Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Wisata  

Tari Rateeb Meuseukat Nagan Raya Raih Penghargaan Pariwisata Terbaik API Awards 2023, Disbudpar Aceh Berikan Apresiasi

tari
Pj Bupati Nagan Raya, Fitriany Farhas, AP, S.Sos, M.Si (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Kesenian daerah berupa Tari Rateeb Meuseukat asal Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, berhasil lolos sepuluh besar penghargaan pariwisata terbaik pada Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards ke-8 Tahun 2023.

Dengan masuknya tari rateeb meuseukat ke dalam nominasi terbaik di ajang API tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mengapresiasi atas prestasi yang diraih para peserta.

“Ini yang kita harapkan, agar semua ivent-ivent budaya dan wisata yang digelar di tingkat Nasional bahkan Internasional dapat kita ikuti dan dapat meraih juara, dengan begitu budaya kita semakin dilirik dan menjadi perhatian masyarakat,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah saat diwawancarai hariandaerah.com, Jumat (5/5/2023).

Prestasi yang telah diraih tersebut, sambung Nurlaila, perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.

Nurlaila juga berharap agar Tari Rateeb Meuseukat dapat didaftarkan dalam festival ivent Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 yang akan digelar pada bulan Agustus mendatang.

Sebelumnya, Pj Bupati Nagan Raya, Fitriany Farhas mengatakan perolehan dalam ajang bergengsi tersebut merupakan salah satu kebanggaan bagi masyarakat Nagan Raya khusnya dan masyarakat Aceh umunya, karena telah mampu bersanding di tingkat nasional.

“Alhamdullah, Rateeb Meuseukat masuk dalam kategori atraksi budaya pada ajang API Awards 2023,” kata Pj Bupati Nagan Raya, Fitriany Farhas, Kamis (4/5/2023).

Menurutnya, Rateeb Meuseukat tersebut mendapat penghargaan sebagai 10 nominasi terbaik API Awards 2023 tingkat nasional.

“Semoga kesenian Nagan Raya yang telah masuk dalam nominasi API Awards 2023 ini nantinya menjadi yang terbaik,” ujarnya.

Perlu diketahui, selesain tari Rateeb Meuseuka, Batu giok Aceh juga masuk ke dalam nominasi pariwisata kategori cenderamata dan berhasil lolos sepuluh besar penghargaan pariwisata terbaik pada Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards ke-8 Tahun 2023.

Dengan masuknya dua nominasi pariwisata Nagan Raya merupakan sebuah pencapaian bersama, sehingga hal tersebut perlu dukungan oleh semua pihak agar terus dikembangkan dimasa mendatang.

“Saya meminta dukungan masyarakat, agar dapat terus mendukung dua nominasi sampai pada malam puncak API 2023, dengan cara melakukan voting baik melalui SMS, Instagram serta Youtube,” pungkasnya.

rateeb meuseukat
Penampilan rateeb meuseukat. (Foto: direktoripariwisata.id)

Asal-usul Reteeb Meseukat

Provinsi Aceh memiliki berbagai kesenian tradisional yang sampai sekarang masih terus lestari. Beberapa kesenian di antaranya merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal dan juga agama Islam, salah satunya adalah Tari Rateeb Meuseukat.

Tarian ini berkembang di Kabupaten Nagan Raya, yang dahulunya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Barat, khususnya dalam lingkungan etnis Aceh. Eksistensi Tari Rateeb Meuseukat ini berjalan beriringan dengan perkembangan masyarakat, sehingga berpotensi terjadinya perubahan.

Melansir dari liputan6.com, penamaan Tari Rateeb Meuseukat ini rupanya berasal dari Bahasa Arab yaitu “rateb” asal kata “ratib” yang artinya ibadah. Sedangkan Meuseukat berasal dari kata “sakat” yang berarti diam.

Gerakan dalam tarian ini diciptakan oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya). Sementara itu syairnya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala yang merupakan seorang ulama di Seunagan pada abad ke-19.

Pada awalnya, tarian Rateeb Meuseukat dimainkan sesudah mengaji atau pelajaran agama saat malam hari. Tarian ini juga sebagai salah satu media penyebaran agama Islam atau media dakwah. Kemudian, tarian ini berkembang pesat salah satunya dipertunjukkan dalam upacara keagamaan dan hari-hari besar dan upacara pernikahan.

Tari Rateeb Meuseukat memiliki keunikan sendiri dibandingkan dengan tarian tradisional lainnya. Tarian ini tidak menggunakan alat musik sebagai media pengiringnya, melainkan menggunakan vokal yang dibawakan syahi dan anggota tubuh penari menjadi alat musiknya.

Melansir dari artikel “Keberadaan Tari Rateb Meuseukat Pada Masyarakat Aceh di Kabupaten Nagan Raya” karya Ulfatun Hasanah, tarian ini menyajikan sebuah gerakan seirama menggambarkan kekompakan, keuletan, kebersamaan, kekuatan, dan juga keselarasan.

Tak hanya itu, busana yang digunakan oleh para penari pun juga terlihat begitu mewah, dengan balutan motif-motif khas Aceh. Banyak orang masih menganggap tarian ini adalah Tari Saman. Padahal, Tari Rateb Meuseukat sendiri dibawakan dalam bahasa Aceh, sedangkan Tari Saman memakai bahasa Gayo.

Syair Tari Meuseukat memiliki isi dan kandungan yang kental dengan ajaran agama Islam. Terdapat sanjungan dan pujian kepada Allah SWT dan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW.

Tarian ini biasa dimainkan oleh wanita berjumlah mulai dari 6 sampai 12 orang penari. Ditambah dengan 2 orang yang berperan sebagai pelantun syair menggunakan Bahasa Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *