupakan kearifan lokal yang sangat bernilai. Kita perlu melestarikannya untuk anak cucu kita agar mereka senantiasa siap menghadapi dan terhindar dari dampak buruk bencana,” ujar Feri.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam keberlanjutan edukasi, di akhir kegiatan dilaksanakan penyerahan bahan bacaan secara simbolis. Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh menyerahkan bantuan berupa buku-buku edukatif yang diterima langsung oleh pengurus Yayasan Dayah Hamilul Qur’an Khalilullah.
Melalui pembagian literatur ini, diharapkan pesan-pesan mitigasi bencana berbasis adat dan budaya dapat tertanam kuat sejak dini, menjadikan masyarakat Simeulue Cut lebih tangguh dan siap siaga. (*)














