Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Warga Pagelaran Utara Pringsewu Hanya Jadi Penonton: Air PDAM dari Tanah Sendiri Tak Tersentuh

Ilustrasi PDAM
Gambar ilustrasi (sumber google)

PRINGSEWU, Hariandaerah.com – Harapan sepuluh pekon di Kecamatan Pagelaran Utara kabupaten Pringsewu untuk menikmati air bersih dari PDAM Way Sepagasan masih sebatas mimpi. Sumber air yang berasal dari tanah mereka sendiri justru mengalir jauh ke luar wilayah, meninggalkan ribuan warga lokal dalam kekeringan dan tanda tanya besar, Kamis (1/5/25).

Sobri, warga Pekon Fajar Mulia, angkat suara dengan nada getir.

“Kami ini seperti orang asing di tanah sendiri. Air itu keluar dari bumi kami, tapi kami cuma bisa lihat, sementara yang lain menikmati. Kami masih harus gali sumur, nunggu hujan, atau beli air. Ini bukan soal fasilitas, ini soal keadilan,” ujarnya dengan suara tertahan.

BACA JUGA:  Tak Terima Dilaporkan, Herman Lapor Balik Atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik

Sejak PDAM Way Sepagasan beroperasi, masyarakat Pagelaran Utara yang menjadi sumber utama mata air justru tidak menikmati setetes pun. Padahal, ribuan rumah di luar wilayah Pagelaran sudah dialiri air bersih dari sana. Realita ini jelas menyisakan luka dan ironi yang dalam.

“Pemerintah selalu bilang sudah berupaya maksimal. Tapi nyatanya, air itu tetap tidak mengalir ke sini. Kalau ini yang disebut maksimal, mungkin kita memang tidak pernah dihitung dalam skala prioritas,” sambung Sobri dengan nada sinis.

Warga pun bertanya, untuk siapa sebenarnya pembangunan itu dilakukan? Jika air yang keluar dari tanah sendiri saja tidak bisa dinikmati, lantas apa makna kehadiran negara di tengah rakyat?

BACA JUGA:  Ribuan Mahasiswa dan Rakyat Aceh Gelar Aksi Damai di Gedung DPRA

Di tengah gencarnya kampanye pemerataan pembangunan dan kesejahteraan, Pagelaran Utara justru menjadi potret nyata dari ketimpangan. Ketika sumber kehidupan berada tepat di bawah kaki namun tak bisa digapai, di sanalah nurani harus bicara.

Apakah ini yang disebut kemajuan? Ataukah hanya permainan angka dan peta, di mana suara-suara kecil seperti di Fajar Mulia sengaja dibisukan?. (Davit)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *