Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Sosial  

10 Tahun C-Four: Harapan Tak Pernah Padam untuk Anak-Anak Pejuang Kanker di Aceh

IMG 20250301 195057 1
Ratna Eliza, Pendiri C-Four bersama dua anak penderita kanker duduk bercengkrama ditemani sang pemerhati sosial di Aceh, Umar Hakim. (Foto:hariandaerah.com/Istimewa).

Langit Banda Aceh tampak kelabu. Hujan turun rintik-rintik, menciptakan harmoni suara di atap rumah singgah sederhana di Jalan Sepat, Lampriet.

Di dalam rumah itu, aroma teh hangat bercampur wangi minyak kayu putih menguar di udara.

Seorang ibu memeluk anaknya erat, mengusap kepalanya yang tak lagi berambut.

Seorang bocah lain duduk bersandar di pangkuan ayahnya, wajahnya pucat, tetapi matanya menyiratkan keteguhan.

Di sudut ruangan berkarpet minimalis itu, Ratna Eliza duduk bersila, tangannya sesekali mengusap sudut mata yang mulai berkaca-kaca.

“Dulu saya kira anak-anak hanya perlu bahagia, bermain, dan bercanda. Tapi di sini, saya melihat kenyataan lain,” ucapnya lirih.

Perjalanan Seorang Ibu untuk Anak-Anak Pejuang Kanker

Ratna Eliza bukan dokter, bukan juga tenaga medis. Ia hanya seorang ibu yang kebetulan melihat kenyataan yang terlalu perih untuk diabaikan.

Perjalanannya membantu anak-anak penderita kanker dimulai secara tak sengaja, satu dekade lalu, saat ia bertemu seorang bocah pengidap kanker getah bening.

Anak itu seharusnya dirujuk ke RS Kanker Dharmais, Jakarta. Tetapi, ibunya seorang janda, hanya bisa menatap pasrah.

Tak ada biaya, Ratna tak berpikir panjang. Dengan sisa uang di rekeningnya, ia membelikan tiket dan mencarikan donasi.

IMG 20250301 185711
Ratna Eliza dengan beberapa anak penderita kanker bersama orang tua dan para relawan, Februari 2025.

“Saya pikir hanya satu anak. Saya bantu, lalu selesai. Tapi ternyata, Tuhan menunjukkan lebih banyak wajah kecil yang butuh pertolongan,” kenangnya.

Dari satu pasien ke pasien lain, dari satu cerita ke cerita lain, Ratna akhirnya mendirikan Children Cancer Care Community (C-Four) pada tahun 2014.

Sebuah komunitas yang ia harap menjadi secercah harapan bagi anak-anak penderita kanker dan tumor di Aceh.

Rumah Singgah, Rumah Harapan

Saat memasuki rumah singgah C-Four, yang saat ini masih berstatus kontrak sejak 2015, pengunjung akan disambut oleh ayunan kecil di halaman depan.

BACA JUGA:  Tuduh Polisi Jual BB Sabu, Pria Pernah Ngaku Nabi Isa Ini Dibekuk di Aceh Timur

Di ruang tamu berukuran 4×6 meter, anak-anak berbaring lemah, beberapa tertidur dalam dekapan ibu mereka.

Di sini, mereka singgah sejenak sebelum atau sesudah menjalani perawatan di Rumah Sakit Zainoel Abidin.

Ratna mengakui, satu hal yang masih menjadi impiannya adalah memiliki rumah singgah permanen.

“Saya ingin anak-anak ini punya tempat yang tidak terancam harus pindah setiap kali kontrakan habis. Saya ingin mereka punya ruang yang benar-benar bisa mereka sebut ‘rumah’,” katanya.

Namun, tanah untuk membangun rumah itu belum ada.

“Jika ada dermawan yang mau membantu, bukan untuk saya. Tapi untuk anak-anak ini, agar mereka bisa berjuang dengan sedikit lebih nyaman,” tuturnya.

IMG 20250301 185552
Pendiri C-Four, Ratna Eliza didampingi para Relawan dan anak penderita kanker foto bersama didepan Rumah Singgah, Februari 2025.

Anak-Anak yang Mengajarkan Ketegaran

Setiap anak di rumah singgah ini memiliki kisah sendiri. Ada yang berasal dari pelosok Aceh, ada yang datang dengan tubuh lemah, ada pula yang sudah kehilangan satu matanya karena kanker retinoblastoma.

Ratna bercerita tentang seorang anak dari Subulussalam yang datang dengan kondisi mata bengkak dan hampir keluar.

“Dia menangis, tapi yang keluar bukan air mata. Darah dan nanah,” suaranya bergetar mengingat kejadian itu.

Suaminya, saat itu, sempat bertanya, “Kalau kamu tidak kuat, berhenti saja.” Tapi bagi Ratna, berhenti bukan pilihan. “Kalau saya berhenti, siapa yang akan membantu mereka?”

Kebaikan yang Tak Pernah Berhenti

Sepanjang perjalanan C-Four, banyak tangan-tangan tak terlihat yang membantu.

Seorang dermawan pernah menelepon, bertanya apa yang dibutuhkan rumah singgah. Ratna menjawab, “Kami butuh kamar tambahan.” Beberapa hari kemudian, seorang konsultan datang membawa tukang dan bahan bangunan. Tak lama, tiga kamar baru pun berdiri.

BACA JUGA:  Peringati HUT RI Ke-78, Pangdam IM Pimpin Apel AKRS

Di lain waktu, ada anak-anak yang datang tanpa tempat tidur.

Tak sampai seminggu setelah Ratna bercerita tentang kebutuhan itu, seseorang mengirimkan kasur baru.

“Saya percaya, Allah punya cara-Nya sendiri untuk menolong mereka,” katanya.

Sepuluh Tahun Perjalanan, Lebih dari 500 Anak Ditolong

Hingga tahun 2024, lebih dari 500 anak dengan kanker, tumor, jantung bocor, hingga gizi buruk telah ditampung di rumah singgah ini.

“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa. Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang baik untuk membantu,” ujarnya.

Kini, C-Four terus berjuang, bertahan dengan dana yang berasal dari sumbangan para donatur melalui rekening “BSI – 2020151521 atas nama C-Four Aceh”.

Tak ada bantuan tetap, tak ada sponsor besar. Hanya kepercayaan dan ketulusan yang membuat tempat ini tetap berdiri.

Di luar, hujan masih turun. Tapi di rumah singgah kecil ini, ada kehangatan yang tak bisa dipadamkan oleh cuaca. Ada harapan yang terus menyala, bahkan di antara keterbatasan.

Ratna tersenyum, menatap anak-anak yang tertidur lelap di pelukannya.

“Kita tidak tahu sampai kapan mereka bertahan. Tapi selama mereka masih ada di sini, biarkan mereka merasa dicintai.”

Sebuah janji yang tak pernah berubah, meski waktu terus berjalan.

Penulis: Umar Hakim, seorang pemerhati sosial dan Jurnalis di Aceh.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *