Jakarta – Media online porosdemokrasi.com dilaporkan hilang dari hasil pencarian Google setelah sebelumnya mengalami serangan DDoS berkepanjangan selama hampir enam bulan. Serangan tersebut menyebabkan gangguan serius terhadap operasional situs hingga akhirnya tidak lagi terindeks di mesin pencari.
Peristiwa ini bukan sekadar gangguan teknis. Ini adalah sinyal keras bahwa ruang demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Ketika media yang kritis terhadap kekuasaan mengalami serangan, dibungkam secara sistematis, lalu menghilang dari ruang publik digital, publik patut bertanya: siapa yang diuntungkan?
Di saat yang sama, berbagai persoalan nyata di lapangan terus terjadi. Rakyat menghadapi kesulitan ekonomi, akses pekerjaan semakin sempit, infrastruktur rusak, dan penanganan korban bencana belum merata. Kasus korupsi tetap muncul tanpa henti. Namun suara-suara kritis justru melemah atau menghilang, (4/5).
Ironisnya, sebagian media justru terdorong untuk menyajikan narasi yang aman dan memuji, bukan mengkritisi. Ini menciptakan ilusi stabilitas, sementara realitas di lapangan berkata sebaliknya.
Lembaga legislatif seperti DPR RI juga dinilai tidak menunjukkan sikap tegas. Alih-alih menjadi pengawas kekuasaan, mereka terlihat diam di tengah berbagai persoalan yang menyentuh kepentingan publik.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kebebasan pers bukan hanya terancam, tetapi bisa perlahan hilang tanpa disadari. Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah sedikit demi sedikit, saat kritik dibungkam dan kebenaran dipinggirkan.
Perlu diingat, kekuasaan bukanlah sesuatu yang abadi. Sejarah menunjukkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ketika suara rakyat diabaikan, ketika keadilan diabaikan, maka kepercayaan publik pun akan runtuh. Dan ketika itu terjadi, tidak ada kekuasaan yang cukup kuat untuk menahannya.














