Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

TMMD ke-126 di Simeulue: Ketika Tentara Datang Bukan dengan Senjata, Tapi dengan Cangkul dan Cinta

Para Prajurit TNI sedang melaksanakan gotong royong dengan samangat membuat jalan dan jembatan kayu dalam kegiatan TMMD ke-126 di Simeulue. (Foto: dok. Komandaka/Hariandaerah)
Para Prajurit TNI sedang melaksanakan gotong royong dengan samangat membuat jalan dan jembatan kayu dalam kegiatan TMMD ke-126 di Simeulue. (Foto: dok. Komandaka/Hariandaerah)

Oleh: KOMANDAKA / Wartawan hariandaerah.com

Kabut pagi masih bergelayut di langit Desa Ana’ao, Kecamatan Teupah Selatan, ketika suara cangkul terdengar pelan menembus sunyi. Di tengah hamparan hijau perbukitan, beberapa prajurit TNI berpakaian loreng menunduk dalam kerja, bahu mereka basah oleh peluh. Tak ada dentuman senjata, tak ada barisan perang. Yang terdengar hanyalah tawa warga dan ritme gotong royong yang menggema di pelosok Simeulue itu.

Aku berdiri di tepi jalan tanah yang sedang diperkeras. Sebagai jurnalis yang mengikuti langsung kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126, aku menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar program pembangunan. Di tanah terpencil yang dikelilingi samudra, aku melihat simbol kehadiran negara yang menyatu dengan rakyatnya.

 

TMMD ke-126 di Simeulue dibuka oleh Wakil Bupati Simeulue, Nusar Amin, pada Rabu (8/10/2025), dan resmi ditutup oleh Kapoksahli Pangdam Iskandar Muda, Brigjen TNI Bambang Sulistyo Hery, S.Sos., M.Han, pada Kamis (6/11/2025). Selama 30 hari penuh, para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD membaur bersama masyarakat Desa Ana’ao bekerja, makan, dan beristirahat di rumah warga, tanpa sekat pangkat dan jabatan.

Mengusung tema “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah”, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Dansatgas TMMD, Letkol Arm Qomarus Zaman, S.T., M.I.P., M.H.I., yang juga Dandim 0115/Simeulue.

“Kami datang bukan sekadar bekerja, tapi untuk menyatu dengan rakyat,” ujar Letkol Qomarus Zaman, saat aku temui di lokasi pembangunan jalan.

“Membangun Simeulue bukan hanya soal infrastruktur, tapi tentang menanamkan semangat kebersamaan,” tambah orang nomor satu di Kodim Simeulue itu.

Jalan, Jembatan, dan Asa Baru di Ana’ao

Hasil kerja TMMD kali ini bukan main-main. Selama satu bulan, Satgas TMMD bersama masyarakat berhasil meningkatkan jalan sepanjang 2.570 meter, membangun delapan jembatan kayu, dua unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), serta lima titik sumur bor untuk kebutuhan air bersih.

Namun yang lebih berharga dari semua itu adalah lahirnya kembali semangat gotong royong yang mulai pudar di tengah modernisasi. Di setiap titik pembangunan, warga dan prajurit bekerja berdampingan ibu-ibu memasak di dapur umum, anak-anak membawa air untuk para pekerja, sementara bapak-bapak memanggul batu dan pasir bersama anggota TNI.

 

Di sela kesibukan, aku sempat berbincang dengan Siti Adamsyah, seorang janda berusia 63 tahun, penerima bantuan rumah layak huni dari program TMMD. Dengan mata berkaca-kaca, ia menunjukkan rumah barunya yang kini berdiri kokoh di tepi jalan desa.

“Dulu rumah saya hampir roboh, atap bocor, lantai bolong. Tapi sekarang Allah kirimkan bantuan lewat bapak-bapak TNI, Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua,” ujarnya sambil menahan tangis.

IMG 20251111 223553 575 copy 4000x1916 scaled

Mendengar itu, aku tersadar TMMD bukan hanya tentang beton dan kayu, tetapi tentang menghidupkan harapan. Tentang memberi rasa aman dan martabat kepada rakyat kecil seperti Ibu Siti yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Semangat yang Menyatu di Ujung Samudra

Setiap sore, setelah bekerja seharian, aku melihat para prajurit duduk santai di beranda rumah warga. Mereka berbagi cerita, bercanda dengan anak-anak, dan mendengarkan keluh kesah penduduk setempat. Tak ada jarak. Tak ada perbedaan antara tentara dan rakyat.

Dari wajah mereka terpancar rasa lelah yang jujur lelah yang lahir dari pengabdian. “Kalau bukan kita yang datang ke sini, siapa lagi?” kata salah seorang prajurit muda sambil membersihkan sepatu berlumpur.

Aku tersenyum kecil. Di tengah kesederhanaan itu, aku melihat arti sejati dari semboyan “TNI dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”

Gotong Royong Sebagai Napas Pembangunan

Dalam penutupan TMMD ke-126, Brigjen TNI Bambang Sulistyo Hery, S.Sos., M.Han menyampaikan pesan yang menegaskan makna sesungguhnya dari kegiatan ini.

“TMMD ini bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tapi juga membangun kebersamaan dan semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat,” ujarnya dalam amanat penutupan kegiatan di lapangan Bola Kaki Desa Ana’ao.

“Melalui TMMD, kami ingin kehadiran TNI benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Inilah bentuk nyata kemanunggalan yang menjadi kekuatan bangsa,” pungkasnya.

Kata-kata itu menancap kuat di benakku. Gotong royong bukan sekadar warisan budaya ia adalah roh bangsa ini, yang menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah tantangan zaman.

Refleksi: Menemukan Makna Kemanusiaan di Lapangan TMMD

Sebagai wartawan, aku sudah sering meliput berbagai kegiatan dari bencana alam hingga agenda pemerintahan. Namun, TMMD di Simeulue memberikan pengalaman berbeda. Di sini, aku tak hanya menjadi saksi pembangunan fisik, tapi juga menyaksikan kebangkitan nilai-nilai kemanusiaan: persaudaraan, ketulusan, dan cinta tanah air yang lahir dari kerja bersama.

Di ujung pulau kecil yang dikelilingi lautan ini, aku belajar bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan diukur dari gedung tinggi atau jalan aspal yang mulus, melainkan dari kemampuan rakyatnya untuk bergandeng tangan dalam membangun masa depan.

Dari kegiatan ini, aku menemukan makna kemanusiaan yang sesungguhnya, bahwa cinta kepada tanah air bisa tumbuh dari cangkul, dari peluh, dan dari kebersamaan yang sederhana.

TMMD ke-126 di Simeulue telah berakhir, tapi jejaknya akan abadi di hati rakyat, di langkah prajurit, dan di setiap jengkal tanah yang kini berubah menjadi harapan baru.

TMMD bukan hanya membangun desa, TMMD membangun manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *