PRINGSEWU – Janji tinggal janji. Kalimat itu kini bergema keras di lorong-lorong becek dan berbau menyengat Pasar Terminal Pringsewu, atau yang lebih dikenal dengan nama Pasar Sarinongko. Janji manis Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, untuk memperbaiki kondisi pasar hingga kini tak kunjung ditepati, membuat pedagang dan pembeli menelan kekecewaan mendalam, Sabtu (3/5/25).
“Mana janji Bupati Riyanto Pamungkas yang katanya akan mengaspal jalan sebelum terpilih?” keluh Bu Eti, pedagang sayuran, Selasa 18 Maret 2025, seperti dikutip dari Medianasional.id. “Pedagang Pasar Terminal Pringsewu Menunggu Janji Bupati”
Keluhan Bu Eti bukan sekadar retorika pedagang kecil. Ini adalah jeritan dari denyut nadi ekonomi rakyat kecil yang kian tercekik oleh kondisi pasar yang memprihatinkan. Jalan berlubang, genangan air, dan bau menyengat menjadikan aktivitas jual beli bak mimpi buruk, terlebih saat musim hujan tiba.
Berdasarkan pantauan langsung tim media ini, kondisi pasar tidak hanya semrawut, becek, dan kotor. Saluran irigasi di sekitar pasar pun tampak rusak parah. Banyak yang tersumbat hingga menyebabkan air meluap ke badan jalan.
Lebar saluran yang kecil dan tidak berfungsi optimal memperparah genangan, membuat para pedagang harus berjibaku dengan air kotor setiap hari.
Aliran yang seharusnya mengalir lancar justru menjadi sumber genangan baru. Lumpur dan sampah menumpuk, menciptakan pemandangan kumuh yang jauh dari standar sanitasi layak.
“Biasanya pedagang keliling beli dua kilogram, sekarang cuma satu. Sepi pembeli. Harga naik, tapi pembeli makin pelit karena penghasilan mereka juga turun,” tutur Bu Eti.
Kondisi ini memukul pendapatan pedagang. Seolah belum cukup, mereka juga dibebani iuran kebersihan dan keamanan, yang ironisnya tak berbanding lurus dengan kebersihan dan keamanan pasar.
Para pedagang pun menyuarakan protes terhadap dominasi pihak swasta yang membuka usaha di sekitar pasar. Lahan parkir yang diubah menjadi tempat usaha mempersempit ruang gerak pedagang tradisional, menambah sesak napas mereka yang bertahan dengan lapak seadanya.
“Kami ini bayar iuran tiap bulan, tapi pasar makin semrawut. Di mana tanggung jawab pengelola swasta dan pemerintah daerah?” tanya seorang pedagang yang enggan disebut namanya.
Kondisi ini tidak hanya merugikan pedagang, tapi juga merusak kenyamanan pembeli. Ita, warga Pringsewu, menyatakan ketidaksukaannya berbelanja di pasar tersebut.
“Kalau bukan karena kepepet, saya lebih baik ke swalayan. Di sini becek, bau, dan tidak nyaman,” keluhnya.
Pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi. Ia adalah ruang perjumpaan budaya, denyut ekonomi lokal, dan simbol ketahanan ekonomi rakyat. Ketika pemerintah lalai, yang mati bukan hanya infrastruktur, tapi juga kepercayaan publik.
Warga dan pedagang kini menagih janji yang dulu digaungkan penuh semangat saat kampanye. Jika janji tinggal janji, maka sejarah akan mencatat, Bupati Riyanto Pamungkas adalah pemimpin yang membiarkan pasar rakyat membusuk di tengah diam kekuasaannya.
( Davit )








